Menemukan PLS di Dunia Nyata (Bagian 1)

Hari-hari ini aku mulai berpikir ulang tentang rencana kehidupanku kedepan. Mengapa? Apakah ada sesuatu yang tidak benar? Atau ada sesuatu yang belum ...

BANGGA MENJADI MAHASISWA PLS
Pelatihan Website Imadiklus.com

Screenshot_17

Hari-hari ini aku mulai berpikir ulang tentang rencana kehidupanku kedepan. Mengapa? Apakah ada sesuatu yang tidak benar? Atau ada sesuatu yang belum terncana? Aku anggap saja sesuatu yang seolah-olah kita anggap tidak ada, padahal memang ada. Apakah itu? Mari kita bahas melalui cerita nostalgia dahulu.

Pendidikan Luar Sekolah merupakan jurusan yang dahulu aku pilih ketika mengikuti Ujian Seleksi Masuk PTN. Suatu jurusan yang mungkin tidak asing bagi telingaku karena aku dibentuk dalam dunia pendidikan di luar sekolah. Ketika aku kecil aku mengikuti Taman kanak-kanak yang mungkin dapat disepadankan dengan PAUD. Kemudian dilanjutkan mengikuti sekolah minggu di Gereja yang menurutku juga dapat disebut pendidikan diluar sekolah. Setelah itu ketika aku sampai dirumah, ayah dan ibuku mengajarkan aku cara berdoa yang benar dan bagaimana membaca kitab suci. Bagaimana beliau juga menceritakan kisah-kisah yang ada dikitab suci juga sering dilakukan ketika kami liburan.

Berlanjut kemudian ketika masuk Sekolah Dasar, karena melihat berbagai masalah dalam belajarku, orang tua menyarankan saya untuk mengikuti kursus mata pelajaran yang sangat sulit untuk saya pelajari. Ada pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, IPA dan IPS. Waktu bermain saya dihabiskan untuk belajar dan sepertinya jujur, saya lebih mengerti belajar di kursus dibandingkan belajar di ruangan kelas. Aku anggap itu sesuatu yang sangat wajar dan biasa saja, karena aku mungkin belum menyadari bahwa ada sesuatu didalam kewajaran itu.

Berlalu lagi ketika masuk ke jenjang selanjutnya. Saya masuk kesebuah lingkungan asrama yang berbasis agama dimana terdapat jadwal bangun, belajar, makan dan Ibadah yang sudah diatur secara sistematis dan baku sehingga diwajibkan untuk menaati atau diberikan sanksi. Dan aku berhasil menjalani kehidupan disana sela 6 tahun walau beberapa kali berpikir untuk keluar karena sangat ketatnya aturan yang ada di tiga tahun pertama. Dalam tiga (3) tahun itu saya melihat banyak teman-teman saya yang keluar dari asrama karena tidak kuat dengan aturan. Alhasil yang saya lihat adalah, asrama tersebut merupakan asrama anak-anak yang pintar di sekolah dan menjadi juara umum. Ketatnya aturan membuat semua anak-anak pintar dan penurut dapat berkembang dan anak-anak yang tidak seperti mereka cenderung keluar dan lebih memilih tidak berasrama lagi.

Di tiga (3) tahun berikutnya saya semakin dewasa dan bertepatan dengan bergantinya aturan serta pemimpin diasrama yang baru. Kali ini banyak aturan di asrama kami yang lebih humanis dan menyesuaikan dengan diri dan karakter penghuni asrama. Setelah itu, asrama kami berubah 180 derajat dimana seluruh siswa yang pintar dan penurut memilih untuk tidak berasrama lagi dengan melihat keadaan asrama yang sangat tidak kondusif bagi mereka untuk belajar. Kemudian kebanggaan asrama yang dahulu dikenal sebagai “pembentuk” siswa berprestasi berubah menjadi markas siswa nakal dan memang hampir seluruh siswa yang masuk berubah menjadi siswa yang mempunyai masalah. Tetapi saya justru belajar dalam tiga (3) tahun tersebut. Ada sebuah ketidakwajaran yang dahulu belum saya sadari juga.

Setelah itu masuk di dunia perkuliahan. Bagi mereka yang sedang SMA kedengarannya asik, tidak ada aturan yang ketat seperti di SMA, pakaian bebas, kuliah dosennya jarang masuk karena penelitian, dan berbagai hal yang menurut saya dahulu adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Tetapi semua berubah setelah saya mengalami perkuliahan yang menurut saya diluar perkiraan saya. Saya berpikir kuliah itu menambah ilmu yang sangat luar biasa yang dapat menambah pengetahuan saya untuk menggapai cita-cita. Tetapi kenyataannya saya malah merasa tidak belajar secara utuh pengetahuan yang baru karena saya pikir semua yang saya alami di dalam hidup dan proses belajar menuju kuliah sudah mengalaminya walaupun saya tidak belajar teori-teori yang disampaikan para ahli. Disana seluruh ekspektasi saya berubah menjadi sebuah kebingungan dan pertanyaan mengapa saya harus belajar kalau saya telah mempelajarinya dan mungkin orang lain yang bukan jurusan saya juga tahu dan mungkin mengerti apa yang saya pelajari. Pendidikan Luar Sekolah itu keilmuan atau sebuah pengalaman yang dijadikan jurusan? (Bersambung….) Selanjutnya Menemukan PLS di Dunia Nyata (Bagian Ke 2)

COMMENTS

WORDPRESS: 1
  • comment-avatar

    Mantap ini klo bukan dari kegelisahan pribadi tidak akan tercipta tulisan seperti ini saya tunggu lanjutanya , dan rasakan menuliskan apa yang kita pikirkan itu bikin laparrrr