Buku-Buku PLS yang kebanyakan masih Produk lawas

Jujur, ketika bermain-main di perpustakaan, akan ditemui buku-buku PLS yang kebanyakan masih produk lawas, kalau pun ada, hanya dicetak ulang, dan sam...

PRA-PASCA SEMINAR NASIONAL HMJ PLS UM
Pernyataan Sikap Lanjutan Imadiklus Indonesia

gaya 3Jujur, ketika bermain-main di perpustakaan, akan ditemui buku-buku PLS yang kebanyakan masih produk lawas, kalau pun ada, hanya dicetak ulang, dan sampulnya disesuaikan dengan proyek yang mendanai. Waduh, ada penggemar tulisan saya di nonformalvoices.blogspot.com maupun di ebasonline.blogdetik.com, mengatakan bahwa, tulisan saya Sesat pikir, dan tidak ilmiah. Waduh, terus saya harus bagaimana?, haruskah saya kembali belajar sebelum menulis, membaca buku terlebih dulu sebelum menuangkan ide dalam bentuk tulisan?. Waduh, jangan-jangan blog saya juga dianggap tidak ilmiah isinya, pun tidak menginspirasi pembacanya. Yah, harap dimaklumi, memang blognya orang goblok.

Sementara yang namanya ide itu datang dan pergi begitu saja sejalan dengan peristiwa yang aktual dan menarik untuk dikritisi, jika tidak segera diikat dalam sebuah tulisan, maka peristiwa yang menarik itu menjadi tidak menarik lagi, basi. Sehingga, untuk mengangkatnya kembali harus direkayasa, menggabungkan dengan peristiwa lainnya yang sejenis, biar tidak dinilai tambah sesat pikir oleh alumni PLS.
Masalahnya, jika kesesatan pikir saya harus diperbaiki terlebih dulu dengan cara membaca, mencari referensi, mencari definisi ilmiah sesuai pendapat pakar yang membidangi, maka dipastikan saya tidak akan pernah menulis apa-apa, dan orang pun tidak akan tahu keberadaan saya sebagai alumni PLS yang berani nulis walau tidak ilmiah, walau sesat pikir,  cogito ergo sum.
Kalau saya harus membetulkan kesesatan pikir yang disangkakan itu, sementara saya sendiri tidak tahu dimana sesat pikirnya, maka saya akan melewatkan peristiwa yang menarik untuk dikritisi  sesuai dengan kemampuan daya nalar saya, bukan daya nalar pembaca tulisan saya. Dan yang penting, apa yang saya tuliskan itu bisa dimengerti oleh mereka yang berkesempatan membaca. Sementara bagi yang tidak mampu memahami tulisan saya karena sesat pikir, ya monggo, silahkan mencari bacaan yang sehat dan bermutu, tidak menyesatkan pikiran sesuai keyakinan dan kepercayaan masing-masing.
Dalam sebuah karya jurnalistik, data dan fakta harus sahih untuk kemudian dikembangkan sesuai selera penulisnya, sekali lagi bukan selera pembacanya. Karena menulis itu sifatnya pribadi yang bertujuan diantaranya menghibur, mendidik, dan mengingatkan bahwa ada sesuatu yang perlu dibenahi. Sementara masalah 5W+1H itu tidak wajib ada semua seperti tulisan berita (straight news) dan tidak wajib diberi referensi dari pakar atau dicarikan buku referensi seperti halnya karya ilmiah yang oleh para akademisi sering diplagiasi, seperti yang dilakukan pakar sekelas Anggito Abimanyu yang juga bekerja di kementerian “urusan surga neraka”, bukan alumni PLS yang sering tidak laku ijasahnya saat prosesi penerimaan pegawai negeri sipil.
Konon, ada yang bilang bahwa aktivitas menulis (menulis apa saja, baik jelek) merupakan upaya ‘memahat peradaban’ ataupun mendokumentasikan laku hidup masa kini yang segera berlalu, baik itu laku hidup yang lucu, pilu, galau, maupun kacau. Namun apakah saya sedang memahat, pun mendokumentasikan cerita kehidupan?, saya tidak tahu. Yang terpenting saya akan tetap menulis, dan menulis apa saja yang saya suka. Bahwa tulisan saya nanti akan dibaca orang atau tidak, itu bukan urasan saya. “Salah sendiri mau membaca, emang gua pikirin”.
Pokok’e nulis, pokok’e nulis, pokok’e nulis. Itu prinsip. Apakah tulisan saya ilmiah, semi ilmiah, sesat pikir, sesat nalar, sarkasme, tidak terstruktur, ngacau, ngarang, tidak mencerminkan intelektualitas, dan sebutan sinis lainnya. Monggo saja, terserah yang menilai. Terima kasih sudah mau membaca tulisan saya. Itulah resiko tulisan yang ditebar melalui media sosial.
Waduh, jangan-jangan tulisan ini pun dimaknai sebagai tulisan yang tercipta dari pikiran sesat, jangan-jangan tulisan yang mengangkat masalah keseharian dan disajikan dengan aneka gaya selingkung khas penulis, dianggap sebagai pikiran yang tidak ilmiah, tulisan yang tidak mencerminkan sarjana alumni PLS (memangnya alumni PLS yang berani menulis dengan gaya sesat pikir, ada berapa orang?).
Atau, apakah ada jaminan bahwa seluruh alumni PLS itu tulisannya berkadar ilmiah yang memperkaya dunia PLS?.  Jujur, ketika bermain-main di perpustakaan, akan ditemui buku-buku PLS yang kebanyakan masih produk lawas, kalau pun ada, hanya dicetak ulang, dan sampulnya disesuaikan dengan proyek yang mendanai. Artinya disini, alumni PLS yang tidak pernah sesat pikir dan selalu berpikir ilmiah pun belum bisa menginspirasi lahirnya pemikiran baru yang bisa menjawab keterpurukan ijasah PLS di dunia kerja. Waduh, jika semua tulisan dilarang sesat pikir dan wajib berbobot ilmiah, pasti dunia tidak akan ramai, tidak berwarna…[eBas]
di posting ulang dari 
Sumber http://nonformalvoices.blogspot.com/2014/04/karya-tulis-tidak-ilmiah-itu-sesat-pikir.html

COMMENTS

WORDPRESS: 0