Lima Jari untuk KETUMAMOYA _ 3

Hari baru, bulan baru, semangat baru. Pagi di Jalan Surabaya, titik kumpul sebelum perjalanan bersama. Janji pukul 07.00 WIB, namun masih ada beberapa orang yang belum berkumpul jua. Sehingga kita menunggu. Sambil menunggu, aku dan sahabat mengelilingi kampus UM kembali. Rasanya belum puas kemarin aku berkeliling. Sampai pagi itu, dijelaskan kembali arti setiap tembok yang tertancap. Keunikan kembali tertuang, di salah satu gedung FIP. Terdapat tembok bata merah halus yang menjadi hitsnya anak-anak FIP. Sederhana, tapi tak pernah sepi untuk mengabadikan diri dalam bidikan kamera yang dipegangi. Setelah berkeliling, kami kembali. Berkumpul semua setelah menunggu. Perjalanan ini tidak sebentar, asupan tenaga harus disiapkan. Kudapan nasi pecel yang terlihat di pinggir jalan menjadi pilihan. Setumpuk nasi yang cukup mengenyangkan. Setelah selesai, dengan do’a yang dipanjatkan, kami memulai perjalanan.

Kami menjemput dua teman di tempat yang berbeda. Jalan-jalan padat penuh dengan kendaraan beserta beberapa knalpot yang menyesakkan dada. Penutup muka/masker harus dipasang, agar tak terkena asap hitam tersebut. Kami berhati-hati, karena ini jalan yang kami lewati adalah jalan provinsi. Lalu lalang kendaraan melaju cukup kencang.

Mojokerto, kami sampai. Tetapi masih harus melakukan pencarian pada tempat kegiatan. Kelok kanan dan kelok kiri. Jalan menanjak, menanjak, dan terus menanjak. Melewati gunung unik seperti bentuk ice cream. Lumeran toping putih pada birunya material, ditambah hiasan pohon-pohon tinggi di sekitar. Oksigen yang cukup banyak untuk keberlangsungan nafas manusia. Sejuk sekali.

Perjalanan terus dilakukan, dan sempat kami kebingungan. Malu bertanya, sesat di jalan. Ada kuota, GPS dimanfaatkan. Ya, zaman sekarang dengan kemudahan tekhnologi, kita harus bisa memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Bukan hanya sebatas selfie ekstrim untuk menggelar pujian. Tetapi banyak aplikasi lain yang turut membantu agar kita tidak kesulitan. GPS menunjukkan arah dari tempat yang kami sekarang menuju tempat tujuan dengan waktu yang tidak lama lagi. Sekitar 16 menit. Waktu dimana sepanjang jalan, suasana alam masih asri. Suasana dimana kita tak berhenti berucap syukur pada Ilahi. Suasana bebas karena kendaraan jarang terlihat. Sebentar lagi kita sampai. Namun petunjuk arah dan GPS tidak dapat berkompromi dengan baik. Perbedaan penunjuk arah tradisional dan digital membuat kita memutuskan bertanya pada warga. Akhirnya, seorang ibu yang selesai berbelanja, baik hati menunjukkan arah sebenarnya (karena beliau sama arah dengan kita). Namun satu motor telah melaju lurus, walau kami menelpon beberapa kali untuk berbalik arah, tetap saja tiga motor yang terlihat di belakang. Ibu tersebut berhenti di depan rumah, dan kami ditunjuki untuk melanjutkan perjalanan sendiri dengan arahan yang beliau berikan dan terus menerus kami ingat. Berkelok ke kanan dan lurus kedepan. Tertanda 0,1 kilometer sampai tujuan. Namun kami memastikan kembali pada seorang bapak yang melintas di jalan dengan membawa setumpuk daun padi yang sangat banyak. Dan benar saja, tempat kegiatan ada di depan kami. Lentera Camp. Tempat dengan gerbang yang cukup tinggi, dan dikaitkan sehelai kain dengan logo dan bertuliskan tanda PLS UNESA. Kami masuk ke dalam. Namun, satu motor masih belum sampai.
a3-2
Rasa rindu kembali menggebu. Bertemu keluarga PLS UNESA yang sudah lama menunggu. Berjabat tangan dan salam sebagai tanda pertemuan. Akhirnya, keluarga kami yang sempat berbeda arah itu telah sampai. Terlihat mahasiswa baru melakukan permainan. Menguji keasahan pikiran dan menumbuhkan kerjasama antar anggota dalam tim. Satu sisi, kami berkenalan dengan seorang dosen muda (Widya Nusantara) Mendampingi mahasiswa sejak kemarin kegiatan dilaksanakan. Dosen muda yang ternyata salah satu pejuang Imadiklus sejak awal terbentuk. Sungguh luar biasa. Bertemu dengan orang hebat yang akan menginspirasi kita semua. Lama kami berdiri, kami diajak duduk dan istirahat sejenak di tempat terbuka namun memakai atap. Welcome statement dan welcome snack. Sambutan dan sharing mengenai kondisi mahasiswa saat ini. Banyak hal yang dapat kami petik. Ada beberapa kalimat beliau yang menunjukkan bahwa
“Di Pendidikan Luar Sekolah, kita harus bisa mengedukasi, santun, dan melayani dengan baik.”
“Banyak karya yang tercipta, namun banyak pula yang tidak dipublish ke publik. Akhirnya hilang ditelan zaman.”
“Stigma tentang cita-cita. Bukan, nak ketika besar cita-citamu apa?. Tetapi, nak ketika kamu besar, kamu mau memberikan apa?.”
Ada proses yang harus dibayar. Ada proses yang membuat semua anak berusaha keras berpikir untuk memberikan yang terbaik. Sehingga orang dewasa pun berusaha mempersiapkan dan mendampingi dengan sepenuh hati dalam perjalanan yang ingin dicapai. Obrolan kritis namun hangat ditemani kriuknya snack yang diberikan.

Adzan berkumandang, kami sembahyang dan melakukan persiapan. Para peserta makan dan duduk di ruang aula terbuka. Selesai. Inilah sesi kami. Sesi pengenalan IMADIKLUS. Satu setengah jam, waktu yang diberikan. Tiga pemateri bersiap di depan, dan teman-teman lain duduk manis, menunggu, memperhatikan di belakang.

Pertama, pengenalan IMADIKUS secara umum (visi, misi, identitas, struktur, fungsi) dan kenapa kita bergabung di Imadiklus. Pengenalan oleh salah seorang perwakilan Badan Pengurus Pusat Imadiklus yakni Ade Sri Mulyani (Koordinator Departemen Komunitas _ PLS UPI 2013). Secara singkat, pemuda Indonesia adalah harapan bangsa. Negeri ini begitu luasnya dan memiliki ragam budaya. Jadikan keragaman tersebut adalah suatu alat untuk memajukan Indonesia lebih baik secara bersama. Tapi, keragaman tersebut jika kita tidak mengenal satu sama lain maka akan sama saja. Oleh karenanya, status mahasiswa yang saat ini melekat jangan disiakan. Pergerakan mahasiswa sedang dinantikan, dan saat ini kita berlatih untuk masa depan. IMADIKLUS, salah satu pergerakan dengan basis kekeluargaan.

Kedua, pengenalan media IMADIKLUS oleh Imam Badhowi (Koordinator Wilayah I _ PLS UM 2013). Media. Kita IMADIKLUS Indonesia. Tersebar dari Barat Timur Utara Selatan. 10 tahun IMADIKLUS terbentuk dan bertahan karena proses komunikasi yang digalakkan. Jarak memang telah diciptakan, tetapi bukan suatu alasan untuk kita tidak bersapa dan berbagi ilmu serta keceriaan dari masing-masing perguruan tinggi. Oleh karenanya, kita bersyukur difasilitasi oleh beragam media sosial Imadiklus. Facebok, twitter, instagram, WA, telegram, youtube, website. Apalagi kehadiran website yang terkoneksi dengan semua aplikasi. Kontribusi melalui tulisan apapun akan kami apresiasi. Bukan tentang siapa kita, tapi akan berbuat apa selanjutnya.

Ketiga, aksi IMADIKLUS di lingkup Perguruan Tinggi. Pengenalan oleh Ratna Ningrum (Ketua Badan Pengurus Harian IMADIKLUS UNESA _ PLS UNESA 2014). Struktur dan aksi yang dilakukan tertuang pada program kerja yang telah ditetapkan. Program kerja yang berusaha menanamkan rasa nyaman untuk setiap anggota. Meski banyak perempuan dan sedikit laki-laki, tetapi kebersamaan tidak akan hilang. Mengenal banyak orang dari luar daerah, mengenal banyak sosok inspiratif, mengenal bahwa kita adalah IMADIKLUS.

Di akhir, lagu kebanggaan dikumandangkan bersama seluruh elemen mahasiswa serta alumni yang hadir di tempat kegiatan.
Kami Imadiklus Indonesia
Ikatan Mahasiswa Indonesia
Terus berjuang dan bergerak
Untuk meningkatkan mutu pendidikan
Kami Imadiklus Indonesia
Berjuang dengan sepenuh jiwa
Memberdayakan masyarakat Indonesia
Dengan persaingan tanpa batas
Bersama Imadiklus kita bisa
Bersama Imadiklus kita jaya
Bersama Imadiklus kita bisa
Bersama Imadiklus… Kita Jaya…

Tak hanya itu, teman-teman yang telah berjalan bersama dikenalkan. PLS UNESA, PLS UM, PLS UNG, dan PLS UPI. Ada rasa histeris ketika beberapa orang menyebutkan asal daerahnya. Ya, walau mayoritas berasal dari Jawa Timur. Saking histerisnya membuat kita semua tersenyum berkali-kali. Entah kenapa hal tersebut terjadi. Tapi itulah kebiasaan disini. Setelah semuanya memperkenalkan diri, sejumlah dokumentasi ditampilkan. Video yang menunjukkan aktivitas kegiatan mahasiswa PLS. Video yang menunjukan website imadiklus dan kegunaannya. Setelah itu, sesi pertanyaan untuk satu orang penanya. Ingin kami menerima semua, tetapi apa daya waktu menunjukkan bahwa sesi Imadiklus telah habis. Satu pertanyaan kritis dari seorang wanita berkacamata manis. Dan terakhir kami akhiri sesi Imadiklus dengan jargon semangat kebersamaan.
Laskar PLS 2016 – New Spirit, New Generation
IMADIKLUS – Jaya
IMADIKLUS – Kita Keluarga
IMADIKLUS Indonesia – Kami ada untuk Indonesia
a3

***

Duduk merasakan angin di siang menjelang sore. Surat Keputusan ……

You might also like More from author

1 Comment

  1. Ronggo says

    makasi ade sudah berbagi
    ini akan menjadi kisah yang membuatku berdegup kencang kelak kau membaca lagi

Leave A Reply

Your email address will not be published.