‘Mendidik’ Papa dan Mama

0
Dibaca 718

When I was just a little girl

I asked my mother what will I be

Will I be pretty

Will I be rich

Here’s what she said to me

Que sera sera

Whatever will be will be

The future’s not ours to see

Que sera sera

Lirik lagu Que Sera Sera yang mulai populer di tahun 1956 ini bisa menggambarkan, tidak ada yang tahu bagimana masa depan seorang anak dikemudian hari. Anak tidak bisa memilih, terlahir dalam keluarga yang seperti apa. Anak juga tidak bisa memilih, terlahir dengan cacat atau sempurna. Terlahir dengan cerdas atau malah keterbelakangan mental.

Pengembangan kecerdasan jamak ang mencakup delapan aspek, akhir- akhir ini galak di suarakan di sekolah- sekolah. Tapi, bisakah durasi waktu antara dua sampai delapan jam di sekolah mengembangankan delapan asepek kecerdasan tersebut?

Tidak!

Bisa! Tentu bisa!

Barangkali bisa?

Jawaban bervariasi inilah yang pasti bakal bermunculan. Sekolah banyak yang berbondong- bonding menyodorkan program- program mahal pada orang tua. Program- program tersebut bakal makin laris apalgi ketika di bubuhi bahasa asing.

Orang tua ingin yang terbaik! Ya! Tentu saja. Sebagian besar orang tua yang sehat rohaninya pasti ingin hal- hal terbaik bagi putra putrinya. Tapi, yang sering dilupakan adalah, mampukan program secanggih apa pun mendominasi apa- apa yang di serap anak di rumah dan lingkungan, setelah dua jam hingga delapan jam di sekolah?

Belum banyak orang tua yang menyadari, bahwa sebenarnya pendidikan yang ada di sekolah tidak bakal banyak menunjang perkembangan anak ketika pendidikan dirumah tidak berimbang dengan yang ada disekolah.

Seorang anak di ajari mandiri untuk memakai sepatu dan menyiapkan peralatan belajar sendiri di sekolah. Si anak akan menyesuaikan diri dengan pendidikan tersebut. Di sekolah, dia bisa mandiri memakai sepatu dan menyiapkan peralatan belajar sendiri. Tapi dirumah? Orang tua si anak memperlakukan seolah si anak belum bisa berperilaku mandiri. Sepatu dan perelatan belajar seluruhnya di persiapkan oleh orang tua. Dengan demikian, si anak akan melakukan trial and error. Dia akan mencoba beberapa model perilaku dan melihat bagaimana respon orang dewasa di sekelilingnya.

Di sekolah, dia akan mendapat teguran apabila tidak belajar mandiri.Sedangkan dirumah, dia tidak mendapat teguran ketika tidak belajar mandiri. Si anak akan melaksanakan peraturan di sekolah hanya pada waktu di sekolah saja. Sedangkan dirumah dan lingkungan, dia akan berperilaku berbeda.

Perbedaan sikap antara sekolah dengan orang tua inilah yang seringkali belum di perhitungkan. Lagi- lagi sekolah- sekolah berebut menawarkan program yang secanggih mungkin pada orang tua.

Beberapa sekolah memang sudah menerapkan pertemuan orang tua untuk membahas perkembangan anak. Tapi, pertemuan masih sering bersifat umum dan satu arah. Pertemuan sekadar bersifat informatif tanpa menyentuh kehidupan nyata pendidikan anak diluar sekolah.

 Perlu ada bimbingan personal dari tenaga ahli di sekolah dalam mengembangkan parenting efficacy atau kemampuan diri seseorang untuk menjadi orang tua. Perlu ada penyambung yang menyuarakan bagaimana pendidikan yang di terapkan sekolah dan bagimana pendidikan yang di terapkan dirumah. Kemudian di ambil titik tengah agar pendidikan dirumah dan sekolah menjadi berimbang.

Di sekolah, ada seorang anak ada yang susah sekali di sentuh hatinya. Susah sekali mendengarkan nasihat atau aturan- aturan yang ada di sekitarnya. Bisa jadi anak yang demikian tidak pernah menerima pelukan hangat atau sekadar sapaan hangat dari orang tua atau orang yang mengasuhnya dirumah. Anak sekadar dikirim ke sekolah dengan harapan menjadi lebih baik. Padahal, hati anak yang susah di sentuh tersebut mustahil dirubah di sekolah. Anak berada di sekolah hanya dua sampai delapan jam!

Sebagai intitusi yang memiliki disiplin ilmu terkait pendidikan, anak- anak dan keluarga. Lembaga bisa menjadi jembatan agar orang tua menyadari pentingnya parenting efficacy sehingga terjadi keselarasan yang berujung pada perubahan perilaku anak yang lebih baik. Bagi seorang anak, pendidikan yang utama dan pertama sesungguhnya adalah keluarga.

Penulis

Nama              : Poppy Trisnayanti Puspitasari
Asal                 : Jurusan Pendidikan Luar Sekolah FIP UM
Twitter           : @TrisnayantiP
Blog                : http://semangkaaaaa.blogspot.com

Tinggalkan Balasan