MODEL KECAKAPAN HIDUP (LIFE SKILL) PADA KEAKSARAAN FUNGSIONAL (KF)

Artikel Hasil Penelitian Skripsi Pendidikan Luar Sekolah

Model Penyelenggaraan dan Pengembangan Program Keaksaraan Fungsional

Thoriq Imawan (1201402025)


MODEL KECAKAPAN HIDUP (LIFE SKILL) PADA

KEAKSARAAN FUNGSIONAL (KF)

(Studi Kasus Kelompok Belajar KF di Desa Kedungjati Kecamatan Kedungjati Kabupaten Grobogan)

Oleh: Akhmad Aqil Aziz

Abstract

The implementation of  “PLS that always developes is a functional literacy programme. This program is one of thereal effort of the society enpowerment besides to realize the instruction of the law and the goverment regulation. The problem of this case is what the kind of implementation and functional literacy programe development in the study club of functional literacy in Desa Candigaron Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang and the benefit after joining in the program. The result of observation is the sort of the implementation and development of KF program in KF study club in Candigaron is divided into 4 step, they are: 1) Preparation, 2) Implementation, 3) Evaluation, 4) Advance action. Also the development that is held consits 10 public education criteria, they are: 1) The quality improvment of tutor, 2) The development of study materials, 3) The development of study media, 4) The development of study methode, 5) The development of facility, 6) The development of evaluation the results or the benefits that are got by the student after joining KF program are releasing their illiterate (buta huruf) and getting the skill of agricultural that is very worthy for their wealthy (prosperity).

Key Word : Implementation, Development, Functional Literacy

PENDAHULUAN

Penyelenggaraan pendidikan luar sekolah yang akan terus dikembangkan adalah program keaksaraan fungsional (functional literacy). Program ini selain memenuhi amanat undang-undang dan peraturan pemerintah, juga merupakan komitmen bersama para Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam koferensi yang dilaksanakan di Jomiten Thailand pada tahun 1990 yang didukung dan diselenggarakan oleh UNESCO, UNICEF, World Bank, UNFPA dan UNDP.

Program keaksaraan fungsional adalah implementasi sebuah konsep pembelajaran berbasis masyarakat (community based learning), sebagaimana yang dikatakan Fasli Jalal (2001) bahwa pendidikan sebagai tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat yang dilaksanakan dalam bentuk community based learning, yaitu pembelajaran yang dirancang, diatur, dilaksanakan, dinilai dan dikembangkan oleh masyarakat yang mengarah pada usaha untuk menjawab tantangan yang ada di masyarakat.

Program keaksaraan fungsional dapat dijumpai pada pendidikan luar sekolah. Kehandalan PLS mampu memberikan akses pada masyarakat untuk berperan serta sebagai pelaksana, pengembang, pelembaga dan pemanfaatan program PLS untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan yang terus berubah setiap saat. Metode belajar PLS yang fleksibel dalam hal waktu, tempat, cara dan program belajar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang beragam dan cepat menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi di masyarakat.

Warga masyarakat yang kurang dalam hal pendidikan perlu ditangani sehingga terhindar dari buta huruf, maka dari itu pemerintah mencanangkan Program Pemberantasan Buta Huruf yang memberikan dampak positif bagi masyarakat yang belum mengenyam pendidikan sama sekali. Atas dasar itulah lahir suatu gagasan sekaligus komitmen untuk menyelenggarakan program Keaksaraan Fungsional (KF) sebagai wujud dari pendidikan dasar. Penduduk Indonesia sejumlah 15,5 juta jiwa menyandang buta aksara diantaranya Propinsi Jawa Tengah sebanyak 729.488 orang dengan usia antara 14-44 menyandang buta huruf (BPS, 2005). Penduduk usia produktif yang putus sekolah dasar sebanyak 462.425 orang, putus sekolah lanjutan tingkat pertama sebanyak 136.046 orang dan sekolah lanjutan tingkat atas sekitar 56.213 orang (Sumber BPS, 2005). Program keaksaraan fungsional sangat diperlukan untuk menuju Desa Tuntas Buta Aksara sesuai anjuran Gubernur Jawa Tengah.

Klasifikasi warga belajar KF terdiri dari aksarawan baru dan aksarawan lanjutan. Warga belajar yang berasal dari latar belakang ekonomi yaitu berasal dari penduduk miskin dan termajinalkan, sedangkan jika dilihat dari sisi geografi mereka berasal dari daerah terpencil atau masyarakat pinggirang yang tidak berkesempatan memeperoleh akses atau peleyanan pendidikan yang memadai. Kebutuhan belajar yang multilevel (beragam kemampuan) tersebut mengakibatkan program KF dikelompokkan dalam tiga tahap keaksaraan yaitu pemberantasan (basic literacy), pembinaan (middle literacy), dan pelestarian (self learning).

Fokus penelitian pada dasaranya adalah masalah yang bersumber pada pengalaman peneliti atau melalui pengetahuan yang diperolehnya melalui keputusan ilmiah maupun keputusan lainnya (Moleong, 2001:65). Rumusan masalah atau fokus dalam penelitian kualitatif bersifat tentratif, artinya penyempurnaan fokus atau masalah tetap dilakukan sewaktu penelitian sudah berada dilatar penelitian. Penelitian ini memfokuskan pada:

  1. Bagaimanakah penyelenggaraan program model kecakapan hidup (life skill) pada keaksaraan fungsional (kf) di desa kedungjati kecamatan kedungjati kabupaten grobogan?
  2. Bagaimanakah model pengembangan program model kecakapan hidup (life skill) pada keaksaraan fungsional (kf) di desa kedungjati kecamatan kedungjati kabupaten grobogan?
  3. Apakah manfaat yang dirasakan warga belajar setelah mengikuti program kecakapan hidup (life skill) pada keaksaraan fungsional (kf) di desa kedungjati kecamatan kedungjati kabupaten grobogan?

Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

  1. Mendeskripsikan Penyelenggaraan Program model kecakapan hidup (life skill) pada keaksaraan fungsional (kf) di desa kedungjati kecamatan kedungjati kabupaten grobogan.
  2. Mendeskripsikan Pengembangan Model Penyelenggaraan dan Program model kecakapan hidup (life skill) pada keaksaraan fungsional (kf) di desa kedungjati kecamatan kedungjati kabupaten groboganK.
  3. Mendeskripsikan manfaat yang dirasakan warga belajar setelah mengikuti Program model kecakapan hidup (life skill) pada keaksaraan fungsional (kf) di desa kedungjati kecamatan kedungjati kabupaten grobogan.

Penelitian tentang Studi Model Penyelenggaraan dan Pengembangan model kecakapan hidup (life skill) pada program keaksaraan fungsional (kf) diharapkan dapat diambil manfaatnya adalah sebagai berikut:

  1. Manfaat teoritis hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan terhadap pengembangan pendidikan luar sekolah di masyarakat.
  2. Manfaat praktis penelitian adalah diharapkan dapat dijadikan acuan dalam pengambilan kebijakan, terutama dalam mengelola, membina, dan melaksanakan program Keaksaraan Fungsional bagi penyelenggara serta bermanfaat bagi kelompok belajar keaksaraan fungsional.

KAJIAN PUSTAKA

Program Keaksaraan Fungsional

Pengertian Keaksaraan Fungsional

Program keaksaraan fungsional adalah sarana terpenting untuk menciptakan manusia yang kritis, apresiatif, dan dinamis dalam rangka mengelola kehidupan kemanusiannya, terutama bagi warga masyarakat yang karena berbagai hal tidak terlayani oleh pendidikan sekolah.

Pendidikan abad 21 yang diketuai oleh Jacgues Delors kepada UNESCO, “Belajar Harta Karun di Dalamnya seperti dikutip dari Napitupulu (1994:4) yang menegaskan adanya dua buah prinsip pendidikan (termasuk PLS) yang harus selalu diperhatikan dan dipegang teguh oleh setiap pendidik dan pembudaya bangsa yaitu:

  1. 1. Bahwa pendidikan itu berlangsung sepanjang hayat (life long education), dan tiada batas usia untuk belajar.
  2. Terdapat empat sendi atau pilar utama yaitu: a) belajar mengetahui (Learning to know); b) belajar berbuat (Learning to do); c) belajar hidup bersama, hidup dengan orang lain yang memiliki keanekaragaman (Learning to live together, to live with other); dan d) belajar menjadi seseorang (Learning to be).

Program keaksaraan fungsional utamanya ditujukan untuk mengembangkan layanan pembelajaran bagi masyarakat miskin (Providing Acces to the poor). Upaya memberantaskan ketunaaksaraan dan mensemestakan pendidikan dasar, serta dalam usaha memberikan pendidikan berkelanjutan terhadap para aksarawan baru, maka Direktur Jenderal UNESCO pada tanggal 23 Februari 1987 meluncurkan program APPEAL (Asia Pasifik Programme of Education For All), yang di Indonesia diselenggarakan melalui program keaksaraan fungsional. Upaya pengembangan keaksaraan fungsional dewasa ini merupakan keharusan dan kewajaran, karena program keaksaraan fungsional perlu terus mengembangkan dirinya untuk lebih berperan dalam memenuhi minat dan kebutuhan warga belajar masyarakat.

Menurut Napitupulu (1998:4) “Keaksaraan dibataskan secara luas sebagai pengetahuan dasar dan keterampilan yang diperlukan oleh semua didalam di dunia yang berubah cepat, merupakan hak asasi manusia . Program keaksaraan fungsional (KF) dapat terlaksana dengan baik jika dapat termotivasi serta memberdayakan warga masyarakat yang menjadi sarana didiknya, sehingga sesuai dengan kebutuhan belajar dan keadaan masing-masing daerah, maka prinsip-prinsip berikut perlu diperhatikan: konteks lokal, desain lokal, proses partisipatif, dan penerapan atau fungsionalisasi hasil belajar.

Tujuan Program Keaksaraan Fungsional

Penyelenggaraan program keksaraan fungsional mempunyai tujuan yang ingin dicapai, tujuannya adalah:

  1. Tujuan Umum

Warga belajar memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang dapat dikembangkan untuk pengembangan diri, mencari nafkah dan melanjutkan pendidikan.

  1. Tujuan Khusus

1)           Meningkatkan pengetahuan warga belajar sejalan dengan perkembangan IPTEK.

2)           Meningkatkan kemampuan sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat.

3)           Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan warga belajar untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Sepuluh Patokan PLS

Aspek-aspek pelaksanaan penyelenggaran program keaksaraan fungsional harus memperhatikan komponen-komponen yang menjadi penentu keberhasilan program keaksaraan fungsional yaitu meliputi patokan 10 program PLS diantaranya: warga belajar, sumber belajar, pamong belajar, sarana belajar, tempat belajar, dana belajar, ragi belajar, kelompok belajar, program belajar dan hasil belajar.

Tempat Belajar

Gambar : Hubungan fungsional komponen-komponen 10 patokan PLS

(Direktorat Pendidikan Masyarakat, 2005:11)

Usaha Penyelenggaraan Program Keaksaraan Fungsional

Secara umum Penyelenggaraan Program Keaksaraan Fungsional dirancang sedemikian rupa sehingga merupakan suatu proses pendidikan dasar. Usaha tersebut terdiri dari beberapa tahap antara lain, yaitu: tahap persiapan, tahap pelaksanaan, tahap evaluasi, dan tahap tindak lanjut.

Pengembangan Program Keaksaraan Fungsional

Pengembangan adalah proses, cara, perbuatan mengembangkan (Kamus Besar Indonesia, 1990). Penelitian pengembangan adalah penelitian yang digunakan untuk mencari informasi dari berbagai tingkatan umur serta bagaimana mereka tumbuh dan berkembang (Consuelo G Sevilla, 1993:81). Pengembangan Program Keaksaraan Fungsional pada penelitian ini mencakup Perencanaan, Pelaksanaan, Evaluasi dan Tindak Lanjut.

Proses Pembelajaran

Proses pembelajaran adalah setiap upaya yang sistematik dan disengaja oleh pendidik atau Tutor untuk menciptakan kondisi-kondisi tertentu, agar warga belajar melakukan kegiatan belajar. Paradigma pembelajaran yang digunakan dalam program keaksaraan fungsional yang peserta didik terdiri dari orang dewasa, cenderung pada psikologi humanistik. Orang dewasa belajar sepanjang hidupnya, meskipun jenis yang dipelajari dan cara belajarnya selalu berubah seiring dengan bertambahnya usia. Orang dewasa senang belajar aktivitas belajaranya dapat memecahkan masalahnya, menjadi bermakna bagi situasi kehidupannya, mereka menginginkan hasil belajar dapat diterapkan.

Motivasi Belajar Orang Dewasa

Berdasarkan pengalaman di lapangan mayoritas warga belajar program keaksaraan fungsional berusia 17 tahun ke atas, untuk memecahkan masalah penelitian yang telah dirumuskan, terutama berkenaan dengan bagaimana memotivasi warga belajar, maka akan digunakan pendekatan teori belajar orang dewasa. Motivasi ini juga sangat dipengaruhi oleh faktor usia, karakteristik dan perkembangan seseorang.

Pemaparan masalah yang dihadapi dalam usaha memotivasi dan membelajarkan warga belajar program keaksaraan fungsional, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian berkenaan dengan sifat dasar belajar orang dewasa, yang meliputi: Belajar berkaitan dengan kedewasaan, Pendekatan orang dewasa terhadap belajar dan Aspek-aspek yang mempengaruhi pembelajaran orang dewasa.

Proses Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan masyarakat melingkupi berbagai aspek kehidupan, masyarakat yang berdaya adalah masyarakat yang hidup di dalam suatu masyarakat madani (civil society) yakni suatu masyarakat yang percaya atas kemampuan para anggotanya untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik, serta masyarakat yang menyadari akan hak-hak dan kewajibannya dalam hidup bermasyarakat. Kondisi pemberdayaan hanya akan terwujud apabila anggota masyarakat memperoleh kesempatan agar semakin berdaya (Tilaar, 1997:231).

Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pemberdayaan sangat identik dengan pendidikan dan merupakan hakikat pendidikan itu sendiri. Karena apa yang disebut pendidikan adalah usha memberdayakan manusia, memempukan manusia, memaksimalkan potensi-potensi yang ada pada diri manusia, mengembangkan talenta-talenta yang ada di dalam diri manusia, agar dengan kemampuan atau potensi yang dimilikinya dapat dikembangkan melalui pendidikan dan pembelajaran.

Proses pemberdayaan masyarakat melalui program keaksaraan fungsional maksudnya adalah untuk memberikan pengertian dan kesadaran kepada individu atau kelompok guna memahami dan mengontrol kekuatan sosial ekonomi dan politik, sehingga dapat memperbaiki kehidupannya di masyarakat. Kegiatan belajarnya harus diarahkan untuk memberikan kesempatan luas kepada masyarakat atau warga belajar guna menganalisis masalah kehidupan mereka untuk mengembangkan keterampilan yang mereka kehendaki dalam mengubah keadaan ekonomi, status sosialnya dan mutu serta taraf hidupnya.

Pengembangan Program Pembelajaran Keaksaraan Fungsional (KF)

Pengembangan program pembelajaran merupakan materi yang sangat vital dan merupakan kelanjutan bahan sebelumnya, untuk menganalisis hasil identifikasi kebutuhan belajar. Ada beberapa ciri pengembangan program pembelajaran keaksaraan fungsional diantaranya: (1) Peningkatan kualitas tutor, (2) Pengembangan materi belajar, (3) Pengembangan media belajr, (4) Pengembangan metode belajar, (5) Pengembangan sarana belajar, (6) Pengembangan prasarana belajar, (7) Pengembangan evaluasi belajar, dan (8) Pengembangan pemanfaatan hasil belajar.

METODE

Pendekatan Penelitian

Penelitian Kualitatif

Pendekatan kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar individu secara utuh (holistik), jadi tidak boleh mengisolasi individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis tetapi dipandang sebagai bagian dari suatu keutuhan (Bogdan dan Taylor dalam Moeleong, 1975:3). Metode ini, peneliti melakukan penelitian untuk mencari data yang bersifat deskriptif kualitatif. Sifat deskriptif kualitatif ini mengarah pada mutu ke dalam uraian dan pemahaman tentang bentuk penyelenggaraan dan pengembangan program keaksaraan fungsional di kelompok belajar KF di PKBM   “Bagus Wandira .

Studi Kasus

Metode penelitian menurut Denzim Guba (Agus Salim, 2001:91) dan penerapannya dibagi menjadi delapan jenis, salah satunya adalah studi kasus. Menurut Baedhowi (Agus Salim, 1996:91) studi kasus merupakan salah satu metode yang cukup populer digunakan baik untuk meneliti kasus secara tunggal ataupun kasus kolektif. Menurut Yin (1981:23) studi kasus adalah inkuri empiris yang menyelidiki fenomena di dalam konteks kehidupan nyata bilamana batas-batas antara fenomena dan konteks tidak tampak dengan tegas dan dimana multi sumber bukti dimanfaatkan.

Kelebihan menggunakan studi kasus yang pertama adalah kasus memiliki batas, lingkup kajian dan pola pikir tersendiri sehingga dapat mengungkapkan realita sosial atau fisik yang unik, spesifik serta menantang. Kedua, studi kasus banyak mengungkapkan hal-hal yang amat mendetail, melihat hal-hal yang tidak bisa diungkapkan oleh metode lain, dan dapat menangkap makna yang ada di belakang kasus dalam kondisi objek secara natural.

Kelemaham yang melekat pada metode kualitatif, yaitu : Validitas berkaitan dengan tingkat keabsahan objek yang dijadikan sasaran studi untuk mewakili kelompok kasus-kasus yang lain, Reabilitas diaman tingkat kesahihan hasil yang diperoleh apabila sudi kasus yang sama diprediksi pada kasus lain laindi tempat dan di waktu yang lain, dan Generalisasi hasil temuan sebagia sebuah teori yang dapat diterima pada populasi serupa di tempat lian.

Lokasi Penelitian

Penelitian “Studi Model Penyelenggaraan dan Pengembangan Program Keaksaraan Fungsional berlokasi di Desa Candigaron, dipilhnya desa ini sebagai lokasi penelitian dikarenakan tempat ini merupakan salah satu tempat yang menyelenggrakan program keaksaraan fungsional yang sudah dianggap sukses melaksanakan program keaksaraan fungsional dan sudah mencetak (out put) warga belajarnya.

Subjek Penelitian

Sasaran dalam penelitian tentang Studi Model Penyelenggaraan dan Pengembangan Program Keaksaraan Fungsional di Kelompok Belajar Desa Candigaron, yaitu:

  1. Pengelola atau Penyelenggara Program Keaksaraan Fungsional.
  2. Tutor atau Fasilitator Program Keaksaraan Fungsional.
  3. Warga belajar yang tergabung dalam kelompok belajar Keaksaraan Fungsional.

Data dan Sumber Data

Sumber data dalam penelitian Studi Model Penyelenggaraan dan Pengembangan Program Keaksaraan Fungsional di Kelompok Belajar Desa Candigaron, yaitu:

  1. Sumber data primer, sumber yang diamati langsung dari sumbernya, diamati, dan dicatat untuk pertama kalinya (Marzuki, 2000:55).
  2. Sumber data sekunder adalah adat yang bukan diusahakan sendiri pengumpulannya oleh peneliti (Marzuki, 2000:56).

Proses Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematik dan sekunder untuk memperoleh data yang diperlukan (Nazir, 1988:211). Tujuan dari pengumpulan data adalah untuk memperoleh data yang relevan, akurat, dan reliabel yang berkaitan dengan penelitian.

Observasi atau Pengamatan

Menurut Nazir (1988:22) bahwa pengumpulan data dengan obserbvasi langsung atau dengan pengamatan langsung adalah cara pengambilan data dengan menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk keperluan tersebut. Teknik dalam penelitian ini dilakukan dengan mengadakan pengamatan secar langsung di lapangan untuk mendapatkan data penelitian dengan tidak mengabaikan kemungkinan penggunaan sumber non manusia seperti dokumen dan catatan-catatn dengan tujuan untuk melengkapi data hasil wawancara.

Wawancara

Wawancara yaitu suatu teknik pengumpulan data dimana terjadi komunikasi secara verbal antara pewawacara dengan subjek wawancara. Menurut Moleong (2001:135) wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu, percakapan itu dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai memberikan jawaban pertanyaan itu. Jadi wawancara dapat diartikan suatu proses pengumpulan data untuk suatu penelitian yang berupa percakapan dengan maksud untuk memperoleh keterangan mengenai tujuan penelitian yang dilakukan dengan cara tanggung jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dan yang diwawancarai dengan menggunakan suatu alat yang dimaksud dengan panduan wawancara. Teknik wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini dengan wawancara terarah dan wawancara tidak terarah.

Teknik Dokumentasi

Teknik dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, dan lain-lain (Arikunto, 2002:206). Hasil dokumentasi ini disusun sedemikian rupa menjadi dua sekunder yang digunakan untuk melengkapi data primer hasil wawancara dan pengamatan

Teknik Pemeriksaan Keabsahan  Data

Menurut Licoln dan Guba (Moleong, 2000:173) menjelaskan ada beberapakriteria yang digunakan dalam penelitian kualitatif untuk keabsahan data, yaitu Derjat Kepercayaan, Keteralihan, Kebergantungan dan Kepastian. Kriteria keabsahan data diterapkan dalam rangka membuktikan temuan hasil di lapangan dengan kenyataan yang diteliti di lapangan.

Teknik-teknik yang digunakan untuk melacak atau membuktikan kebenaran atau taraf kepercayaan data tersebut dapat melalui ketekunan di lapangan (Persiten Observation), Triangulasi (Triangulation), Pengecekan dengan teman sejawat (Peer debrieng), Analisis terhadap kasus-kasus negatif (Negative case analysis), Refrensi yang memadai (Refential adaguency), Pengecekan anggota (Member check) dan Perpanjangan keikutsertaan.

Teknik Analisis Data

Analsis data merupakan bagian yang amat penting dalam metode ilmiah karena dengan analsis tersebut, data mentah yang telah dikumpulkan oleh peneliti dapat diberi arti dan makna yang berguna dalam memecahkan masalah penelitian, sehingga akan didapat suatu kesimpulan yang benar. Proses analisis dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dengan berbagai sumber yaitu wawancara, pengamatan, dokumentasi. Hasil dari perolehan data, dianalisis secar tepat agar simpulan yang diperoleh tepat pula. Proses analisis data ada tiga unsur yang dipertimbangkan oleh penganalisis, yaitu: Reduksi data, Penyajian data, dan Penarikan Simpulan atau Verifikasi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Gambaran Umum Desa Candigaron Kec. Sumowono Kab. Semarang

Desa Candoigaron Kecamatan Sumowono Kabupoaten Semarang terletak 4 Km di sebelah barat daya kota kecamatan. Luas wilayah Candigaron 709.595 Ha, yang meliputi 206.846 Ha dikelola masyarakat untuk ladang dan tegalan, untuk perkebunan seluas 307.900 Ha. Tanah perkarangan atau perumahan seluas 72.850 Ha. Dilihat dari penggunaan tanah atau lahan yang ada di Desa Candigaron merupakan desa penghasil sayur-sayuran, buah-buiahan, dan hasil perkebunaan lainnya yaitu kopi, jahe dan cengkeh. Kondiosi jalan sudah beraspal dengan tanah yang gembur terletak di dataran tinggi perkebunan, maka masyarakat Candigaron bermata pencaharian sebagai petani tradisional.

Pola pikir masayarakat Candigaron yang masih tradisional menyebabkan kondisi perekonomian masyarakat desa Candigaron masih dibawah sejahtera, dikarenakan masih kurang sadarnya masyarakat Candigaron akan pentingnya pendidikan. Kondisi sosial masyarakat Desa Candigaron masih sangat baik, ramah, gotong royong, kuat, patuh pada aturan-aturan dan program pemerintah dan serta taat beragama dan tidaka fanatik antar satu agama.

Jumlah penduduk seluruhnya adalah 423 jiwa, terdiri dari perempuan 2156 jiwa dan laki-laki 2081 jiwa. Pendataan melalui identifikasi dan seleksi bahwa masyarakat Desa Candigaron usia 13-44 menghasilkan kesimpulan bahwa warga masyarakat Candigaron masih banyak yang buta huruf.. Jumlah yang dialami warga masyarakat Desa Candigaron terdiridari:

  1. Dusun Jambe terdiri dari 952 jiwa Niraksara 89 orang.
  2. Dusun Garon terdiri dari 1222 jiwa Niraksara 99 orang.
  3. Deusun Delik terdiri dari 230 jiwa Niraksara 20 orang.
  4. Dusun Bodean terdiri dari 835 jiwa Niraksara 47 orang.
  5. Dusun Candi terdiri dari 939 jiwa Niraksara 86 orang.
  6. Dusun Semanding terdiri dari 9435 jiwa Niraksara 98 orang.

Kondisi penduduk serta tempat ibadah dan pendidikan yang ada di Desa Candigaron Kecamatan Sumowono secara rinci dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian

Tabel I

Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian

NO JENIS MATA PENCAHARIAN JUMLAH PERSENTASE
1. Petani 3.218 69.76 %
2. Buruh Tani 369 7.9 %
3. PNS/ABRI 17 0.3 %
4. Pensiunan 5 0.10 %
5. Wiraswasta 90 1.95 %
6. Jasa 136 2.94 %
7. Perangkat Desa 7 0.15 %

Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan

Tabel II

Jumlah Penduduk Menurut Mata Pendidikan

NO TINGKAT PENDIDIKAN JUMLAH PERSENTASE
1. Belum Tamat SD 637 13.80 %
2. Tamat SD 135 2.93 %
3. SLTP 124 2.69 %
4. SLTA 56 1.21 %
5. Perguruan Tinggi / Sarjana 3 0.06 %

Ketersediaan Sarana Pendidikan

Tabel III

Ketersediaan Sarana Pendidikan

NO SARANA PENDIDIKAN JUMLAH
1. TK 1
2. SD 4
3. SLTP 1

Warga masyarakat Desa candigaron yang buta huruf sejak 1998 telah dibentuk Kejar Paket A PBH Fungsional dan sampai sekarang masih aktif melaksanakan kegiatannya. Adapun yang melatar belakangi dibentuknya Kejar Paket A PBH Fungsional adalah masih banyaknya warga masyarakat yang buta huruf usia 13-44 tahun yang perlu diberikan kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang layak.

Deskriptif Penyelenggaraan Program KF di PKBM “Bagus Wandira Desa Candigaron Kec. Sumowono Kab. Semarang

Berdasarkan penelitian mengenai penyelenggaraan dan pengembangan program KF di PKBM “Bagus Wandira Desa Candigaron Kec. Sumowono dapat dipaparkan anatara lain meliputi : 1) Persiapan dengan cara mengidentifikasi dan mendata warga bealajar yang buta huruf dan mengajaknya untuk ikut berpartisipasi dalam KF, perekrutan tutor dengan jenjang pendidikan minimal Diploma III (DIII) dan Sarjana (SI), mengidentifikasi sarana atau tempat pembelajaran, identifikasi materi, dan menyusun jadwal yang telah disepakati antara penyelenggara, tutor dan warga belajar; 2) Pelaksanaan meliputi 10mpatokan Dikmas antara lain: Warga Belajar yang ikut serta adalah 100 orang terdiri variasi umur, sebagian belum berkeluarga, pendidikan DO, dan mengikuti program KF ini atas keinginan sendiri; Kelompok Belajar terdiri dari 5 kelompok belajar masing-masing mempunyai warga belajar sebanyak 10 warga belajar.

Sumber Belajar

Sumber belajar disini adalah tutor yang sudah dibekali peltihan-pelatihan yang berguna meningkatkan kebergasilan program pembelajaran Keaksaraan Fungsional (KF).

Tabel IV

DAFTAR TUTOR KF di PKBM “BAGUS WANDIRA

NO NAMA L/P PENDIDIKAN PEKERJAAN ALAMAT
1. Maktuf,   S.Pd L Sarjana Guru SD Bodean
2. Wien Kurniati P Diploma Guru SD Bodean
3. Farida S.Sos P Sarjana TLD Jambe
4. Yunike Dwi Astuti P Diploma Guru TK Bodean
5. Drs. Sunarsiman L Sarjana Guru SD Jambe

Program Belajar

Program ini meliputi penyusunana program yang disusun bersama antara tutor dan warga belajar dalam wujud kesepakatan belajar dan menunjuang kelancaran proses pembelajaran.

Sarana Belajar

Sarana yang digunakan adalah dengan buku-buku modul dan sarana belajar bantuan dari priyek PLS serta sarana penunjang kegiatan keterampilan dari pihak Desa yang telah menyediakan tanah seluas 0.25 Ha untuk kegiatan pertabnian dan peralatan pertanian diperoleh dariswadaya warga belajar.

Pamong Belajar

Kelompok KF di Desa Candigaron ini mempunyai pamong belajar yakni Bapak Supondo Kepala Desa Candigarong, Bapak Sutisno (pengelola PKBM Bagus Wandira), dan Ibu Wien Kurniati.

Panti Belajar

Lokasi penyelenggaraan bertempat di PKBM Bagus Wandira dan di kebun praktek, jarak drai rumah warga belajar yang terjauh tidak lebih dari 300 meter dan dapat dijangkau dengan berjalan kaki.

Ragi Belajar

Penyelenggara KF mengikut sertakan warga belajar dalam lomba kelompok belajar dan memberikan bantuan modal dalam bentuk kelompok belajar usaha.

Dana Belajar

Dana belajar berasala dari proyek PLS dan swadaya warga belajar serta bantuan darai warga masyarakat.

Hasil Belajar

Kegiatan belajar yang dimulai dengan kegiatan pemberantasan, pembinaan dan pelestarian bahkan sudah ada yang pada tahap tahap mandiri. Pada tahap aksi yaitu kegiatan keterampilan yang telah dilaksanakan penanaman pohon pisang, cabe, sayuran, kacang tanah; pembuatan kue diantaranya pastel, kue bawang dan kue kacang.

3) Evaluasi, penyelenggaraan program KF di PKBM “Bagus Wandira dilakukan oleh penyelenggara denga bantuan sumber dukungan dari Dinas Pendidikan seperti Staf Seksi PLS, Penilik PLS, TLD, dan FDI. Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui pencapaian penyelenggaraan kelompok belajar secara keseluruhan; 4) Tindak Lanjut, meliputi pertemuan secara periodik dan membentuk keaksaraan fungsional yang baru , pada tahap pelestarian dilakukan sebulan sekali dengan sistem simpan pinjam sebagai pengikat warga belajar.

Deskriptif Pengembangan Program Keaksaran Fungsional   di PKBM “Bagus Wandira Desa Candigaron Kec. Sumowono Kab. Semarang

Berdasarkan penelitian di lapangan dan sumber informan berjumlah 14 orang terdiri dari 1 penyelenggara KF, 3 tutor, dan 10 warga elajar, pengembangan yang dilakukan pada kelompok belajar Keaksaraan Fungsional (KF) di Desa Candigaron dapat dipaparkan sebagai berikut: Peningkatan kualitas tutor (Rekruitmen tutor, Pendidikan Tutor, Pelatihan, Penghargaan, kesejahteraan); Pengembangan materi belajar; Pengembangan media belajar; Pengembangan metode belajar; Pengembangan sarana dan prasarana; Pengembangan evaluasi progran KF; dan Pengembangan Pemanfaatan hasil belajar.

Manfaat yang Dirasakan Warga Belajar dari Program Keaksaraan Fungsional (KF) di PKBM “Bagus Wandira Desa Candigaron Kec. Sumowono Kab. Semarang

Program KF di Desa Candigaron diharapkan memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan diri serta membekali mereka pengetahuan Baca, Tulis, dan Hitung (CALISTUNG) untuk bekal mereka dalam kehidupan sehari-hari, warga belajar dari progran KF masih dilestarikan melalui tahap pelestaian sehingga ilmu yang sudah didapat tidak berangsur-angsur hilang. Wraga bealajar yang yang sudah merasakan manfaat dari progran KF selam ini dapat merasakan perubahan dalam kehidupan sehari-hari dan dapat memanfaatkan keterampilan yang sudah didapat dari program KF.

Pembahasan

Aspek-aspek yang telah diuaraikan dalam sub bab hasil pnelitan dihubungkan denagn teori serta pendapat ahli yang meliputi Penyelenggaraan dan Pengembangan Program Keaksaraan Fungsional dan manfaat dari program keaksaraan fungsional (KF). Untuk memahami aspek-aspek tersebut maka dalam sub bab pemabahasan akan dibahas satu persatu.

Penyelenggaraan Program Keaksaraan Fungsional (KF) di PKBM “Bagus Wandira Desa Candigaron Kec. Sumowono, Kab. Semarang

Penyelenggaraan adalah proses, cara, menyelenggarakan program KF. (Kamus Besar Bahasa Indonesia ,1990). Program KF adalah sebuah pendekatan untuk mengembangkan kemampuan keaksaraan CALISTUNG serta keterampilan fungsinalsehingga dapat mengembangakan potensi diri dan lingkungannya. Program KF di Desa Candigaron bertujuan untuk mengetahui kompetensi mnimal yang harus dikuasai warga belajar hingga melek huruf fungsional serta memiliki sikap mental yang dapat dimanfaatkan sebagai bekal untuk menghadapai perkenbangan IPTEK. Tuuan tersebutsesuai dengan teori Tjokorowinoto (1992:19)dikatakan adalah konsep ini lebih luas dari hanya sekedar memenuhi kebutuhan dasar (basic need).

Warga belajar dari KF adalah mereka yang menyandang buta huruf dan sebagian dari Drop Out, usia warga belajar antar 22-44 tahun, jumlah warga belajar sebanyak 100 orang yang dibentuk menjadi 10 kelompokdengan jumlah tutor sebanyak 5 orang. Proses belajar yang digunakan adalah pembelajaran berbasis masyarakat yang dikemukakan Watson (Marzuki, 2003) mengemukakakan tiga elemen penting yaitu: mementingkan masyarakat sebagai warga belajar , program dinilai dari persfektif kritis, dan pembangunan masyarakat diteakaknkan pada pembelajaran di tengah masyarakat.

Pengembangan Program Keaksaraan Fungsional di PKBM “Bagus Wandira Desa Candigaron kec. Sumowono, Kab. Semarang

Pengemabangan adalah proses, cara, perbuatan, mengembangakan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1990). Pengembangan program KF merupakan suatau proses atau runtutan peristiwa, rangakaian tindakan dalam suatu aktivitas belajar yang bertujuan untuk erubah pengetahuan, sikap, dan perilaku, srta keterampilan warga bealajar. Perekrutan warga belajar dilakukan dengan mengidentifikasi dan mendata warga belajar dan mengajak ke program KF. Usaha pengemabngan yang kini dilakukan dalam rencana yaitu mengumpulkan warga masyarakat dan memberikan informasi mengenai program KF.

Dana belajar selama ini dibebankan pada Dinas Pendidikan Kecamatan Sumowono dan penyelenggara menjalin kerjasama dengan instansi seperti BPPLSP Reg III Jateng sebagai pengembang program KF. Harapan setelah mereka mengikuti program KF adalah agar mereka dapat CALISTUNG dan memiliki keterampilan sebagai bekal kehidupan mereka yang mandiri.

Manfaat yang Dirasakan Warga Belajar setelah Mengikuti Program KF di PKBM “Bagus Wandira Desa Candigaron Kec. Sumowono, Kab. Semarang

Hasil yang telahdicapai dari penyelenggaraan dan pengembangan program KF yaitu:

a. Kognitif, warga belajar memiliki kemampuan CALISTUNG dan dapat mengfungsikan kemampuan dalam kehidupan sehari-hari.

b.   Afektif, kesadran masyarakat akan pentingnya pendidikan   dengan pembuktian semakin antusianya masayarakat yang mengikuti program KF.

c. Psikomotorik, dapat membuat keterampilan seperti keranjang sayuran, dan ketermpilan bidang pertanian, dengan bekal tersebut ereka dapat mendirikan usaha mandiri untuk meningkatkan taraf hidupnya.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Dari pembahasan diatas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

Penyelenggaraan Program Keaksaraan Fungsional (KF) di PKBM “Bagus Wandira Desa Candigaron Kec. Sumowono, Kab. Semarang

Program KF di PKBM “Bagus Wandira Desa Candigaron dalam proses beljar dilakukan 3 kali dalam 1 minggu. Kurikulum mengacu pada kurikulum yang dibuat atas kesepakatan bersama antar penyelenggra, tutor dan warga belajar. Warga masyarakat yang mengikuti program KF ini berusia 22-44 tahun dan jumlah tutor 5 orang yang terdiri dari beberapa disiplin ilmu. Proses evaluasi yang dilakukan adalah dengan evaluasi harian tutor yang diselenggrakan 1 bulan sekali. Hasil belajar yang diharapakan adalah membelajarkan warga belajar sehingga melek aksara dan ikut berpartisipasi dalam mendukung program pemerintah dalam rangka percepatan PBH.

Pengembangan Program Keaksaraan Fungsional di PKBM “Bagus Wandira Desa Candigaron kec. Sumowono, Kab. Semarang

Pengembangan yang sedang dilaksanakan oleh penyelenggara program KF di PKBM “Bagus Wandira adalah meliputi pengemabngan dalam perekrutan warga belajar, perekrutan tutor, kuriklum, sarana dan prasarana, tempat belajar, dana bealajar, dan hasil belajar. Srana dan prasarana yang sedang dikembangkan adalah dilengkapinya sarana berupa juknis kurikulum, buku dari Dinas Pendidikan, buku pegangan tutor, dan modul bahan ajar. Evaluasi yang dilakukan   adalah evaluasi formatif yang dilakukan tutor dan evaluasi sumatif yang dilakukan penyelenggara dan Dinas Pendidikan.

Manfaat yang Dirasakan Warga Belajar setelah Mengikuti Program KF di PKBM “Bagus Wandira Desa Candigaron Kec. Sumowono, Kab. Semarang

Warga belajar KF mendapatkan kemampuan CALISTUNG di kelompok belajar KF Desa Candigaron ini bagi mereka yang sudah merasa mampu.

Saran

Berdasarkan hasil kesimpulan penelitian selanjutnya dikemukakan saran sebagai berikut :

Disarankan bagi penyelenggara Program KF di PKBM “Bagus Wandira   agar menambahkan materi keterampilan khusus seperti materi pemanfaatan hasil pertanian karena WB sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani sesuai dengan potensi lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Arif, Z & Napitupulu, W. P. 1997. Pedoman Baru Menyusun Bahan Bealajr. Jakarta: Gramedia.

Marzuki. 2000. Metodologi Riset. Yogyakarta: Bagian Penerbit Fakultas Ekonomi. Universitas Islam Indonesia.

Moleong, Lexy J. 1990. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rodaskarya.

Nazir, Moh. 1998. Metodologi Penelitian. Jakarta: Galia Indonesia.

Panduan UmumPelatihan Program Keaksaraan Fungsional. 2005. Direktorat Pendidikan Masyarakat.

Pusat Pembinaan Penegembangan Bahas. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi 4. Jakarta: Balai Pustaka.

Salim, Agus. 2001. Teori dan paradigma Penelitian Sosial (Denzin Guba dan Penerapannya). Yogyakarta: Tiara Wacana.

Sevilla Consuello G. 1993. Pengantar Metode Penelitian. Jakarta: UI Press.

Sudjana, D. 2000. Pendidikan luar Sekolah, Wawasan, Sejarah Perkembangan Falsafah dan Teori Pendukung Asas. Bandung: Falah Production.


Loading...

3 Comments

  1. dewi says:

    d(^0^)b bgs mas aqil, lanjutkan. . !!

  2. Patmi, S. Pd says:

    Asslmww alhmdllh inf yg manfaat menambh wawasan sy TUTOR KF Kel.Tegalrejo Argmly Salatiga mtr nwn wasslmww

  3. GITO UTOMO says:

    Saya suka, saya bangga, saya menghormati, saya dukung upaya positif untuk mengembangkan dan meningkatkan sumber daya manusia indonesia demi percepatan kemajuan iptek melalui pendidikan formal maupun non formal demi harkat dan martabat bangsa indonesia

Leave a Comment

  • 10697323_802774583098010_7318506738031481139_o