Implementasi Peran Mahasiswa, Alumni dan Dosen

Implementasi Peran Mahasiswa, Alumni dan Dosen  Dalam Pengembangan SISTEM MIKRO PLS  Imam Shofwan Alumni Mahasiswa dan Alumni PLS Berbicara tentang pe...

Harapan yang Menggantung Tepat Didepan Kening
Pelatihan Public Speaking (Let’s To Be A Good Public Speaker 2016) PLS UNJ

Implementasi Peran Mahasiswa, Alumni dan Dosen  Dalam Pengembangan SISTEM MIKRO PLS 

Imam Shofwan

Alumni Mahasiswa dan Alumni PLS

Berbicara tentang pendidikan di Indonesia pada hakekatnya adalah secara umum adalah yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945 alenia ke-4 yaitu untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa” sehingga martabat negara akan meningkat di mata dunia. Untuk itu diperlukan sebuah sistem yang dalam penanganannya yang pada intinya menjadikan masyarakat Indonesia menjadi sejahtera dalam kehidupannya baik masyarakat kaya dan dan masyarakat yang kurang beruntung.

Pengertian pendidikan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa yang lebih spesifik adalah sesuai yang termaktub dalam UU SISDIKNAS No. 20 Tahun 2003 Bab 2 pasal 3 tentang tujuan pendidikan nasional adalah “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.  Untuk itu dalam pelaksanaan atau implementasi tujuan pendidikan maka dibentuklah tiga jalur pendidikan yang termaktub dalam Bab 6 pasal 13 yaitu “pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya”.

Adapun pengertian pendidikan itu sendiri menurut UU SISDIKNAS No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 1 adalah “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Berkaitan dengan PLS pendidikan luar sekolah sebenarnya memang tidak termaktub dalam ketiga jalur tersebut, dan inilah yang membuat kenapa PLS tidak banyak dikenal oleh masyarakat luas pada umumnya dan juga sosialisasi atau hasil karya masih minim yang dihasilkan oleh PLS. Berbagai permasalahan yang ada di dalam jurusan PLS apabila tidak dilakukan pembenahan-pembenahan yang baik, maka tidak menutup kemungkinan jurusan PLS akan hilang atau ditutup. Dalam menjawab permasalahan yang ada maka yang harus dilakukan adalah melakukan pembenahan dari mahasiswa, alumni dan dosen sebagai fasilitator dalam tataran mikro pergurruan tinggi sebagai pencetak pendidik untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Mahasiswa sebagai obyek di sini adalah peran organisasi mahasiswa karena sebenarnya tanpa mereka program studi PLS ini tidak ada. Mahasiswa perlu memperkuat diri secara akademik melalui karya-karya ilmiah yang bermutu, melalui lomba karya tulis maupun melalui publikasi jurnal, atau media massa yang lain. Dengan demikian, gaung PLS akan meluas ke masyarakat yang nantinya akan diharapkan pengakuan itu akan datang secara bertahap. Mahasiswa juga dapat menunjukkan kemampuannya kepada mahasiswa lain dalam mengurus organisasi dan memprakarsai program-program kepada masyarakat. Hal ini bukan mengada-ngada, karena mata kuliah yang ada di jurusan PLS sebenarnya banyak yang mendukung kinerja mahasiswa sebagai aktivitas yang mampu memahami masalah kemasyarakatan, mampu mengorganisasikan orang, maupun mampu menganisis situasi yang semua ini akan membantu diri mahasiswa mengaktualisasikan dirinya di tengah mahasiswa lainnya.

Demikian pula dengan alumni sebagai subyek, mereka sebenarnya merupakan bukti nyata bahwa produksi program studi yang ada di perguruan tinggi tidak sia-sia. Dengan kebanyakan alumni PLS yang berhasil menduduki posisi dan ketokohan di bidang pendidikan atau pengembangan masyarakat, akan mengangkat citra PLS dan pada gilirannya akan memperkuat profesi PLS.

Hal ini tentu saja apabila mendapat dukungan dari berbagai Steak Holder, termasuk Dosen dalam memfasilitasi para mahasiswa sebagai obyek dalam proses belajarnya dan memberikan bantuan Alumi sebagai subyek dalam pengembangan menciptakan lapangan pekerjaan yang dilakukan praktik secara langsung di lapangan, bukan hanya teori-teori dalam memenuhi kewajibannya untuk mengajar sebagai tenaga kependidikan semata.

PLS dari masa ke masa dalam perjalanannya pasti akan mengalami permasalahan dan tantangan yang tidak bisa dihindari. Sebaliknya, dibalik dari permasalahan dan tantangan tersebut pasti ada peluang-peluang untuk mengatasinya atau menjawab permasalahan melalui win-win solution ke arah yang progress. Berbagai upaya yang harus dilakukan adalah penggerakan atau pengembangan sebuah tatanan sistem yang dimulai dari tingkatan mikro (perguruan tinggi), meso (regional) dan makro (ditjen/pusat).

Upaya pengembangan PLS, baik sebagai sub-sistem belajar masyarakat, sebagai profesi maupun sebagai suatu disiplin keilmuan tidak lepas dari berbagai tantangan dan permasalahan yang perlu hadapi dalam menjawab tantangan dari tahun ke tahun agar PLS benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sehingga secara tidak langsung akan menjadi media sosialisasi yang ampuh sebagai pendidikan alternatif yaitu sebagai pengganti atau penambah dan pelengkap. Oleh sebab itu diperlukan sebuah manajemen program pengorganisasian dalam pengembangan PLS sebagai sub-sistem, PLS sebagai profesi, dan PLS sebagai disiplin keilmuan.

Dalam pengorganisasian pengembangan PLS sebagai sub-sistem belajar masyarakat akan dihadapi beberapa tantangan. Tantangan-tantangan demikian perlu dikenali dan diperkirakan sedini mungkin. Menurut siratan yang terkandung istilah tantangan, agaknya tidak bisa, tidak diperlukan kajian yang mendalam dengan jangkauan ke masa depan. Tanpa memiliki pemahaman yang mendekati kebenaran akan perkiraan-perkiraan kecenderungan tantangan masa depan, maka tidak akan pernah dikembangkan suatu (beberapa) strategi bagi pencegahan dan strategi pemanfaatan peluang yang akan muncul. Sekurang-kurangnya pemahaman akan kecenderungan masa depan akan memberi peluang bagi kelangan pendidikan luar sekolah untuk mempersiapkan diri dalam menjawab tantangan tersebut.

Dalam pengorganisasian pengembangan PLS sebagai profesi, diperlukan pengkajian dan pengembangan yang terus menerus akan dasar kaidah-kaidah pengetahuan yang diterapkan. Dengan pemahaman tentang persoalan-persoalan dasar dan kaidah-kaidah terapan pendidikan luar sekolah, maka setapak demi setapak PLS akan dapat membangun tubuh dasar pengetahuan profesionalnya.

Dalam pengorganisasian sebagai disiplin keilmuan, diperlukan penelitian, pengkajian dan pengembangan yang terus-menerus guna membangun tubuh teoritik keilmuaan beserta perkembangan dan kemajuannya, ia akan memberik peluang bagi kalangan PLS untuk berperan serta di dalam upaya  mengembangkan PLS sebagai disiplin keilmuan.

Penelitian-penelitian dan pendidikan sarjana-pasca di kalangan PLS masih saja memberikan perhatian lebih pada persekolahan anak-anak dan pemuda, sedang dunia pendidikan orang dewasa di luar sistem persekolahan masih merupakan lapangan yang dipandang asing. Sebagai akibatnya, selama beberapa kurun waktu tahun, lapangan kajian ini menghadapi keadaan krisis identitas.

Pada pokoknya, keprihatinan yang menonjol mengarah pada apakah pendidikan luar sekolah merupakan cabang kajian profesi pendidikan, atau merupakan profesi mandiri di luarnya, seperti pekerjaan sosial. menurut Gordon dan Merriam, (1982) Berbicara profesi merupakan suatu jenis pekerjaan yang khas, dengan ciri-cirinya antara lain (1) keahlian, (2) tanggung jawab, dan (3) kesejawatan keahlian. Berkaitan dengan keahlian, keahlian apa yang harus dimiliki oleh alumni dan pendidik PLS dan apakah keahlian tersebut telah dimiliki oleh umumnya para alumni dan pendidik PLS. Inilah mungkin salah satu kenapa lulusan PLS secara internal tidak dibuka formasi CPNS karena mungkin mereka bingung atau meragukan keahlian lulusan PLS dan juga kurang dikenalnya PLS di mata pelaku kebijakan dalam otonomi daerah.

Selanjutnya menurut Knowles, (1986) terdapat tiga peranan di dalam PLS yaitu (1) peranan sebagai pamong belajar, (2) peranan sebagai administrator, dan (3) peranan sebagai pengembang program. Sehubungan dengan tiga peranan yang muncul di dalam lapangan PLS, apakah semua alumni dan pendidik PLS bisa menguasai semua kecakapan dari masing-masing peranan. Ini merupakan persoalan yang rumit. Dan inilah tugas para Dosen untuk membentuk lulusan PLS yang mempunyai kelebihan dibandingkan lulusan yang lain, sehingga para lulusan akan lebih condong dalam menciptakan lapangan pekerjaan sebagai pekerjaan utamanya dan mencari lapangan pekerjaan sebagai pekerjaan tambahan/sampingan.

Dari berbagai permasalahan tersebut kita bisa simpulkan mengenai kelemahan-kelamahan dan tantangan-tantangan yang dialami oleh PLS, untuk itu perlu kita kaji lebih mendalam dalam menjawab tantangan PLS di masa yang akan datang dengan melakukan evaluasi model CIPPO, dan analisis SWOT, serta Strategi Manajemen dalam tataran 3M untuk menguraikan berbagai permasalahan dan tantangan masa depan PLS.

 

Salam PLS, Kritis dan Humanis

Ttd

Download dalam bentuk PDF 

[wp-like-locker]

  Implementasi Peran Mahasiswa, Alumni dan Dosen Dalam Pengembangan SISTEM MIKRO PLS Di download (34,0 KiB, 426 hits)

 [/wp-like-locker]

 

COMMENTS

WORDPRESS: 0