ILMU KITA UNTUK SIAPA?

Alhamdulillah…kata itulah yang pantas kita ucapkan diawal mentari tampakkan sinarnya. Mengabdi, berbagi, dan mengamalkan ilmu itulah saat ini yang kam...

Harapan Setelah Masuk PLS
Lomba Esai Nasional Pendidikan Non Formal 2016

Alhamdulillah…kata itulah yang pantas kita ucapkan diawal mentari tampakkan sinarnya. Mengabdi, berbagi, dan mengamalkan ilmu itulah saat ini yang kami usahakan dengan penuh cinta kasih. Tiada kata sia-sia, menyesal, atu merasa kecil dengan ilmu PLS, justru dengan PLS kami bias tersenyum lebar, dengan senyum terindah kami. Membantu sesama, tak peduli jenis kelamin, usia, bahkan setatus sosial sekalipun.

Mungkin dibangku kuliah kita hanya berangan-angan kelak ilmu kita untuk siapa?….disinilah semuanya terjawab. Benar kata para ahli Pendidikan Luar Sekolah sebagai jembatan kokoh yang menghubungkan kebutuhan dengan sumber belajarnya. Tidak sedikit saudara kita yang sadar akan kebutuhannya. Namun semua orang mengingginkan satu kata yakni “lebih baik”.

Sejuta kata trimakasih kami ucapkan pada sang pahlawan tanpa tanda jasa “dosen-dosen” kami tercinta, yang telah membentangkan sayap tempat kami mengabdi. Dengan disebar diseluruh jawa timur, tentu kami mempunyai banyak cerita beragam yang mungkin tidak dimiliki banyak orang yang berprofesi seperti kami.

Satu cerita yang mungkin bias menyejukkan hati kita, cerita 6 mahasiswa yang bertekat mengamalkan ilmunya di SKB Kota Malang. Sungguh tidak mudah sebenarnya bagi kami, berjalan di tempat yang asing. Namun semuanya berubah ketika kami mengenal orang-orang hebat di SKB Kota Malang dan warga belajar yang luar biasa. Dengan beragam karakter, latar belakang kehidupan, dan pendidikan warga belajar itulah yang membuat kita semakin kaya dengan ilmu-ilmu PLS.

Sering kita mendengar istilah “anak jalanan”. Tentu beragam persepsi yang ada dibenak kita tentang mereka. Namun terkadang persepsi itu berubah ketika kita mengenal lebih jauh tentang mereka. Dengan PLS dan dengan kesempatan yang diberikan di SKB Kota Malang kita mulai bergelut dengan mereka. Mengenal siapa mereka, keluarga, pendidikan sampai pada mengapa mereka terjun kejalan. Itulah hal yang sampai detik ini tak terlupakan bagi kami. Meskipun sedikit kami berupaya memberikan kebutuhan mereka, tentunya kebutuhan pendidikan, sesuai dengan profesi kita. Identifikasi kebutuhan, psikologi, bimbingan social semuanya alat kerja kami. Tak ada satupun yang siasia….SubhanaALLAH..luar biasa ini kesempatan yang tak ternilai bagi kami.

Tidak berhenti dititik cerita itu, kita tidak bias menutup mata pada kenyataanya kalau kitapun sebagai pendidik, dikesetaraan kemampuan itu kami asah, mulai bagaimana kita membuka pembelajaran, menyajikannya dengan penuh keiklasan, membangkitkan ketertarikan sampai bagaimana kita menutup pemebelajaran.

Pendidikan Luar Sekolah selalu menanamkan “Life Long Education”. Tidak berhenti dan tidak merasa puas dengan apa yang didapatkan saat ini. Selain itu PLS juga dekat dengan kewirausahaan. Kewirausahaan pelajaran yang saat ini telah panas, tapi bagaimana jika PNF (Pendidikan Non Formal) menyentuhnya? Pasti akan lebih panas…hehehehe…..tentu saja.

PNF lebih hangat, lebih humanistic, dan merakyat. Satu kesalahan fatal ketika kita memberikan alat pemenuh kebutuhan wirausaha tanpa melihat potensi warga belajar, potensi lokal, dan potensi pasar…wahhhh semua ini kita dapatkan dari PLS dan kami perindah dengan pengalaman di SKB Kota Malang…

Trimaksaih semuanya, semoga kita tidak termasuk orang yang merugi, yaitu orang yang tidak menyadari potensinya, dan orang-orang yang menyalahkan keadaan…jadikan apa yang kita miliki hari ini sebagai alat peraih apa yang harus kita miliki hari esok…

Red: Khori’ (PLS UNESA ‘09)

COMMENTS

WORDPRESS: 0