MAHASISWA PLS harus akrab dengan PROGRAM PAUDNI

0
Dibaca 1.749

Pendidikan_non_formal_PNFMAHASISWA PLS harus akrap dengan PROGRAM PAUDNI, Balai Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal (BP-PAUDNI), sesuai tupoksinya, merupakan pengembang model dan pengkaji program PAUDNI. lembaga ini telah banyak menghasilkan beragam model dan modul, terkait dengan metode dan penyelenggaraan program PAUDNI, yang siap di uji cobakan, di duplikasi maupun di replikasi oleh lembaga mitra, dalam rangka meningkatkan mutu program, agar semakin tampak kebermanfaatannya bagi kelompok sasaran, terutama dalam rangka meningkatkan taraf hidupnya.

Begitu juga dengan sanggar kegiatan belajar (SKB) adalah Unit Pelaksana Teknis Dinas yang ada di bawah Dinas Pendidikan di tingkat kabupaten/kota. Dalam SK Mendikbud RI, Nomor 023/O/1997, dikatakan bahwa tugas pokok SKB adalah melaksanakan pembuatan percontohan dan pengendalian mutu pelaksanaan program pendidikan luar sekolah, pemuda dan olahraga berdasarkan kebijakan teknis Direktur Jendral Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olahraga.

Ke dua lembaga inilah, paling tidak yang harus diakrabi oleh mahasiswa PLS, karena disana banyak sekali bahan yang bisa di adopsi untuk diskusi di kampus, dalam rangka pengayaan wawasan dan komparasi keilmuan guna mengawinkan teori PLS (yang kebanyakan sudah usang) dengan kondisi lapangan yang dinamis sesuai gerak perubahan jaman.

Ya, paling tidak aneka model yang telah dikembangkan oleh pamong belajar itu bisa dijadikan ‘senjata’ manakala mereka melakukan pengabdian masyarakat, serta bahan untuk melakukan penelitian dan pengembangan guna penyempurnaannya, seperti yang tersurat dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, bahwa mahasiswa sebagai ‘agen perubahan’ harus bisa memberikan manfaat kepada masyarakatnya, melalui penelitian dan pengembangan, maupun saat melakukan pengabdian kepada masyarakat.

Dengan kata lain, melalui kegiatan penelitian dan pengembangan, mahasiswa mampu mengembangkan ilmu dan teknologi. Mahasiswa harus mampu memanfaatkan penelitian dan pengembangan ini dalam proses pembelajarannya untuk menciptakan perubahan yang akan membawa Indonesia kearah yang lebih maju dan terdepan. Dengan memanfaatkan model program yang sudah disusun oleh pamong belajar, paling tidak mahasiswa PLS akan terbantu dalam melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan program-program PLS. Sukur-sukur kegiatan tersebut bisa dikerjasamakan.

Begitu juga dalam hal pengabdian kepada masyarakat, dapat dilakukan dengan berbagai kegiatan positif, semisal menjadi tutor di lembaga PNF maupun bhakti sosial lainnya. Mahasiswa harus mampu bersosialisasi dengan masyarakat dan mampu berkontribusi nyata memajukan kecerdasan dan kesejahteraan masyarakat dalam arti luas. Paling tidak, mahasiswa PLS bisa menginspirasi masyarakat desa yang didatangi.

Sayangnya, sampai saat ini mahasiswa PLS belum akrab dengan SKB dan BPPAUDNI. Mereka hanya datang manakala ada kepentingan dalam rangka memperoleh nilai kuliah tertentu. Padahal ke dua lembaga itu sangat terbuka bagi siapa saja (wabil khusus bagi mahasiswa PLS), disana bisa berbagi informasi dan tukar pengalaman. Siapa tahu dari obrolan itu ada proyek yang bisa melibatkan mahasiswa PLS. Nah Lho, asik to, sambil menyelam minum air. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Mahasiswa PLS juga harus kenal dengan lembaga penyelenggara paudni sebagai habitatnya yang lain, diantaranya PKBM, TBM dan LKP, agar mereka tahu keunikan penyelenggaraan program di masing-masing lembaga penyelenggara sesuai dengan latar belakang pendidikan pengelola dan tutornya. Mereka juga akan paham bagaimana para pengelola dan tutor mensiasati njelimetnya administrasi pelaporan kegiatan, juga pandainya pengelola berakrobat memainkan dana program agar lembaganya tidak mengalami ‘on – off’. Sungguh pengalaman yang menarik ini bisa menjadi bahan skripsi atau dijadikan tulisa di majalah kampus.

Ya, mahasiswa PLS harus suka ngluthus, dan aktif berorganisasi, intra maupun ekstra kampus, sebagai bekal bermasyarakat kelak pasca wisuda. Mahasiswa PLS jangan hanya umek di kampus, membunuh waktu sambil ngerumpi cabe-cabean dan terong-terongan ala infotainment murahan sekadar kejar tayang dan tidak mendidik seperti di tipi-tipi itu, atau sekedar sibuk ngaji memperdalam agama, yang seringkali malah memunculkan radikalisme, melupakan niatan belajar, mengejar gelar sarjana pendidikan luar sekolah.[eBas

Sumber http://nonformalvoices.blogspot.sg/2014/06/mahasiswa-pls-dan-program-paudni.html

Tinggalkan Balasan