Memilih Pemimpin

0
Dibaca 1.725

Pemilihan Rektor yang menjadi ajang 4 tahun sekali kembali terjadi di UNTIRTA, para calon telah bermunculan, baik dari internal kampus UNTIRTA maupun dari eksternal. Berbagai berita tentang perkembangan pemilihan rektor juga turut mewarnai media massa lokal, menjadi sebuah harapan bahwa pemilihan rektpr ini selain menjadi regenerasi kepemimpinan juga akan momentum perubahan Untirta menuju ke arah yang lebih baik.

Dalam pemberitaan beberapa media lokal pada hari Jumâ„¢at 10 Juni 2011 ada beberapa kesan menarik yang patut dikaji secara mendalam oleh kita, bagaimana koran koran lokal tersebut mengangkat tentang isu adanya persaingan antara internal dan eksternal dalam pemilihan rektor Untirta, bahkan ada yang mengangkat judul Internal Untirta Tidak Solid (BANTEN POS Hal. 2) Terlepas dari pernyataan beberapa orang yang diwawancarai, memang kita melihat bahwa pemilihan rektor Untirta saat ini antara calon internal dan eksternal Untirta berjumlah hampir seimbang. Berikut ini adalah nama nama calon rektor Untirta periode 2011 2015:

INTERNAL EKSTERNAL
Prof. Dr. H. Sholeh Hidayat Prof. Dr. Samun Jaja Rahardja
Dr. Ahmad Sihabudin Prof. Dr. Denny Kusniadie
Dr. Asnawi Syarbini Prof. Dr. Azyumardi Azra
Dr. Fatah Sulaiman Prof. Dr. Ahmad Hufadz
Dr. Kuswantoro
Dr. Sudadio

Saat ini kita coba untuk memposisikan diri bukan sebagai seorang hakim yang memutuskan Untirta harus dipimpin oleh kalangan Internal – dikarenakan lebih mengetahui permasalahan – ataukah oleh kalangan eksternal – dikarenakan belum adanya SDM yang berkualitas di Untirta –  akan tetapi kita mencoba untuk melihat kapasitas pemimpin (rektor) dalam segi teori kepemimpinan.

Pengertian Pemimpin

Di dalam kamus lisan Al Arab dijelaskan bahwa pemimpin adalah derivasi dari kata menuntun, lawan kata dari kata mendorong. Makna etimologis ini mengandung indikasi yang menarik, yaitu; tempat pemimpin adalah di depan sebagai penunjuk kebaikan dan pembimbing   ke arah keselamatan bagi pengikutnya.   Begitupun dengan rektor yang tidak lain adalah pemimpin sebuah universitas, maka dia haruslah menjadi penuntun bagi seluruh warga kampus dalam menuju kebaikan dan membimbing ke arah keselamatan agar tercapai tujuan yang dicita citakan selama ini.

Rektor adalah sosok pemimpin yang harus menjadi suri tauladan bagi pengikutnya, dalam buku mencetak pemimpin, DR Thariq M. As Suwaidan mengungkapkan dua sifat penting yang harus dimiliki oleh pemimpin.

Sifat Pertama : Kekuatan

Kekuatan berarti kepatutan, kecerdasan dan kemampuan menunaikan tugas. Masing masing tugas menuntut adanya kekuatan yang berbeda. Ibnu Tamiyah berkata, “kekuatan yang dibutuhkan untuk melaksanakan setiap pekerjaan tergantung kepada jenisnya. Kekuatan panglima perang, berupa keberanian hati, pengalaman tentang taktik dan seni perperangan, serta kemampuan mengatur pelbagai jenis pertempuran. Kekuatan pemimpin masyarakat berupa pengetahuan tentang keadilan yang diajarkan oleh Al Kitab dan Sunnah, serta kemampuan mengaplikasikan hukum.

Dalam buku Behaviour Organizational Meshan menyebutkan salah satu sifat pemimpin adalah mengetahui masalah yang dijelaskan bahwa “Pemimpin harus benar benar mengetahui urusan yang diaturnya serta kondisi dan lingkungan di sekitarnya, sehingga dia dapat membuat keputusan yang tepat dan tahu kapan harus menerima atau menolak suatu usulan

Jika kita mencoba untuk melihat permasalahan pemilihan rektor saat ini, maka seorang rektor haruslah sosok yang mempunyai kekuatan dalam memperjuangkan nama untirta dan mampu untuk menyelesaikan permasalahan permasalahan yang sedang dan telah terjadi di Untirta (kasus lahan Sindangsari, kampus baru untirta), ini adalah hasil diskusi kami dengan berbagai mahasiswa tentang kriteria rektor yang akan memimpin untirta.

Saat ini kemampuan dalam menyelesaikan permasalahan adalah sebuah hal yang patut untuk digarisbawahi, dikarenakan akan sangat ironi serta kontradiksi ketika kita mempunyai nama di tingkat nasional dikarenakan rektor kita, namun ternyata rektor tidak mengatahui dan tidak mampu untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi di dalam Untirta.

Sifat Kedua : Amanah

Kriteria pemimpin yang kedua adalah amanah, yaitu kejujuran, kepantasan menerima mandat, pengawasan internal dan kesigapan melaksanakan tugas. Ada beberapa aspek dalam amanah yang harus diperhatikan, di antaranya adalah :

1.       Profesionalitas

Orang harus bertekad untuk melaksanakan tugas yang diserahkan kepadanya secara profesional dan bekerja secara maksimal untuk menyelesaikannya. Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW, “Sesungguhnya Allah menyukai jika salah seorang di antara kamu bekerja, maka dia bekerja dengan cara yang terbaik. (H.R. Al Baihaqi)

Tidak menyalahgunakan jabatan demi kepentingan pribadi atau karib kerabat, atau untuk menghalang halangi kepentingan umum dan menghilangkan hak hak mereka.

Umar bin Khatab R.A. telah menggariskan sebuah aturan dan menjadi orang pertama yang mengaplikasikannya yaitu:, “orang yang memperkerjakan seseorang hanya dengan alasan kekeluargaan atau kekerabatan, dan tidak ada alasan selain itu, maka dia telah berkhianat kepada Allah, Rasul Nya dan kaum Mukminin

Profesionalitas inilah yang harus dimiliki oleh rektor yang akan memimpin untirta ke depannya, tidak mengidap penyakit KKN dan totalitas dalam berjuang.

2.       Memperkerjakan orang yang terbaik

Rasulullah bersabda, “Orang yang mempekerjakan seseorang dari suatu kaum, dan di kaum itu ada yang lebih baik dan lebih diridhai Allah daripada yang diperkerjakannya, maka dia telah berkhianat kepada Allah, berkhianat kepada Rasul Nya dan berkhianat kepada kaum Muslimin (H.R. Al Hakim)

Dalam hadis lain Rasulullah bersabda “Jika suatu urusan dimandatkan kepada selain ahlinya, maka nantikanlah kiamat. (H.R. Al Bukhari)

Dalam kedua hadis tersebut mengandung makna bahwa amanat haruslah diberikan kepada yang tepat, seorang pemimpin haruslah dapat memperkerjakan orang yang dapat memegang amanah dan membantunya dalam mencapai sebuah tujuan. Hal ini tidak akan dapat tercapai ketika pemimpin tidak mengenali siapa saja orang yang berada di dalam dan apa yang menjadi kemampuan dari orang tersebut.

Jika rektor Untirta tidak mengetahui siapa saja yang menjadi bawahannya serta kemampuannya, maka niscaya sehebat dan seterkenal apapun rektor tersebut, maka pekerjaannya tidak akan pernah selesai dikarenakan tidak dapat memilih orang yang tepat.

Semoga dengan pembahasan di atas maka akan dapat ditentukan figur manakah yang cocok dalam memimpin Untirta kedepannya, bukan dari segi perasaan dan praduga duga, tapi berdasar pada analisa kebutuhan dari kita yang merindukan kejayaan UNTIRTA di masa depan.

Wallahuâ„¢alam bish showab

Panji

13062011

04.43

Tinggalkan Balasan