MENATAP KEDEPAN PENDIDIKAN ABK

Beberapa waktu yang lalu pada tanggal 28 Desember 2015 Komunitas Ojo Leren Dadi Wong Apik melakukan pertemuan atau biasanya disebut refleksi akhir tah...

DETIK-DETIK RAPAT KERJA NASIONAL (RAKERNAS) V IMADIKLUS
Delapan Point Penting dalam Kongres V IMADIKLUS 2015

Beberapa waktu yang lalu pada tanggal 28 Desember 2015 Komunitas Ojo Leren Dadi Wong Apik melakukan pertemuan atau biasanya disebut refleksi akhir tahun. Pertemuan ini berlangsung di Bojonegoro, tepatnya di OBiTC (Omah Biasa Training Center) Dusun Ngemplak, Desa Ngampal, Kecamatan Sumberrejo. Pertemuan kali ini dihadiri oleh beberapa orang, diantaranya Bapak Lukman Hakim, Bapak Totok Isnanto, Bapak Kentar Budhojo, Bapak Nafik Naff, Kakak Rubi, Bu Wiwin, Bu Ita Guntari dan semua yang ikut hadir dalam pertemuan ini. Beberapa orang yang hadir terdiri dari DINAS pendidikan, Motivator, Kreator Pendidikan Alternatif, Akademisi, BPPAUDNI, Pendongeng, Guru PAUD dan Masyarakat. Thema dalam Pertemuan ini Menyiapkan tenaga yang siap memberikan layanan kepada ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) dengan sepenuh hati. Kesepakatan yang diambil dari acara ini yaitu akan selalu mengawal kebutuhan Anak Indonesia.

Nuansa kekeluargaan sangat terasa dalam pertemuan ini, dengan diselingi canda tawa dari setiap anggota. Tak kalah dengan suasana kekeluargaan yang terasa, penyambutan yang sangat istimewa juga terasa disini, Pemilik dari OBiTC yaitu Pak Jumhadi memberikan jamuan yang special khas Bojonegoro dan menu-menu masakan orang desa.

Komunitas Ojo Leren Dadi Wong Apik ini sudah melakukan pertemuan selama tiga kali yang pertama berlangsung di Surabaya, yang kedua berlangsung di Malang dan yang ketiga ini berlangsung di Bojonegoro. Pada pertemuan ketiga ini topic yang dibahas mengenai Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Karena sampai saat ini jumlah ABK terus meningkat.

Permasalahan yang selama ini terjadi yaitu:

  1. Masih rendahnya kesadaran orang tua/keluarga untuk menyekolahkan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
  2. Masih rendahnya pemahaman pejabat mengambil kebijakan terhadap pentingnya pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
  3. Belum dipahaminya konsep pendidikan inklusif oleh pejabat pengambil kebijakan, sekolah umum, dan masyarakat
  4. Tingginya biaya pendidikan operasional untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
  5. Belum semua kabupaten/kota mengalokasikan dana anggaran yang memadai untuk pendidikan khusus baik untuk SLB atau Pendidikan Inklusif
  6. Pengangkatan tenaga pendidik dan kependidikan untuk Pendidikan Khusus sangat kurang/belum menjadi prioritas
  7. Belum semua SLB dan/atau sekolah inklusif memiliki sarana dan prasarana khususnya media pembelajaran yang memiliki standar pendidikan
  8. Belum semua kecamatan mempunyai pelayanan pendidikan inklusif sesuai jenjang sebagaimana Permendiknas Nomor 70 tahun 2009 tentang pendidikan inklusif sebagai upaya perluasan akses pendidikan
  9. Belum optimalnya fungsi pengawas pendidikan khusus

Pada dasarnya Anak Berkebetuhan Kusus mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan seperti anak normal. Seperti yang terdapat dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 System Pendidikan Nasional pasal 5 ayat 1 Setiap warga Negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Ayat 2 warga Negara yang mempunyai kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau social berhak memperoleh pendidikan khusus. Dan pasal 5 setiap warga Negara berhak mendapat kesempatan meningkatkan pendidikan sepanjang hayat.

Dalam Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang System Pendidikan Nasional Pasal 4 Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkelanjutan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hal asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.

Dari penjelasaan ini maka Komunitas Ojo Leren Dadi Wong Apik terus berupaya memperjuangkan pendidikan untuk ABK. Adapun Strategi yang dilakukan diantaranya:

  1. Pendataan/validasi data anak ABK dan lembaga
  2. Memperluas akses layanan pendidikan
  3. Meningkatkan kapasitas/kemampuan Guru Pendampung Kusus TK dan Guru Umum
  4. Memperbaiki sarana dan prasarana pendidikan
  5. Meningkatkan peran dan fungsi SLB sebagai pusat sumber belajar
  6. Sosialisasi dan advokasi pendidikan inklusif
  7. Meningkatkan kerjasama dengan PTN/PTS

Meskipun dalam pengupayaan pendidikan nonformal sangat susah terlebih dalam masalah izin untuk melakukan pendidikan, Komunitas Ojo Leren Dadi Wong Apik terus berjuang memberikan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Misalnya perjuangan yang dilakukan Bu Ita (Pemilik dari PKBM Insan Cerdas Indonesia, yang berada di Surabaya) untuk memberikan program Paket C Kejuruan.

Semoga dengan perjuangan dari setiap orang untuk memberikan pendidikan yang terbaik di Indonesia dapat terwujud. Agar Indonesia tidak hanya menjadi Negara yang kaya akan Sumber Daya Alam tetapi juga mempunyai Sumber Daya Manusia yang berkualitas.

Indonesia yang bijak,

Menjadilah masyarakat yang kritis dan bijak dalam menambil Keputusan

Indonesia membutuhkan masyarakat yang mampu menggerakkan masyarakat.

Teruslah bersemangat, jangan menyerah.

Demi menyejahterakan masyarakat Indonesia kita tercinta. 🙂 🙂 🙂

Indonesiaku, aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku………..

Foto-foto Kegiatan

934073_741911339241749_9031168710907750223_n

1622175_741911452575071_8059723508347048822_n

3084_741911222575094_1043688788838608232_n

Artikel ini ditulis dan dikirim oleh:
Rinawati Rafi’ah
PNF/PLS UNESA 2013
Email: rinawatirafiah41@gmail.com

COMMENTS

WORDPRESS: 0