Jangan Putus Asa, Tuhan Bersama Kita

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun pun berganti. Bulan Januari 2016 pun sudah di depan mata, dan pendaftaraan...

PLS BERMASYARAKAT
Bukan Hanya Sekedar Sarjana Pendidikan

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun pun berganti. Bulan Januari 2016 pun sudah di depan mata, dan pendaftaraan SNMPTN pun telah terbuka. Setelah berdiskusi dengan orang tua, saya akhirnya menjatuhkan pilihan pertama pada jurusan S1 Pendidikan Sosiologi  dan pilihan kedua pada S1 Ilmu Perpustakaan di Universitas yang sama. SNMPTN atau yang biasa dikenal jalur undangan adalah salah satu seleksi yang di adakan oleh Universitas untuk menjaring calon Mahasiswa yang mempunyai prestasi lebih di bidang Akademik dan Non Akademik (Tanpa Ujian). Menurut saya, untuk SNMPTN sendiri yang dibutuhkan hanyalah nilai yang memadai dan sedikit keberuntungan untuk bisa lulus.

Setelah beberapa minggu kemudian, saya harus menghadapi pengumuman selanjutnya. Pengumuman hasil Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Saya mengakses situs pengumuman hasil kelulusan. Saya mau yang buka hasil SNMPTN saya adalah ibu saya, dan ternyata ibu saya mau. Setelah beberapa kali gagal akibat Server Full, ibu saya berhasil masuk ke situs. Hasil kelulusan Saya keluar. Dan ternyata saya TIDAK LULUS! Jlebb saya benar-benar berada pada keadaan terburuk dalam hidup saya. Saya merasa semuanya gak adil, saya merasa bodoh, saya merasa kurang beruntung, saya merasa semua yang sudah saya lakukan selama ini sia sia! Tetapi untunglah ada ibu saya yang selalu mensupport saya. Saya masih ingat kata-kata ibu setelah melihat hasil pengumuman tersebut, “Yaudahlah an, gak ada yang perlu disesali. Yang penting sekarang fokus ke SBMPTN.” Saya berusaha langsung Move On dari SNMPTN.

Beberapa hari setelah pengumuman SNMPTN, saya langsung mendaftarkan diri untuk mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) yang berbasis ujian tanpa mengandalkan nilai akademik dan non akademik layaknya SNMPTN, jadi murni hasil ujian. Saya merasa sudah cukup dengan semua latihan dan try out yang selama ini saya lakukan. Saya cukup rajin mengikuti try out yang diadakan beberapa bimbingan belajar dan kampus-kampus, itu karena saya ingin mengetahui sejauh mana hasil belajar saya. Pada awal try out, hasilnya cukup mengecewakan. Tetapi setelah saya beberapa kali mengikuti try out, hasilnya sesuai dengan yang saya inginkan. Saya cukup pede untuk menghadapi SBMPTN.

Yang perlu saya lakukan adalah berjuang untuk orang tua dan diri saya sendiri. Sebelum ujian, saya memfokuskan diri untuk tetap tenang dan rileks. Tapi semua itu berubah ketika saya menginjakkan kaki di kelas tempat saya akan berjuang. Kelasnya tidak terlalu lebar dan nyaman untuk 20 calon Mahasiswa/i. Di kelas ini terdapat dua buah AC yang cukup untuk mendinginkan suhu ruangan. Ternyata saya dapat tempat duduk paling belakang di dekat jendela. Karena kelas ini menggunakan AC, maka jendelanya tetap tertutup. Setelah pengawas masuk dan memberikan arahan tentang tata cara mengisi lembar jawaban dan peraturan ujian, jantung saya berangsur-angsur mulai stabil. Ujian baru aja dimulai dan keringat saya mulai bercucuran, ternyata ACnya MATI! Gue bener-bener kesel dengan pelayanan yang diberikan panitia SBMPTN. Hal itu tentu mengganggu kenyamanan dan konsentrasi gue sebagai peserta, konsentrasi saya terpecah untuk mengilap keringat gue agar tak jatuh ke lembar jawaban, hadeeeh. Ujian gue hari ini berakhir dengan ketidakyakinan akan jawaban saya sendiri, saya pasrahkan semuanya pada Allah SWT. Semua yang saya butuhkan cuma keberuntungan!.

Pengumuman SBMPTN dibuka. Seperti sewaktu pengumuman SNMPTN, saya cukup kesulitan untuk mengakses situs pengumuman hasil kelulusan. Saya coba untuk mengulur waktu, saya putuskan saya membuka hasil pengumuman setelah sholat Ashar. Sahabat saya menawarkan untuk membuka hasil kelulusan untuk saya. Saya mengiyakan bantuan sahabat saya tersebut. Saya memberikan nomor pendaftaran (kalau gak salah) ke sahabat saya tersebut. Setelah menunggu beberapa menit, sahabat saya mengirimkan Screenshot dari layar laptop via BBM. Ternyata saya GAK LULUS untuk kedua kalinya! Jlebbbbbb saya mengela nafas panjang. Entah apa yang ada dipikiran saya waktu itu, saya merasa kalau saya benar-benar bodoh, saya merasa kalau semua yang sudah saya dilakukan itu sia sia, saya merasa kalau belajar saya selama ini belum maksimal, saya merasa dunia mulai menjauhi saya dan saya merasa bahwa saya sudah membuat orang-orang disekitar saya kecewa. Saya gak tau apa yang harus saya lakukan waktu itu, sekarang saya ada di kondisi terburuk dari yang terburuk dalam hidup saya. Saya gagal untuk kedua kalinya. Bagiamana bisa saya gak lulus? Padahal saya sudah berusaha semaksimal saya! Padahal saya bisa menjawab soal-soal itu! Padahal saya yakin kalau saya itu lulus! Padahal dan semua padahal yang telintas dalam hati saya. Saya terpuruk! (Ini klimaksss banget). Saya akhirnya memutuskan untuk tidur!

 “Yaudahlah an, namanya gak rezeki” kata orang tua saya berusaha menguatkan.
Saya akhirnya disuruh untuk mendaftar mandiri di salah satu Perguruan Tinggi Negeri terkemuka di kota saya. Saya pun mengiyakan rekomendasi orang tua saya, dengan tujuan untuk mendapatkan ridho mereka. saya harus mengubur mimpi gue untuk kuliah di jurusan S1 Pendidikan Sosiologi  karena orang tua saya menginginkan saya untuk kuliah di jurusan S1 Pendidikan Luar Sekolah. Saya gak ingin mengecewakan orang tua saya dengan membantah keinginan mereka untuk melihat saya kuliah di jurusan S1 Pendidikan Luar Sekolah. Walau agak ragu saya di S1 Pendidikan Luar Sekolah, tapi hati dan pikiran saya selalu ada di PLS. Saya benar-benar harus berusaha keras untuk move on (gampang-gampang susah lah dari pada move on dari mantan).

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu. Penantian saya untuk mengetahui hasil perjuangan saya pun sudah di depan mata. Ternyata pengumuman hasil kelulusan tidak perlu mengakses ke web, melainkan hanya mendownload file yang berisi nama peserta yang lulus (kalau gak ada namanya, berarti gak lulus). Saya memutuskan untuk segera mengetahui hasil dari perjuangan saya. Setelah saya download, saya buka file hasil kelulusan itu. Saya perhatikan satu per satu nomer dan nama peserta yang tercantum di dalam file tersebut. Saya coba untuk nurunin scoll mouse saya secara perlahan-lahan, hanya untuk memastikan nama saya tak terlewati. Untuk percobaan pertama, ternyata nama saya sama sekali gak muncul. Saya coba untuk menahan emosi dan semua gejolak di dada saya dengan mengulang dari atas. Untuk percobaan kedua, saya melakukannya dengan sangat teliti. Ternyata nama saya ada!

Akhirnya saya bisa bernafas lega setelah melihat hasil yang keluar. Ternyata nasib saya berubah. Allah ternyata menempatkan saya untuk melanjutkan pendidikan di UM. Entah apapun itu alasan saya bisa sampai disini. Setelah melewati semua drama dalam perjuangan saya untuk melanjutkan pendidikan, gue akhirnya berlabuh di UM. Saya sekarang tercatat sebagai mahasiswa aktif di PTN tempat saya melanjutkan pendidikan.

kata-motivasi-mengatasi-rasa-putus-asa

Nama       : Imam Khoirudhin
NIM         : 160141600679
Jurusan   : S1 Pendidikan Luar Sekolah
Angkatan : 2016
Universitas : Universitas Negeri Malang

COMMENTS

WORDPRESS: 0