Benarkah Pendidikan Luar Sekolah Seperti ini

Kalau mau jujur para lulusan SMA yang terlanjur masuk ke jurusan PLS-FIP itu adalah jenis lulusan yang berpikir “asal kuliah daripada nganggur bikin sedih orang tua dan malu pada tetangga. Ada juga yang Ëœterjerumusâ„¢ masuk PLS karena tidak diterima di jurusan lain yang lebih Ëœpasaranâ„¢ dan atas nama pertimbangan ekonomi keluarga , daripada kuliah di kampus swasta mahal, lebih baik di kampus negeri yang relatif murah dan bergengsi di mata masyarakat tertentu (desa) yang masih rendah tingkat pemahamannya tentang pendidikan yang bermutu, dikiranya kalau kuliah di kampus negeri pasti akan menjadi pegawai negeri. Sebuah anggapan salah yang masih punya banyak penganutnya.
Terbukti, dalam komentar-komentar di dindingnya imadiklus banyak yang bernada pesimis, masih bertanya tentang peluang masa depan setelah nanti menyandang gelar sarjana PLS. Mereka merasa gamang akan kompetensi yang begitu luas namun jarang ada formasi untuk lulusannya ketika ada penerimaan pegawai baru di berbagai instansi negeri. Bahkan saking tidak dikenalnya, lahan PLS banyak diisi oleh sarjana non PLS, anehnya pejabat jebolan PLS tidak berdaya dibuatnya. Mahasiswa PLS pun banyak yang belum akrab dengan habitatnya, masih serba canggung ketika harus berkencan dengan praktek-praktek ke-PLS-an di lapangan yang sering kali berbenturan dengan mata kuliah yang di dongengkan oleh wak dosen yang bergelar tinggi, sehingga tidak jarang akronim PLS sering diplesetkan untuk menghibur diri, seperti Pendidikan Lucu Sekali, Pendidikan Luas Sekali, Pendidikan Luwes Sekali, Pendidikan Langsung Selesai, Pendidikan Lama Sekali, Pendidikan Lemah Sekali dan lainnya sesuai dengan selera humor dan pengalaman masing-masing individu.
Kalau mau jujur, hampir semua lulusan PLS berharap menjadi PNS, entah itu jadi dosen, staf di bidang PLS, seperti pamong belajar atau masuk ke Instansi lain, asalkan jadi PNS. Inilah sisa-sisa mental priyayi orde lama yang bangga kalau menjadi PNS, sehingga apapun dilakukan agar bisa masuk, termasuk menggunakan metode 4D (Duit, Dulur, Doa, Dukun). Itulah realitas yang masih sering terdengar dan ditemui di Republik Indonesia yang sedang merayakan ulang tahunnya ke 66.
Hampir tidak ada mahasiswa PLS yang sejak semester awal bercita-cita menjadi ketua PKBM, jadi Tutor, jadi doktor, jadi pejabat dan jadi wiraswastawan sukses sekalipun, semuanya akan berproses dengan sendirinya mengikuti waktu dan takdirnya, untuk kemudian masing-masing melangkah menuruti panggilan nasibnya menunaikan tugas-tugas kemanusiaan sebagai makhluk hidup ciptaan Tuhan.
Agar nada-nada pesimis tidak lagi terdengar dan beredar di fesbuknya imadiklus, ada baiknya pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan PLS maupun rezim imadiklus berkolaborasi dengan IPABI (Ikatan Pamong Belajar Indonesia, yang banyak dihuni oleh alumni PLS) dan IKA-PLS untuk bersemuka dengan akrab bersahabat sambil ngemil telo goreng, saling berbagi cerita tukar pengalaman menggalang silaturahim untuk membangun “Spirit dâ„¢Corp antar sesama warga PLS. Apa salahnya sih kalau kita meniru kelakuan Kagama (UGM), IKA-UI, IKA-ITS, IKA-Unair dan lainnya yang menguasai berbagai lini dunia usaha dan dunia industri serta jagat perpolitikan di Indonesia ini.
Ya, siapa tahu dari hasil kongkow-kongkow dalam suasana kesetaraan itu terjadi transaksi yang saling menguntungkan dan menguatkan yang tidak menutup kemungkinan terjadinya Ëœperjodohanâ„¢ bagi yang masih jomblo, asal bukan sebagai wahana Cinta Lama Bersemi Kembali yang mengantarkan ke jalan perselingkuhan. Wallahu aâ„¢lam bish showab. [eBas/humas ipabipusat_online]

You might also like More from author

1 Comment

  1. winda says

    HM… Mudah2an artikel ini dibaca para alumni2 PLS. Saya sependapat dgn artikel ini. Berharap penuh buat pemerintah utk terus memperhatikan para alumni PLS dan khususnya para adik2 Stambuk yang masih berjuang lulus dr Jurusan PLS. 🙂

Leave A Reply

Your email address will not be published.