PANDANGAN SEBELAH MATA MASYARAKAT MENGENAI PROGRAM-PROGRAM PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

0
Dibaca 2.332

PANDANGAN SEBELAH MATA MASYARAKAT MENGENAI PROGRAM-PROGRAM PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

  1. PENDAHULUAN
  • Latar Belakang

Pendidikan Luar Sekolah (PLS) adalah pendidikan yang dirancang untuk membelajarkan warga belajar agar mempunyai jenis keterampilan, pengetahuan serta pengalaman yang dilaksanakan di luar jalur pendidikan formal (persekolahan). Dalam tipe program PLS, Boyle (1981) membedakan program PLS dari segi perencanaannya ke dalam tiga tipe, yaitu (a) developmental, (b) institutional, (c) informational. Dalam ketiganya dipaparkan perbandingan dari enam aspek, yaitu tujuan pokok, sumber bahan, penggunaan pengetahuan, keterlibatan peserta didik, peran perencana, dan standar keberhasilan (Moedzakir, 2010:25).

Akhir-akhir ini pemahaman, kesadaran, dan respon masyarakat Indonesia terhadap pentingnya PLS atau pendidikan nonformal sangat sedikit. Program dan kegiatan PLS dalam berbagai jenis dan bentuknya kurang mendapat perhatian dari masyarakat. Fenomena ini tentunya merupakan sesuatu yang sangat menyedihkan, terlihat dari kurangnya apresisasi masyarakat dalam dunia pendidikan.

Di dalam PLS banyak program yang sangat bermanfaat, tetapi dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Sebab jurusan PLS dianggap tidak penting untuk dunia pendidikan. Judul makalah ini sengaja dipilih karena menarik perhatian penulis untuk dicermati dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak yang peduli terhadap dunia pendidikan, supaya masyarakat tidak memandang rendah program-program PLS.

  • Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas dapat disusun rumusan sebagai berikut.

  1. Mengapa program-program PLS diadakan?
  2. Apa tujuan program-progrm PLS?
  3. Bagaimana pandangan masyarakat mengenai program-program PLS?
  • Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah di atas tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.

  1. Menjelaskan alasan program-program PLS diadakan.
  2. Menjelaskan tujuan program-program PLS.
  3. Menjelaskan pandangan masyarakat terhadap program-program PLS.
  1. PEMBAHASAN

Pembahasan kali ini menguraikan tentang program yang ada di PLS. Paparan lebih lanjut sebagai berikut.

  • Alasan Adanya Program PLS

Pendidikan Luar Sekolah (PLS) secara ringkas dapat diartikan sebagai segala kegiatan penddikan yang berlangsung di luar sistem persekolahan. Penddikan tidak hanya berlangsung di sekolah, melainkan juga di dalam keluarga dan di tengah kehidupan masyarakat luar seperti di lembaga pendidikan di tempat kerja, di tengah pergaulan, dan di tempat-tempat lain yang tidak sengaja dirancang untuk pendidikan (PPT kuliah).

Upaya pendidikan itu sendiri secara kongkret bisa berbentuk pembelajaran, pelatihan, dan pengasuhan. Ruang lingkup PLS sebetulnya juga tercermin pada istilah pemberdayaan masyarakat. Mengingat begitu kompleksnya kondisi masyarakat di Indonesia, sehingga penyelenggaraan pendidikan tidak hanya dilakukan melalui jalur formal saja.

Faktor pendukung perkembangan PLS adalah sebagai berikut.

  1. Para praktisi di masayarakat.
  2. Para pengkritik terhadap kelemahan pendidikan di sekolah.
  3. Para perencana pendidikan untuk pembangunan di tingkat Internasional.

Oleh karena itu, program-program PLS sangat diperlukan bagi masyarakat.

Alasan adanya program-program PLS untuk membantu sekolah dan masayarakat dalam upaya pemecahan masalah.

  1. Program PLS sebagai Pelengkap Pendidikan Sekolah

Berfungsi melengkapi kemampuan peserta didik dengan jalan memberikan pengalaman belajar yang tidak diperoleh dalam kurikulum pendidikan sekolah. Contoh program PLS seperti pramuka, perkumpulan kesenian, perhimpunan pecinta alam, PMR, dan lain-lain.

  1. Program PLS sebagai Penambah Pendidikan Sekolah

Bertujuan untuk menyediakan kesempatan pada tiga kategori : 1) para siswa suatu jenjang pendidikan sekolah guna memperdalam penguasaan materi pelajaran tertentu. Contoh program seperti les. 2) peserta didik yang telah menamatkan suatu jenjang pendidikan sekolah yang masih memerlukan layanan pendidikan. Contoh program seperti seminar dan training. 3) mereka yang putus sekolah dan mempunyai kebutuhan belajar untuk memperoleh pengetahuan baru dan keterampilan. Contoh program seperti pelatihan.

  1. Program PLS sebagai pengganti Pendidikan Sekoah

Menyediakan kesempatan belajar bagi anak-anak atau orang dewasa karena berbagai alasan tidak memperoleh kesempatan belajar untuk memasuki pendidikan di sekolah. Contoh program seperti kesetaraan paket A, B, C. (ppt kuliah)

Melihat semakin canggih dan berkembangnya teknologi maka sangat diperlukan sekali adanya program-program PLS untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan hidunya. Adanya pelatihan-pelatihan atau program-program PLS lannya menciptakan keterampilan baru.

  • Tujuan Program-program PLS

Tujuan program PLS bagi masyarakat ada 5, yang dijabarkan sebagai berikut.

  1. Tujuan Kesetaraan
  • Pembentukan warga negara yang beriman dan bertaqwa, berkarakter dan bermartabat.
  • Memberikan kemampuan membaca, menulis dan berhitung.
  • Memberikan kecakapan hidup yag berorientasi mata pencaharian dan kewirausahaan.
  1. Tujuan Keaksaraan Fungsional

Keaksaraan fungsional memiliki fungsi mengembangkan kemampuan dasar manusia yang meliput kemampuan membaca, menulis dan berhitung yang bersifat fungsional dalam meningkatkan mutu dan taraf kehidupan dan masyarakatnya. Tujuan utama program keaksaraan fungsional adalah membelajarkan warga belajar agar dapat memanfaatkan kemampuan dasar baca, tulis, hitung, dan kemampuan fungsionalnya dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Tujuan Pembinaan dan pengembangan Kursus

Pelatihan dan pengembangan dapat membantu untuk menjamin bahwa anggota organisasi memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menjalankan pekerjaan secara efektif, mengambil satu tanggung jawab baru, dan beradaptasi dengan perubahan kondisi. Pelatihan ini terfokus pada pengajaran anggota organisasi (sumber daya manusia) tentang bagaimana mereka dapat menjalankan pekerjaan dan membantu mereka mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk kinerja yang efektif. Pengembangan terfokus pada membangun pengetahuan dan keterampilan anggota organisasi sehingga dapat dipersiapkan untuk mengambil tanggung jawab.

  1. Tujuan Pendidkan Perempuan

Pembangunan pemberdayaan perempuan dilakukan untuk menunjang dan mempercepat tercapainya kualitas hidup perempuan, dapat dilakukan melalui kegiatan sosialisasi atau advokasi pendidikan, pelatihan, dan keterampilan bagi kaum perempuan yang bergerak dalam seluruh bidang kehidupan. Pendidikan merupakan hak setiap individu, kaya-miskin, lemah-kuat, pandai-bodoh, laki-laki maupun perempuan. Oleh karena itu, pendidikan adalah kebutuhan untuk mempertahankan hidup dan menjadi kebutuhan bagi semua tanpa memandang latar belakang. Salah satu penyebab penindasan, peminggiran, subordinasi bahkan perlakuan kasar terhadap perempuan. Lebih dari itu pemerintah memiliki kewajiban untuk memberikan fasilitas yang layak dan maksimal dalam pendidikan ini. Hal ini sesuai dengan amanat Undang-undang 1945 yaitu negara ikut terlibat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

  1. Tujuan PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat)

Sebagai wahana guna meningkatkan potensi pemuda dan pemudi pada umumnya, dan khusunya mereka yang putus sekolah dan berminat untuk dididik dalam bidang kejuruan/keterampilan, untuk peningkatan kesejahteraan serta taraf hidup dan penghidupannya. Tujuan dibentuk PKBM adalah untuk mengintegrasikan berbagai kegiatan pembelajaran masyarakat sehingga tercipta hubungan pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat serta memudahkan kontrol mutu hasil pembelajarannya (http://febrianiwardani.wordpress.com/2013/04/16/tujuan-program-pendidikan-luar-sekolah-bagi-masyarakat/).

  • Pandangan Masyarakat Mengenai Program-program PLS

Untuk memahami pandangan masyarakat mengenai program-program PLS, perlu dilihat kembali pada peran pendidikan dalam pembangunan, karena PLS sangat dekat dengan persoalan-persoalan pembangunan masyarakat sebagai bagian penting dari pembangunan suatu negara. PLS sangat peduli dengan perubahan masyarakat secara mikro atau pembangunan lokal pada level komunitas yang berdampak langsung pada pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan (Marzuki, 2012:95)

“Sebagai kebutuhan dasar manusia” mempunyai makna bahwa setiap orang memerlukan pendidikan agar mereka memiliki pengetahuan yang luas, memiliki sikap yang diperlukan dalam hidupnya, memiliki keterampilan agar dapat bekerja mencari nafkah bagi kehidupannya. Kecakapan tersebut bukan sekadar memiliki, melainkan agar dapat dikembangkan di kemudian hari sepanjang hidupnya sehingga dapat bertahan hidup dalam lingkungan yang selalu berubah.

Akankah kebutuhan yang komplek dan dibutuhkan oleh semua orang akan dapat diatasi melalui sekolah? Jawabannya, sudah tentu tidak mungkin karena tidak semua penduduk sekolah tidak akan mampu memberikan kebutuhan pengetahuan tersebut kepada semua penduduk suatu negara. Dengan demikian, jelas sudah bahwa semua jalur pendidikn, formal, informal dan nonformal (PLS) harus selalu diupayakan terpadu dalam pelaksanaannya.

Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut, dilakukan dengan adanya program keaksaraan, kesetaraan, pelatihan, dan program-program lainnya. Kenyataannnya pada saat ini banyak masyarakat yang memandang sebelah mata mengenai program-program tersebut. Mereka berpandangan bahwa program-program tersebut hanya membuang waktu mereka yang seharusnya dapat digunakan untuk bekerja namun harus disia-siakan dengan bersekolah lagi. Mereka juga berpikiran bahwa pendidikan buat mereka yang sudah dewasa sangatlah tidak diperlukan. Hal ini, merupakan salah satu fenomena yang memprihatinkan. Oleh karena itu, perlu adanya respon atau solusi dalam mengatasi masalah ini baik dari pemerintah ataupun dari fasilitator dalam program-program PLS. Pendidikan sangat penting dalam pembangunan nasional di Indonesia.

  1. PENUTUP

Dari pembahasan yang telah dijelaskan tersebut, dalam penutup akan dipaparkan mengenai simpulan dan saran. Paparan lebih lanjut sebagai berikut.

  • Simpulan

Pandangan sebelah mata masyarakat mengenai program-program Pendidikan Luar Sekolah (PLS) merupakan salah satu fenomena yang sangat meprihatinkan. Kurangnya kepedulian masyarakat terhadap pendidikan di Indonesia dan pembangunan nasional menjadikan permasalahan baru di Indonesia. Adanya program-program PLS yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan masyarakat seperti program pelatihan sehingga masyarakat memanfaatkan program-program tersebut untuk dapat bertahan hidup dalam lingkungan yang sering berubah.

  • Saran
  1. Untuk Pemerintah

Untuk pemerintah sebaiknya lebih peka terhadap permasalahan yang ada dalam pendidikan. Pemerintah dapat meningkatkan pemerataan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

  1. Untuk Fasilitator

Untuk fasilitator dapat melakukan pendekatan terhadap masyarakat mengenai kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan masyarakat, sehingga mereka tertarik dalam mengikuti program-program PLS.

  1. Untuk Masyarakat

Untuk masyarakat seharusnya lebih peduli terhadap pendidikan dan perencanaan pembangunan nasional. Harus sadar akan pentingnya pendidikan bagi kehidupan mereka dikemudian hari.

DAFTAR RUJUKAN

Boyle, P.G. 1981. Planning Better Programs. New York: McGraw-Hill Book Company.

Marzuki, M.S. 2012. Pendidikan Nonformal: Dimensi dalam Keaksaraan Fungsional, Pelatihan, dan Andragogi (M.G. Waseso, Ed.). Malang: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang.

Moedzakir, Djauzi. 2010. Metode Pembelajaran untuk Program-Program Pendidikan Luar Sekolah. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang.

Powerpoint Matakuliah: Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah. Oleh: Zulkarnaen Nasution.

Wardani, F. 2013. Tujuan Program Pendidikan Luar Sekolah Bagi Masyarakat, (Online), (http://febrianiwardani.wordpress.com/2013/04/16/tujuan-program-pendidikan-luar-sekolah-bagi-masyarakat/), diakses 14 Maret 2015.

Tinggalkan Balasan