Makalah Pengembangan SDM, Program Pelaksanaan Diklat untuk Meningkatkan Kualitas Karyawan

3
Dibaca 40.592

Dosen Pembimbing:

Drs. I Nyoman Sudarka, MS.
Drs. Heru Siswanto, M.Si.

Disusun Oleh:

Mega Febrianti        (101034058)
Syarifah Eka R        (121034003)
Mirza Aribowo S.P  (121034212)
Gita Amanda Jesika (121034230)
Wahyu Dika A.P  (121034235)

PLS UNESA

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

Perkembangan dunia usaha di Indonesia saat ini mengalami pasang surut akibat krisis moneter yang terjadi di Negara kita. Selain itu perlu disadari bahwa Negara berada dalam suatu persaingan yang semakin ketat dan sebuah tantangan besar yaitu era perdagangan global. Tantangan bagi setiap perusahaan adalah menyiapkan diri  menghadapi globalisasi perekonomian untuk mendapatkan keuntungan secara maksimal sekaligus mengurangi kerugian dari persaingan global melalui sumber daya yang efektif dan efisien.

Peningkatan kualitas efektifitas dan efisiensi tidak hanya tergantung pada teknologi mesin – mesin modern, modal yang cukup dan adanya bahan baku yang bermutu saja. Namun, semua faktor tersebut tidak akan terjadi apa – apa tanpa adanya dukungan dari sumber daya manusia yang baik dan bisa mengembangkan kemampuan dan keahlian mereka serta menunjukkan peningkatan grafik produktivitas kerja.

Salah satu hal yang kongkrit untuk mendorong produktivitas tenaga manusia adalah pendidikan dan pelatihan.  Dengan program pelatihan yang efektif dan efisien, maka kemampuan yang diperoleh melalui pendidikan formal dan nonformal yang dimiliki karyawan akan turut meningkatkan kemampuan dan penguasaan akan pekerjaannya yang pada akhirnya berdampak pada produktivitas kerja yang baik.

B.   Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian diklat?
  2. Untuk apa diklat dilaksanakan?
  3. Apa fungsi diklat bagi kualitas para karyawan suatu perusahaan?
  4. Apa kelemahan dan kelebihan dari pelaksanaan diklat tersebut ?
  5. Bagaimana pelaksanaan diklat?

C.     Tujuan dan Manfaat

Dengan program pelatihan yang efektif dan efesien, maka kemampuan yang diperoleh melalui pendidikan formal dan pendidikan non formal yang dimiliki karyawan akan turut meningkatkan kemmapuan dan penguasaaan akan kerjanya yang pada akhirnya berdampak pada kualitas kerja yang baik.

BAB II
PEMBAHASAN

 

A.     Pengertian Pendidikan dan Pelatihan (diklat)

Pendidikan dan latihan (diklat) merupakan unsur yang mutlak dimiliki oleh individu sumber daya manusia yang berkualitas. Pentingnya diklat tersebut mengantar pengembangan sumber daya manusia. Karena itu,secara khusus pada hakekatnya diklat mengandung adanya aspek potensial,aspek fungsional, aspek operasional dan aspek kepemimpinan organisasi. Berdasarkan aspek-aspek tersebut, maka keberadaan diklat berperan penting di dalam meningkatkan dan mewujudkan potensi karyawan,profesional karyawan, fungsional karyawan, operasionalisme karyawan dan pengembanga karir karyawan yang dapat dilaluinya melalui proses diklat baik berupa diklat kepemimpinan, diklat profesi lewat kursus-kursus, diklat fungsional berdasarkan pembinaan dan pengembangan terhadap pelaksanaan pekerjaan secara khusus sesuai fungsinya, dan diklat operasisonal yang biasanya dilakukan untuk penerapan proses dan prosedur suatu pelaksanaan penerapan teknologi yang sesuai dengan prospeknya. Ada beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli yang berkenaan dengan pendidikan dan pelatihan. Notoatmodjo (1992) mengemukakan bahwa pendidikan dan

pelatihan adalah merupakan upaya untuk pengembangan sumberdaya manusia, terutama untuk pengembangan aspek kemampuan intelektual dan kepribadian manusia. Penggunaan istilah pendidikan dan pelatihan dalam suatu institusi atau organisasi biasanya disatukan menjadi diklat (pendidikan dan pelatihan). Unit yang menangani pendidikan dan pelatihan pegawai  lazim disebut PUSDIKLAT (Pusat pendidikan dan Pelatihan).

Kata diklat terdiri dari pendidikan dan pelatihan yang mengandung unsur adanya proses belajar. James O. Whittaker menyatakan : ”Learning my be defined as the process by which behavior originates or is altered through training or experience”. Belajar dapat didefiniskan sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau dirubah melalui pendidikan dan pelatihan atau pengalaman (Wasty Soemanto. 1990). Selain itu dinyatakan oleh ahli lain :“Much education involves transmitting to the young skills, beliefs, attitudes, and other of behavior which they have not previously acquired” (Wilbur B. Brookover. 1955 : 3-4).

Simanjuntak mengemukakan bahwa pendidikan dan pelatihan merupakan salah satu faktor yang penting dalam pengembangan sumberdaya manusia.Pendidikan dan Pelatihan tidak saja menambah pengetahuan,akan tetapi juga meningkatkan keterampilan bekerja,dengan demikian meningkatkan kualitas kerja. Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan

bahwa pengembangan sumber daya manusia dalam suatu organisasi adalah upaya peningkatan kemampuan pegawai yangdalam penelitian ini dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan dalam rangka mencapai tujuan organisasi secara efisiendan efektif. Selanjutnya ada yang membedakan pengertian pendidikan dan pelatihan,antara lain Notoatmodjo. Menurut Notoadmodjo (1992) pendidikan didalam suatu organisasi adalah suatu proses pengembangan kemampuan kearah yang diinginkan oleh organisasi yang bersangkutan. Sedang pelatihan merupakan bagian dari suatu proses pendidikan,yang tujuannya untuk meningkatkan kemampuan atau keterampilan khusus seseorang atau kelompok orang. Westerman dan Donoghue (1992) memberikan pengertian pelatihan sebagai pengembangan secara sistimatis pola sikap/pengetahuan/keahlian yang diperlukan oleh seseorang untuk melaksanakan tugas atau pekerjaannya secara memadai. Sedangkan Latoirner seperti dikutip oleh Saksono(1993) mengemukakan bahwa para pegawai dapat berkembang lebih pesat dan lebih baik serta bekerja lebih efisien apabila sebelum bekerja mereka menerima latihan dibawah bimbingan dan pengawasan seorang instruktur yang ahli.

Ottodan Glasser (dalamMartoyo,1992) menggunakan istilah“ t r a i n i n g ”( l a t i h an)  u n t u k   u s a h a – usaha peningkatan pengetahuan maupun keterampilan pegawai,sehingga d i d a l a mn y a  s u d a h  me n y a n g k u t  p e n g e r t i a n  “ e d u c a t i o n ”  (pendidikan). Mengenai perbedaan pengertian pendidikan dan pelatihan Martoyo (1992) mengemukakan bahwa meskipun keduanya ada perbedaan-perbedaan, namun perlu disadari bersama bahwa baik training (latihan) maupun development (pengembangan/pendidikan),kedua-duanya menekankan peningkatan keterampilan ataupun kemampuan dalam human relation.

B.       Macam – Macam Pelatihan
Berbagai jenis diklat (Pendidikan dan latihan) diselenggarakan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap pegawai/karyawan untuk penyesuaian tugas yang dipangkunya. Jenis-jenisnya antara lain:

  1. Pendidikan dan pelatihan prajabatan.
  2. Pendidikan dan pelatihan dalam jabatan:
  3. pendidikan dan pelatihan struktural;
  4. pendidikan dan pelatihan fungsional;
  5. pendidikan dan pelatihan teknis.

C.      Unsur-unsur Program Pelatihan

Secara umum pelatihan memiliki unsur-unsur sebagai berikut:

a. Struktur Program

b. Metode

c. Strategi

      d. Media

e. Pelaksanaan Program

f. Peserta

g. Fasilitator

h. Biaya

i. Panitia

j. Hasil yang diharapkan

Namun secara sederhana, Program pelatihan minimal memiliki unsur-unsur:

a. Peserta Pelatihan

Penetapan calon peserta pelatihan erat kaitannya dengan keberhasilan proses pelatihan yang pada gilirannya turut menentukan efektifitas pelatihan. Karena itu, perlu dilakukan seleksi yang teliti untuk memperoleh peserta baik, berdasarkan kriteria, antara lain:

1. Akademik, ialah jenjang pendidikan dan keahlian

2. Jabatan, yang bersangkutan telah menempati pekerjaan tertentu, atau akan ditempatkan pada pekerjaan tertentu.

3. Pengalaman kerja, ialah pengalaman yang telah diperoleh dalam pekerjaan.

4. Motivasi dan minat yang bersangkutan terhadap pekerjaan.

5. Pribadi, yang menyangkut aspek moril dan sifat-sifat yang diperlukan dalam pekerjaan tersebut.

6. Intelektual, tingkat berfikir dan pengetahuan diketahui melalui tes seleksi.

b. Pelatih (Instruktur)

Pelatih/instruktur pada kegiatan pelatihan memegang peranan penting terhadap kelancaran dan keberhasilan program pelatihan. Itu sebabnya, perlu dipilih pelatih yang ahli dan kompeten dibidangnya masing-masing. Ada beberapa syarat penentuan pelatih (Instruktur) antara lain:

1. Memiliki kompetensi dan kapabilitas di bidangnya masing-masing, yang dibuktikan dengan adanya sertifikat kompetensi.

2. Memiliki kepribadian baik yang menunjang profesinya sebagai pelatih.

3. Pelatih (Instruktur) yang berasal dari lingkungan/organisasi sendiri lebih baik dibandingkan dari luar.

D.    Manfaat Diklat

1.  Meningkatkan pengetahuan, keahlian, keterampilan, dan sikap untuk dapat melaksanakan tugas jabatan secara profesional dengan dilandasi kepribadian dan etika pegawai sesuai dengan kebutuhan instansi;

2.  Menciptakan aparatur yang mampu berperan sebagai pembaharu dan perekat      persatuan dan kesatuan;

3.   Memantapkan sikap dan semangat pengabdian yang

4.   Menciptakan kesamaan visi dan dinamika pola pikir dalam melaksanakan tugas

Tentang manfaat manajemen diklat beberapa ahli mengemukakan pendapatnya Robinson dalam M. Saleh Marzuki (1992 : 28) mengemukakan manfaat diklat sebagai berikut :

(a)Diklat sebagai alat untuk memperbaiki penampilan/kemampuan -individu atau kelompok dengan harapan memperbaiki performance organisasi;

(b) keterampilan tertentu diajarkan agar karyawan dapat melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan standar yang diinginkan

(c) pelatihan juga dapat memperbaiki sikap-sikap terhadap pekerjaan, terhadap pimpinan atau karyawan.

E. Tujuan Diklat

  1. Untuk meningkatkan keterampilan para karyawan sesuai dengan perubahan teknologi.
  2. Untuk meningkatkan produktivitas kerja organisasi.
  3. Untuk mengurangi waktu belajar bagi karyawan baru agar menjadi kompeten.
  4. Untuk membantu masalah operasional.
  5. Memberi wawasan kepada para  karyawan untuk lebih mengenal organisasinya.
  6. Meningkatkan kemampuan peserta latihan mengerjakan tugasnya yang sekarang.
  7. Kemampuan menumbuhkan sikap empati dan melihat sesuatu dari “kacamata” orang lain.
  8. Meningkatkan kemampuan menginterpretasikan data dan daya nalar para karyawan.
  9. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan para karyawan dalam menganalisis suatu permasalahan serta pengambilan keputusan.

F.      Kelebihan dan Kelemahan Pelaksanaan Program Diklat

Banyak pendapat yang meyakinkan bahwa melalui pendidikan dan pelatihan (diklat) dapat meningkatkan kompetensi diri seseorang. Kegiatan diklat didesain sedemikian rupa yang mencakup materi pokok dan materi penunjang serta kegiatan praktek lapangan. Sumber Daya Manusia (SDM) yang terlibat pun cukup banyak jumlahnya, baik sebagai fasilitator, pendamping kelas, panitia penyelenggara, serta mungkin adanya penceramah tamu, dan peserta diklat itu sendiri. Berikut adalah kelebihan dari dilaksanakannya diklat :

a. Peserta dapat meningkatkan diri baik kognitif, keterampilan , dan afektifnya.

b. Secara teoritis peserta dapat menambah ilmu, baik ilmu-ilmu materi pokok maupun     ilmu-ilmu materi penunjang.

c. Peserta dapat memperoleh pengalaman dalam praktek lapangan.

d. Peserta dapat saling bertukar pendapat dan pengalaman dalam diskusi kelompok, berpikir secara terbuka dan cerdas untuk menyampaikan ide-idenya.

Kelemahan Diklat :

Kelemahan dalam sistem Diklat yang ada saat ini adalah Diklat tidak dikaitkan dengan sistem analisis jabatan sehingga Diklat tidak mampu mengupgrade kemampuan pegawai dalam pelaksanaan tugasnya karena tidak sesuai antara materi Diklat dengan kebutuhan pegawai. Diklat juga tidak dikaitkan dengan sistem kompensasi atau pola karir pegawai, sehingga pegawai tidak termotivasi untuk melakukan diklat tersebut atau kalaupun termotivasi hanyalah sekedar lulus, agar tidak merasa malu ketika kembali ke institusinya.

G.  Proses Pelatihan

Pelatihan merupakan sebuah proses dimana orang mendapatkan kapabilitas untuk membantu pencapaian tujuan organisasional. Pelatihan memberikan pengetahuan, keterampilan serta mengubah sikap yang spesifik dan dapat diidentifikasi untuk digunakan dalam pekerjaan mereka dalam organisasi (Mathis-Jackson:2006). Dengan adanya pengetahuan dan ketrampilan diharapkan agar seseorang dapat melakukan pekerjaan atau tugas yang menjadi tanggung jawabnya dengan menggunakan sumber daya yang maksimal untuk mencapai hasil yang diinginkan sesuai waktu yang ditentukan dalam organisasi.

Program pelatihan harus mencakup sebuah pengalaman belajar dan merupakan kegiatan organisasional yang dirancang dan dirumuskan sebagai rancangan organisasi yang efektif terdiri dari 3 faktor utama, yaitu tahap identifikasi kebutuhan pelatihan, tahap pelaksanaan pelatihan dan tahap evaluasi pelatihan.

Terdapat empat tahap pada proses pelatihan yaitu; penilaian, perancangan, penyampaian, dan evaluasi. Penggunaan dari proses tersebut akan mengurangi terjadinya usaha-usaha pelatihan yang tidak terencana, tidak terkoordinasi, dan serampangan. (Mathis, 2006).

File Lengkap Silahkan DOWNLOAD dengan login terlebih dahulu, jangan lupa comentnya.

  Cover Makalah Pengembangan SDM (PLS UNESA) (10,9 MiB, 24 hits)
Jika link Download belum terlihat Silahkan anda login/register dsini . (download harus dalam keadaan login member)

  Makalah Pengembangan SDM (PLS UNESA) (578,3 KiB, 49 hits)
Jika link Download belum terlihat Silahkan anda login/register dsini . (download harus dalam keadaan login member)

3 KOMENTAR

  1. assallamualikum
    maaf saya ingin bertanya apakah file makalah (PLS UNESA) bisa saya edit ??
    tolong beritahu saya bagaimana caranya ya
    terima kasih

Tinggalkan Balasan