Membedah Kartini Melalui Frame “Konco Wingking”

0
Dibaca 243

Perempuan memegang peranan penting dalam majunya peradaban suatu bangsa. Bagaimana tidak sudah banyak sekali bukti rengkuhan-rengkuhan kasih dan pengorbanan perempuan agar Indonesia bisa lahir ke dunia .Sebut saja tokoh masyhur, Raden Ajeng Kartini sebagai ‘iconic’ perjuangan kaum perempuan di Indonesia.

Raden Ajeng Kartini tidak hanya sekadar simbolisasi perjuangan kesetaraan bagi kaumnya . Tapi ia juga ibu bagi Indonesia menuju pekikan merdeka. Meski tidak serta merta Indonesia  lahir dari rahimnya , tetapi Indonesia wajib berterimakasih  lahir melalui pemikiran-pemikirannya yang luar biasa .

Raden Ajeng Kartini membangun sekaligus mewujudkan konsep wanita, ‘wani ing tata’. Sebuah konsep adiluhung  Jawa yang menempatkan wanita sebagai makhluk  yang memiliki posisi terhormat  dan bermartabat .

Semasa hidupnya, Kartini banyak mencari pemikiran-pemikiran agar derajat kaumnya bisa mendapat kesetaraan . Khususnya ,perempuan Jawa yang pada jamannya terbelenggu oleh kungkungan adat dan doktrin ‘Konco wingking‘. Kehidupan perempuan yang ‘ideal’ pada jaman itu banyak disandera oleh konsep yang dibentuk laki-laki.

Konco wingking menjadi hal lumrah ketika Kartini ada di jamannya . Pada masa itu wanita dipandang sebagai seorang ‘teman di belakang’ yang berperan sekadar di perapian, tempat tidur, dan sumur. Wanita dipandang seperti burung yang perlu dipingit  atau disangkarkan dari kehidupan luar termasuk dalam hal menempuh pendidikan .

Budaya patriarki yang sedemikian kental yang selanjutnya memegang andil mereduksi konsep  ‘wani ing tata‘ menjadi arah ‘konco wingking’. Konsep ‘wani’ sudah tidak lagi dimaknai sebagai perwujudan aktualisasi diri  keberadaan perempuan . Akan tetapi,lebih mengarah kepada pemenuhan kebutuhan suami yang pengejawantahannya  melalui semboyan “kasur,pupur, dan sumur “.

Perlahan namun pasti melalui usaha-usahanya yang gigih Kartini berhasil mempersembahkan jembatan perjuangan bagi kesetaraan perempuan Jawa di Hindia Belanda atau yang kelak  enam puluh enam tahun setelah kelahirannya  disebut Indonesia.

Melalui kerjasama dengan saudara dan saudarinya serta dorongan dari teman-teman Eropanya, Kartini berhasil membuka pintu kemajuan wanita . Dimulai dari di dirikannya Sekolah Kartini  hingga akhirnya terbentuk konsep baru yang menganggap laki-laki sebagai ‘partner‘ setara. Inilah  sekarang ,wanita Indonesia yang semakin cerdas ,terbuka wawasannya ,dan boleh bebas berkarya seperti yang diidam-idamkan .Perjuangan yang sungguh panjang dari seorang anak Bupati Jepara agar perempuan Indonesia mampu berdiri dengan kakinya sendiri.

Kartini sudah memulainya untuk kita maka mari kita lanjutkan . Salah satunya melalui Pendidikan Nonformal sebagai  pendidikan yang diakui dalam sistem pendidikan nasional.Melalui ranah pemberdayaan perempuan berusaha mewujudkan perempuan dan anak Indonesia yang berkualitas,mandiri,dan berkepribadian sesuai dengan cita-cita Nawacita .Melalui strategi berupa ‘pengarusutamaan gender’ dan ‘pengarusutamaan hak anak ‘.

Perjuangan kita masih belum berakhir ….
Perjuangan ini masih panjang dan berliku ….

“Tiada awan dilangit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam “ (Raden Ajeng Kartini )

Selamat Hari Kartini 2018
Kartini muda, bangunlah jiwanya

 

Ditulis oleh
Tentrem Restu Werdhani
Mahasiswi Pendidikan Luar Sekolah semester 2
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Yogyakarta

 

Tinggalkan Balasan