Cultural Studies

0
Dibaca 1.995

Arus-arus intelektual Cultural Studies

Ide-ide yang dipandang paling berpengaruh dalam cultural studies, antara lain Marxisme, kulturalisme, strukturalisme, pascastrukturalisme, psikoanalisis dan politik perbedaan (yang termasuk didalamnya feminisme, teori ras, etnisitas, dan pascakolonialisme).

Marxisme dan sentralitas kelas

Marx (1961) beranggapan mayoritas utama manusia adalah produksi sarana subsistensi melalui kerja. Kerja dan bentuk-bentuk organisasi sosial yang dibentuk oleh produksi material, yaitu cara produksi, adalah kategori uatama dalam Marxisme, karena prioritas ditentukan oleh produksi, maka aspek-aspek lain dari hubungan antar manusia – kesadaran, kebudayaan, dan politik dianggap ditentukan oleh relasi ekonomi. Marx membahas transformasi dari cara produksi kuno menjadi produksi feodal dan menjadi produksi kapitalis, konflik kelas yang mendorong terjadinya tranformasi dan pergantian.

Kapitalisme

            Kapitalisme bertujuan meraih keuntungan dan melakukannya dengan mengisap niali lebih dari pekerja, pembagian kelas yang mendasar dalam kapitalime adalah kelas borjuis dan kelas proletar. Menurut Marx, kapitalisme akan mengarah kepada penggulinganya oleh sosoialisme dan Marx berharap kapitalisme akan hancur oleh konflik kelas, organisasi pertahanan kelas proletar, serikat buruh, dan partai politik, yang menjadikan cara produksi yang didasarkan kepada kepemilikan komunal, distribusi yang adil, dan berakhirnya pembangian kelas.

Marxisme dan cultural studies

            Cultural studies bukanlah ranah Marxis, namun kritik Marx banyak membantu. Kita hidup di dalam formasi sosial yang ditata sistem kapitalis dan mendalamnya pembagian kelas seperti kerja, upah, perumahan, pendidkan dan kesehatan, yang lebih jauh lagi  praktik kultural dikomodifikasi oleh industri korporat raksasa. Cultural studies memfokuskan tentang struktur, praksis, determinisme ekonomi dan ideologi, sedangkan Marxismemenyatakan terdapat bebagai ketraturan atau struktur bagi eksistensi manusia yang berada diluar diri individu.

Kulturalisme dan strukturalisme

            Kulturalisme adalah istilah post hoc yang menempatkan logikanya secara berseberangan dengan strukturalisme dan kurang diterima diluar perdebatan tersebut.

Kebudayaan adalah remeh-temeh kehidaupan sehari-hari

            Kulturalisme menekankan kebudayaan dan aspek aktif, kreatif dan kapasitas orang untuk mengkonstruk praktik bermakna secara bersama. Pengalaman sehari-hari dan yang dipakai secara luas adalah definisi antropologis tentang kebudayaan yang mendeskripsikanya sebagai proses kehidupan.

Strukturalisme

            Strukturalisme justru berbicara tentang praktik signifikasi yang membangun makna sebagai hasil struktur atau regularitas yang dapat diperkirakan dan berada diluar diri individu, struktur yang mendasari biasanya tata bahasa yang memungkinkan terciptanya makna. Durkheim (1952, 1982) mencari pola pengendalian kebudayaan dan kehidupan sosial yang berada diluar individu, Durkheim lebih memilih ’fakta sosial’ yang dikonstruksi secara sosal, bervariasi secara kultur dan bersifat sui generis. Misalnya, keyakinan, nilai dan norma agama.

Struktu dalam bahasa

            Strukturalisme berbicara makna kultural, memahami kebuayaan sama halnya dengan bahasa. Karya Saussure (1960) mengembangkan strukturalisme, dia menyatakan makna terbentuk melalui sistem perbedaan yang terstruktur dalam bahasa. Singkatnya, Saussure dan strukturalisme secara umum, menaruh perhatian pada struktur bahasa yang memungkinkan performa linguistik ketimbang performa yang sebenarnya dalam variasi tanpa batas, misalnya antara sepasang tanda, sehingga ’hitam’ hanya bermakna ketika dikaitan dengan ’putih’ dan sebaliknya.

Kebudayaan tak ubahnya seperti bahasa

            Kulturalisme memfokuskan pada produksi tanda oleh faktor manusia dalam suatu konteks historis, strukturalisme memandang kebudayaan sebagai struktur dalam bahasa yang ada diluar kehendak aktor dan menguasai mereka, namun dari kulturalisme timbul pertentangan oleh  pascastrukturalisme yang  menyerap berbagai aspek lingiistik struktural sambil menjadikanya sebagi kritik terhadap strukturalisme. Singkatnya, terjadi penolakan ide tentang struktur stabil yang melandasi makna melalui pasangan biner tetap (hitam-putih; baik-buruk).

Derrida: Instabilitas Bahasa

            Derrida (1976) adalah filosofis primer pascastrukturalisme, dia mendekonstruksi oposisi boner ’stabil’ yang menjdai sandaran strukturalisme dan filsafat barat secara umum, secara khusus dekonstruksi mencakup penelanjangan oposisi konseptual hierarkis seperti tuturan/penampakan, alam/kebudayaan, kewarasan/kegilaan, dll.

Foucault dan praktik diskursif

            Foucault (1972) memfokuskan pada deskripsi dan analisis permukaan wacana dan efeknya terhadap kondisi historis dan material tertentu (subjek sebagai sesuatu yang telah tersejarahkan). Bagi Foucault bahsa yang memberikan makna pada objek materi dan praktik sosial.

Antiesensialisme

            Pengaruh pascastrukturalisme dama cultural studies adalah antiesensialisme. Antiesensialisme tidak berarti bahwa kita tidak boleh berbicara tetang kebenaran atau identitas, tetapi berbicara keduanya sebagai hal yang tidak bersifat universal namun sebagai produksi kebudayaan dalam konteks ruang dan waktu.

Pascamodernisme

            Lyotard ()1984 atau Rorty (1989) sama halnya dengan Foucault bahwa pengetahuan tidak bersifat metafisis, transendental atau universal, melainkan bersifat spesifik menurut ruang dan waktu, jadi dalam pascamodernisme pengetahuan bersifat spesifik dalam permainan bahasa, meyakini adanya keragaman, pluralitas dan lokalitas pengetahuan.

Psikoanalisis dan subjektivitas

            Psikoanalisis berkonsentrasi tentang bagaimana mencapai keadaannya yang sekarang.

Diri ala Freud

            Freud (1977), diri terdiri atas ego, atau pikiran rasional sadar, super ego, kesadaran sosial, dan ketidak sadaran, yang menjadi sumber dari penyimpangan beroprasinya pikiran simbolis yang berfungsi dengan logika yang berlainan rasio. Psikoanalisis dapat diolah sebagai suatu penjelasan pembentuk subjek yang bergantung pada proses historis.

Politik perbedaan : Feminime, ras dan teori pascakolonial

            Feminisme adalah bidang teori dan politik yang mengandun berbagai perspektif dan preskripsi yang saling bersaing dalam melakukan tindakan. Feminisme liberal menekankan kesetaraan bagi perempuan, feminisme sosialis menunjukan pada kesalingterikatan antara kelas dan gender, sedangkan feminisme perbedaan atau feminisme radikal justru menitikberatkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Ras, entnisitas dan hibriditas

            Etnisitas adalah konsep kultural yang terpusat pada norma, nilai, kepercayaan, simbol kultural dan praktik yang menandai proses pembentukan batas kultur. Ras merupakan konstruksi sosial dan bukan kategori universal atau esensial dalam biologi atau kebudayaan. Dan hibridtas-kreolisasi diartikan sebagai kawin campur bahasa, misal, oramg amerika keturunan latin dan inggris keturunan asia.

Epistemologi

Epistemologi mengadopsi kebenaran yang berasl dari Nietzsche (1967), jadi kalimat adalah satu-satunya hal yang bisa ali atau palsu. Pengetahuan bukanlah soal penemuan sejati melainkan tentang konstruksi intepretsi dunia yang dipandang benar.

Metodologi kunci dalam cultural studies

            Cultural studies  terpusat pada tiga pendekatan :

  1. etnografi, pendekatan empiris dan teoritis yang diwarisi dari antropologi yang berusaha membuat deskripsi terperinci dan analisi kebudayaan yang didasarkan pada kerja lapangan yang intensif.
  2. Beberapa macam pendekatan tekstual, memanfaatkan semiotika, teori narasi, dan dekonstruksionisme.

Semiotika adalah eksplorasi makna yang terbentuk oleh teks diperoleh melaui penataan tanda dengan cara tertentu dan melalui penggunaan kode kultural, narasi adalah penjelasan yang tertata urut  yang mengklaim sebagai rekaman peristiwa, dan dekonstruksionisme adalah penghapusan dalam rangka menemukan dan menampilkan asumsi teks tersebut.

  1. Studi resepsi yang akar teoritisnya bersifat elektis.

Persoalan representasi

            Deskripsi ulang yang berkelanjutan atas dunia yang dapat dicapai oleh penelitian etnografis adalah hak menarik untuk dilakukan karena ia menawarkan kemungkinan adanya perbaikan kondisi umat manusia yang dicapai melalui perbandingan antara berbagai representasi praktik sosial yang berlainan.

Tempat teori

            Teori dapat dipahami sebagai narasi yang berusaha membedakan dan menjelaskan ciri-ciri umum yang mendefinisikan dan menjelaskan kejadian yang dipersepsikanya, dan juga menjadi alat logi9ka untuk mengintervensi dunia melalui mekanisme deskripsi, definisi, prediksi dan kontrol.

kesimpulan

Secara singkat culturl studies adalah suatu proyek yang mengasikan dan cair yang mengisahkan kepada kita cerita tentang dunia yang tengah berubah dengan harapan agar kita dapat memperbaikinya.

Oleh

Septian Dwi Cahyo

Tinggalkan Balasan