MEMBEDAH PELUANG KERJA LULUSAN PLS DALAM RELEVANSI ANTARA AKADEMIK DAN DUNIA KERJA

Habib Prastyo

Abstract : The breadth of scope outside the school education area requires the availability of PLS to develop themselves by providing usefulness in the world of work both individually and with the community and working with a group of network development initiatives, including stakeholders, are indispensable in the overall effort to fulfill the ever-changing needs of society and takes place in community has a variety of characteristics, then the contents of the program always leads to flexibility.

Keyword:   labor, Out of School Education, enterpreneurship.

PENDAHULUAN

Revolusi teknologi komunikasi dan informasi telah berdampak pada terjadinya perubahan-perubahan yang sangat cepat dalam berbagai aspek kehidupan bangsa-bangsa di dunia. Perubahan-perubahan ini telah memicu kesadaran baru dalam diri umat manusia, terutama yang terkait dengan potensi diri dan kekuatan kerjasama kelompok untuk berkembang dan kekuatan kerjasama secara kelompok. Dampak lain adalah adanya kebutuhan untuk mengubah tata nilai dan tata hubungan individu dan antara kelompok yang selama ini mengatur kehidupan ke arah hubungan yang lebih akomodatif dan lebih demokratis.

Mencerdaskan kehidupan bangsa bukan hanya melalui pendidikan formal saja, akan tetapi peran pendidikan non formal memiliki peran dan fungsi yang strategis sesuai amanat UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 26 yang menyatakan pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.

Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional.   Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan. Dan bagi penyelenggara setiap satuan pendidikan pada jalur formal dan nonformal wajib melakukan penjaminan mutu pendidikan. Penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud bertujuan untuk memenuhi atau melampaui Standar Nasional Pendidikan. (PP No. 19 Tahun 2005).

Kebijakan otonomi dan desentralisasi yang dilancarkan tahun 2000 ikut mewarnai perubahan-perubahan yang terjadi di dalam pendidikan di Indonesia, termasuk dalam pendidikan tenaga pendidik dan kependidikan, khususnya yang terkait dengan optimalisasi potensi dan budaya daerah di dalam pendidikan. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam kehidupan masyarakat, yang diperkuat dengan gerakan demokratisasi dan globalisasi pendidikan, tuntutan akuntabilitas publik terhadap kualitas lulusan lembaga pendidikan tenaga kependidikan semakin kuat. Hal ini dimungkinkan karena makin meningkatnya kesadaran masyarakat akan kualitas pendidikan, yang diperkuat dengan semakin ketatnya kompetisi lulusan setiap jenjang pendidikan untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Salah satu strategi pendidikan nasional yaitu relevansi pendidikan dengan upaya menciptakan keterkaitan dan kesepadanan antara pendidikan dan pembangunan dalam hal ini dunia kerja.   Keterkaitan dan kesesuaian antara pendidikan dan pembangunan semakin dirasakan karena beberapa kecenderungan, antara lain:

  1. kecenderungan umum dalam dunia pendidikan menunjukkan adanya perubahan cara berpikir yang memandang bahwa pendidikan semestinya menyiapkan peserta didik secara utuh, menyangkut pengetahuan, sikap, kemauan, dan keterampilannya yang fungsional bagi kehidupannya sebagai pribadi, warga negara dan warga masyarakat, serta usahanya mencari nafkah. Dengan demikian,   pandangan   mengenai pendidikan yang cenderung mengunggulkan kemampuan akademik saja tidaklah cukup tanpa harus melihat relevansinya dengan dunia luar yang senantiasa berubah: dunia kerja, dunia pendidikan yang modern, masyarakat modern, dan globaliasi, dan sebagainya jika kita tidak ingin tertinggal.
  2. Meningkatnya tuntutan dunia kerja terhadap pendidikan yang sejalan dengan tuntutan pembangunan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.
  3. Restrukturisasi dan persyaratan dunia kerja yang semakin kompetitif dan mengandalkan keahlian dalam bidang tertentu, tanpa mengabaikan wawasan dan pengetahuan secara interdisipliner.
  4. Populernya konsep pengembangan sumber daya manusia (SDM), yang mendapatkan tekanan kuat. Merupakan investasi untuk masa depan. Dalam kerangka SDM ini, keberhasilan pendidikan ditakar dengan menggunakan parameter-parameter yang terukur dan operasional seperti tingkat balikan (rate of return), indeks efesiensi dan efektivitas, dan lain-lain.

Untuk memberi layanan PNF tersebut diperlukan dukungan pendidik dan tenaga kependidikan yang dalam hal ini Pamong Belajar dan Penilik yang berstatus sebagai pegawai negeri (PNS). Disamping itu pendidik dan tenaga kependidikan yang berstatus bukan PNS adalah Tutor, Fasilitator Desa Binaan Intensif, Tenaga Lapangan Dikmas (TLD), Nara Sumber Teknis, Pamong PAUD.

PENGERTIAN PLS

Pendidikan Luar Sekolah (PLS) atau Pendidikan Nonformal (PNF) memiliki karakteristik yang berbeda dengan pendidikan persekolahan atau Pendidikan Formal yaitu salah satunya adalah pendidikan persekolahan memiliki keterbatasan waktu, ruang, fleksibilitas dan isi, maka PLS dirancang dari kebutuhan masyarakat dan berlangsung ditengah-tengah masyarakat tanpa membatasi usia dan jenis kelamin. Karena berangkat dari kebutuhan masyarakat yang selalu berubah dan berlangsung dalam masyarakat yang memiliki keragaman karakteristik, maka isi programnya selalu mengarah pada fleksibilitas. Artinya isi program disesuaikan dengan kondisi kebutuhan masyarakat yang memerlukannya.

Pendidikan Luar Sekolah (PLS) atau Pendidikan Nonformal (PNF) berfungsi sebagai pelengkap (complement), pengganti (substitute) dan penambah (supplement) pendidikan sekolah (UU No.20/2003 tentang Sisdiknas).
Program PNF diarahkan untuk memberi layanan pendidikan kepada warga masyarakat yang belum sekolah, tidak pernah sekolah (buta aksara) dan warga masyarakat yang membutuhkan layanan pendidikan melalui satuan-satuan PNF.
Berbagai program PNF yang dikembangkan terdiri :

1.       Pendidikan Keaksaraan diarahkan pada pendidikan keaksaraan fungsional (penurunan buta aksara usia 15 tahun keatas pada tahun 2014).

2.       Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-kanak (TK) yaitu agar anak dapat berkembang sesuai tingkat usianya dan berdampak pada kesiapan memasuki sekolah.

3.       Peningkatan pembinaan kursus dan pelatihan untuk memenuhi kebutuhan belajar masyarakat.

4.       Pendidikan kecakapan hidup yang dapat diintegrasikan dalam berbagai program PNF sebagai upaya kemampuan untuk hidup mandiri.

5.       Peningkatan Budaya Baca Masyarakat sebaga upaya mmelihara keaksaraan peserta didik melalui Taman Bacaan Masyarakat (TBM).

6.       Memperkuat Unit Pelaksana Teknis Pusat dan Daerah sebagai tempat pengembangan model program PNF.

Download File Lengkap

  MEMBEDAH PELUANG KERJA LULUSAN PLS DALAM RELEVANSI ANTARA AKADEMIK DAN DUNIA KERJA (34.7 KiB, 216 hits)


Loading...

Leave a Comment