Melawan Kemiskinan di Pedesaan Melalui Pendidikan Luar Sekolah

0
Dibaca 1.403

Melawan  Kemiskinan  di Pedesaan Melalui Pendidikan Luar Sekolah

Oleh
Donny Ferdany Rafisaldy
PLS UM

LATAR BELAKANG MASALAH

Disiplin-disiplin ilmu pengetahuan yang tergolong sebagai ilmu-ilmu sosial mempunyai ruang lingkup studi mengenai berbagai aspek yang berkaitan dengan masalah-masalah sosial. Untuk dapat memahami secara mendalam mengenai hakikat masyarakat dan kebudayaan manusia. Yang membedakan antara satu displin dengan disiplin lainnya adalah penekanan perhatian dari masing-masing disiplin mengenai aspek-aspek tertentu dan cara-cara tertentu dalam pendekatannya untuk melihat, menganalisis, dan memahami masalah-masalah yang menjadi ruang lingkup perhatiannya.

Lebih lanjut, dalam masing-masing disiplin juga terdapat keanekaragaman dalam melihat dan mempelajari manusia. Keanekaragaman itu terwujud karena para ahli dari disiplin ilmu yang bersangkutan telah menggunakan perspektif yang berbeda-beda dalam melihat dan mempelajari masyarakat manusia, dan juga karena para ahli dari disiplin ilmu pengetahuan yang sama tersebut telah menekankan perhatian mengenai aspek-aspek dan masalah-masalah yang tidak sama yang ada dalam masyarakat dan kebudayaan yang menjadi studinya.

Saat ini, kita hidup dalam suatu abad yang dikenal sebagai zaman pembangunan (the age of development). Zaman di saat suatu gagasan mampu mendominasi dan mempengaruhi pemikiran bangsa-bangsa secara global, yang menyangkut gagasan pembebasan masalah kemiskinan dan keterbelakangan bagi berjuta-juta rakyat di dunia ketiga.

Di Indonesia, kata pembangunan sudah menjadi kata kunci bagi segala hal. Secara umum kata ini diartikan sebagai usaha untuk memajukan kehidupan masyarakat dan warganya. Dengan demikian pembangunan dapat diartikan sebagai proses memajukan atau memperbaiki suatu keadaan melalui berbagai tahap secara terencana dan berkesinambungan.

Studi ini di tampilkan berkat adanya keyakinan yang tersebar di kalangan para ahli usaha pembangunan. Pada akhir dasawarsa 60-an pembangunan daearah pedesaan negara-negara golongan miskin perlu lebih ditekankan, untuk maksud ini diperlukan pendekatan yang segar guna memenuhi kebutuhan penduduk pedesaan akan pendidikan[1].

Pada umumnya hubungan usaha pendidikan dengan pembangunan cukup jelas, tetapi sulit untuk memperincikannya dan mungkin cukup sulit untuk menilainya dengan cukup pasti. Karena banyak faktor yang saling terkait satu sama lain. Sehingga kedua kebutuhan itu kini bertambah mendesak dalam memenuhi dan menjawab tantangan dalam masyarakat.

Pada keadaan lazim usaha pendidikan menyerap sebagian besar anggaran belanja negara dibeberapa negara berkembang. Jumlah mutlak dari penduduk yang buta huruf masih tetap meningkat juga, dan jarang sekali tercapai mutu dalam lingkup pendidikan formal, selain itu meningkatnya populasi kehidupan tanpa diimbangi dengan kematian mengakibatkan anggaran belanja menjadi semakin berat jika hendak mengimbangi penambahan jumlah anak usia sekolah.

Mengingat betapa pentingnya pendidikan bagi angkatan sekarang dan angkatan masa depan, studi ini khusus menyorotkan perhatian pada corak pendidikan di luar sistem persekolahan formal. Diharapkan mengandung potensi besar untuk menunjang pembangunan pedesaan.

Pada umumnya seluruh usaha pembangunan nasional mengalami akibat krisis pendidikan,  namun yang menjadi korban utama ialah daerah pedesaaan. Alasannya ialah tiga macam: pertama, karena daerah perkotaan yang lebih banyak menerima jatah dari sumber daya jatah yang serba langka. Kedua, ketidaksesuaian di antara apa yang dipelajari di sekolah dan apa yang sebenarnya perlu dipelajari, lebih menyolok di daerah pedesaan. Ketiga, kebijaksanaan dalam bidang pendidikan memandang pendidikan terutama sebagai persekolahan formal, sedangkan kebutuhan pengajaran baik yang penting bagi kaum remaja maupun bagi penduduk dewasa/peserta didik luar sekolah, yang merupakan mayoritas dari penduduk di daerah pedesaan, diabaikan sama sekali[2].

Pekerjaan sosial adalah profesi yang belum banyak diketahui masyarakat Indonesia. Sebagian masyarakat menafsirkan secara keliru. Masyarakat masih beranggapan, pekerja sosial identitik dengan relawan. Padahal antara pekerja sosial dan relawan memiliki perbedaan, yaitu cara kerja dan mekanisme pertolongan kepada para penyandang masalah sosial. Relawan, senantiasa bekerja dan memberi pertolongan atas dasar balas kasihan atau dorongan amal.

Silahkan tinggalkan jejak koment pada artikel ini, Artikel lengkap silahkan download disini Melawan  Kemiskinan  di Pedesaan Melalui Pendidikan Luar Sekolah

 

Tinggalkan Balasan