Lima Jari untuk KETUMAMOYA _ 4

Duduk merasakan angin di siang menjelang sore. Surat Keputusan Nomor 037/KEP/IMADIKLUS/IX/2016 dikeluarkan pada tanggal 27 September 2016. Surat berkenaan dengan reshuffle kepengurusan Badan Pengurus Pusat Imadiklus. Pada kesempatan kali ini, aku menyerahkan sejumlah tugas yang sebelumnya telah aku dan partnerku laksanakan. Administrasi yang telah melekat sepanjang 200 hari perjalanan. Ada sejumlah tugas yang harus segera dilaksanakan. Dan tetap setia serta sabar ketika dihubungi bahwa harus membuat surat dadakan. Itulah proses yang telah dijalani. Jangan jadikan beban, walaupun jaringan internet kadang membuat kesal. Dan kini, kalian berdua yang akan mengurusi semua itu. Selamat berjuang, dan salam administrasi. Sementara aku akan mengurusi yang masih menjadi passion diri. Sebuah departemen dengan anggota baru. Dan kita bersama berjuang untuk IMADIKLUS Indonesia.

a4-1

***

Apa yang terpikirkan saat kau berkelana ke tempat baru ?
Mencari tahu kenapa bisa seperti ini dan selalu mengabadikan diri dalam rekaman kamera yang selalu siap. Banyak hal yang digali, melihat sekeliling dan luasnya tempat yang kini ditinggali walau hanya tiga hari. Berbagi cerita proses kaderisasi yang dijalani setiap perguruan tinggi. Sungguh berbeda. Namun kita tidak bisa memaksa untuk sama, karena culture yang telah ada sejak dulu kala. Hanya berusaha, bahwa kita saling menghargai dan mendukung apapun yang dilaksanakan selagi itu masih dalam kebaikan. Dering handphone tidak lepas dari pemberitahuan. Sahabat yang kini berjuang di Kalimantan memberikan kabar yang tidak mengkhawatirkan. Saling memberi semangat agar dikuatkan dalam menjalani kehidupan.

***
a3-1

Malam menjelang, tak henti kami berbincang banyak hal. Mulai dari masa lalu, masa kini, dan masa depan. Kondisi masyarakat sekitar, kondisi pendidikan masa kini, kondisi keadaan sekitar yang dapat menghibur. Bersama alunan lagu dari petikan gitar yang dimainkan juga terkadang dari suara handphone berisi sejumlah lagu yang enak didengarkan. Lagi-lagi, aku hanya mengkerut dahi tanda ketidakpahaman apa yang dibicarakan. Namun, yang lain berusaha menterjemahkan. Rasa penasaran selalu muncul, namun tawa itu kembali hadir. Setiap keluarga punya keunikan tersendiri. Dan inilah kebersamaan yang mungkin tak bisa aku lupakan. Terima kasih pada Tuhan yang telah menciptakan bersama rona malam yang mengisi hati untuk tidak kosong.

***

Berniat pagi hari untuk melanjutkan perjalanan. Namun terlalu dini, sehingga kami memutuskan untuk berjalan setelah sembahyang. Setelah semua barang terkondisikan dengan rapih. Waktunya kami pamit dan bergenggam tangan bersama panitia juga bersama mahasiswa baru PLS UNESA 2016. Terima kasih atas yel-yel Salut yang selalu dikumandangkan. Kami yakin, kalian pun akan menjadi generasi yang membuat orang SALUT terhadap karya/ide yang kalian ciptakan. Bukan hanya PLS UNESA, tetapi seluruh PLS Indonesia. SALUT untuk kita semua.

a4-4
***

Waktu terus bergulir. Inilah hari dimana aku harus kembali, ke tanah kelahiran, ke tanah tempat menimba ilmu, dan sejumlah keluarga. Sekitar 9 motor beriringan dan berjajar menuju Surabaya. Lebih dari setengah jam. Melintasi Mojokerto dengan kabut yang menyelimuti di tengah perjalanan. Jarak pandang yang tidak kurang dari 15 meter. Kami berhenti pada sebuah warung pinggir jalan, tepatnya Krian, Sidoarjo. Mengisi kekosongan perut, makan dengan lahap, dan dibayarkan oleh seorang loyalis/MKO Imadiklus yang dermawan. Sungguh bersyukur. Terima kasih mas Zaki.

Kami bergegas kembali, agar sampai sebelum waktu kereta berjalan. Kami lihat parade yang begitu panjang. Parade 1 Muharram 1438 H. Memakai pakaian yang berbeda dan menjadi ciri. Didampingi pak polisi dan mobil patroli. Dan disinilah rombongan 9 motor terpisah. Truk besar di saat lampu merah. Entah kami yang terlalu cepat, entah mereka yang singgah dahulu di suatu tempat. Sehingga aku hanya bersama ketiga orang yang sama-sama pernah menjadi ketua.

Sebelum menuju stasiun, mereka ajak aku menuju icon Surabaya. Tugu Surabaya. Sekedar mengabadikan momen walau kurang dari 10 menit. Hanya sinar matahari tidak seperti pagi yang hangat dan masih terasa dingin. Disini benar-benar terasa hangat dan sedikit panas. Tapi inilah suasana Surabaya. Meski aku belum mengelilingi daerah Surabaya. Tetapi setidaknya aku pernah melintas dalam perjalanan indah ini.
a4-2
Dering HPnya berbunyi. Ternyata kawan-kawan sudah sampai di stasiun. Kami yang masih dalam perjalanan mencoba bergegas secepat mungkin. Hingga tibalah kami di tempat. Aku langsung menuju minimarket, membeli persediaan makan dan minum untuk nanti di perjalanan. Tiket kemudian dicetak, dan masih ada waktu setengah jam untuk melepas rindu. Berjabat tangan, testimoni, berphoto, video, dan berjabat tangan kembali. Terima kasih kawan-kawan IMADIKLUS.

Lima jari pada tangan, kau dengar suara tepukan ketika jari itu saling bertemu
Lima jari pada tangan akan menjadi kuat jika kita saling mengenggam.
Lima jari pada tangan adalah kekuatan sehingga aku bisa sampai disini.
Lima jari pada tangan, ku hitung perjalanan pertama jauh ini…
Kediri – Batu – Malang – Mojokerto – Surabaya
Lima jari terlambai, tanda perpisahan ini hanyalah keputusan waktu untuk bertemu di lain kesempatan.

Lihatlah lima jarimu
Renungkan impianmu
Gapailah dengan tekad yang kuat
Kepalkan, bahwa kau bisa melakukannya 🙂

LIMA JARI…

TERIMA KASIH 🙂
Ela, Badhowi, Mas Fendik, Ridwan, Sefri, Ilham, Tsania, Ami, Zia, Ika, Syahri, Yayas, Buyung, Shomad, Ningrum, Mas Daus, Mas Bagoes, Mas Zaki, Mas Hafid, Ratna, Fitri, Zumrotus, Nurul, Rahmadita, Fahmi, Lulu, Rinawati, pak Tara, keluarga BPH Imadiklus UM, keluarga BPH Imadiklus Unesa, keluarga HMJ PLS UM, keluarga HMJ PNF UNESA, keluarga IMADIKLUS.

Terlebih kepada bang Petrus, Lulu, segenap keluarga BPP IMADIKLUS beserta kedua orang tua dan keluarga. Terima kasih 🙂

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.