PENGARUH PESANTREN, PEGURON, DAN KERATON PADA MASYARAKAT

PENGARUH PESANTREN, PEGURON, DAN KERATON PADA MASYARAKAT  Oleh Dewi Nur Anisa Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Malang A.            ...

HASIL KONGRES V IMADIKLUS INDONESIA 2015
Family Gathering & Sarasehan IMADIKLUS Wilayah 1

PENGARUH PESANTREN, PEGURON, DAN KERATON PADA MASYARAKAT

 Oleh Dewi Nur Anisa

Jurusan Pendidikan Luar Sekolah
Universitas Negeri Malang

A.                   Pesantren

Pesantren adalah sebuah institusi pendidikan keagamaan tertua yang tumbuh dan berkembang secara swadaya dalam masyarakat muslimIndonesia. Lembaga pendidikan yang khasIndonesia(indigenous) ini bisa dilacak sejak awal kehadiran dan da ™wah Islam di Indonesia (Ambari, 2001 : 319).

Penyiaran Islam khususnya di Jawa relatif tidak menimbulkan problem konfliktual karena proses akulturasi, akomodasi, dan transformasi terhadap lembaga semisal yang telah eksis sebelumnya yang dimainkan oleh agama Hindu-Budha (Rahim, 2001 : 145).

Wujud simbolik khas pesantren adalah masjid/ musala, asrama, ruang-ruang kelas, kediaman pengurus, dan kediaman Kyai beserta keluarganya.

Ciri khas dari lembaga pesantren semenjak permulaan timbulnya, adalah bahwa pesantren itu merupakan milik perseorangan. la yang mendirikan, membina dan memajukannya atas usahanya sendiri. Tanah tempat pesantren itu berdiri pada umumnya milik kyai sendiri atau kepunyaan wakaf. Kyai bertempat tinggal bersama-sama keluarganya di kompleks pesantren, bersama-sama para santri yang tinggal di asrama yang disebut pondok dalam pesantren itu. Jadi pesantren merupakan masyarakat kecil yang berfungsi mendidik san-tri-santri secara kekeluargaan dan secara informal (Soebardi, 1978)

Kepemimpinan dalam pesantren umumnya adalah peran kyai sebagai pemilik dan sebagai pemegang kendali terhadap kelangsungan pesantren tersebut. Sistem pergantian kepemimpinan biasanya sama seperti kerajaan yaitu kepemimpinan yang digantikan oleh para keturunan dari Kyai itu sendiri.

Pada umumnya Metode pembelajaran di pesantren adalah dengan bendhongan dan sorogan.

?   Bendhongan dilakukan dengan cara kyai/ guru membacakan teks-teks kitab yang berbahasa arab, menerjemahkanyya ke dalam bahasa lokal, dan sekaligus menjelaskan maksud yang terkandung dalam kitab tersebut

?   Sorogan adalah semacam CBSA yaitu santri aktif memilih kitab, biasanya kitab kuning yang akan dibaca, kemudian membaca dan menerjemhnkanyya di hadapan kyai untuk dikoreksi bacaannya atau terjemahannya.

Lembaga pesantren tumbuh dan berkembang dari dan untuk masyarakat dengan memposisikan dirinya sebagai bagian dari masyarakat dalam pengertian yang transformatif. Pesantren terikhtiarkan meletakkan visi dan kiprahnya dalam kerangka pengabdian sosial yang pada mulanya ditekankan kepada pembentukan moral dan kemudian dikembangkan dengan rutinitas-rutinitas pengembangan yang lebih sistematis dan terpadu.

Pengabdian sosial masyarakat yang dilakukan pesantren itu merupakan manifestasi dan nilai-nilai yang dipegang pesantren. Nilai pokok yang selama ini berkembang dalam komunitas santri lebih tepatnya lagi dunia pesantren adalah seluruh kehidupan ini diyakini sebagai ibadah. Maksudnya, kehidupan dunia disubordinasikan dalam rangkuman nilai-nilai ilahi yang mereka peluk sebagai nilai yang tertinggi. Dari nilai pokok ini berkembang nilai-nilai luhur yang lainnya, seperti nilai keikhlasan, kesederhanaan dan kemandirian. Nilai-nilai ini merupakan dasar yang dijadikan landasan pesantren dalam pendidikan dan pengembangan masyarakat yang pada gilirannya dikembangkan sebagai nilai yang paling substansial.

Di samping ketiga nilai-nilai tersebut (keikhlasan, kesederhanaa, kemandirian) sebagai landasan dasar dan menjadi acuan masyarakat luas, dan secara fundamental juga sebagai senjata untuk membendung kungkungan kapitalisme, globalisasi yang saat ini hampir menjadi agama baru yang tidak lagi terlekat oleh dimensi ruang dan waktu.

Tujuan pesantren tidak lain adalah mencetak ulama, yaitu orang yang mendalam ilmu agamanya, hal tersebut berkaitan dengan proses perkembangna zaman yang semakin tercampur akibat adanya globalisasi, maka pada saat ini pesantren, disamping memerankan tujuan utama tersebut, juga membekali para santri dengan ilmu-ilmu modern agar para lulusannya tidak terlalu kaku dalam menjalani kehidupan ketika dia lulus dari pesantren. Oleh karena itu di zaman sekarang timbullah variasi antara pesantren yang masih memegang teguh ajaran agama, yaitu masih exis dengan sistem pembelajaran salafi, dan ada pula pesantren yang mengembangkan pendidikannya dengan menambah pelajaran-pelajaran yang bersifat umum.

Di tengah meningkatnya kesadaran keagamaan dewasa ini pesantren tetap menjadi tujuan orang tua untuk memenuhi tuntutan kependidikan bagi ank-anaknya.

Pengaruh Pesantren

Pesantren merupakan pioner dan corong sosialisasi Islam di Indonesia, bahkan pada era kolonialisme, pesantren tidak saja bermain dalam wilayah da ™wah dan pendidikan akan tetapi juga secara signifikan telah memberikan kontribusi bagi terwujudnya iklim kemerdekaan.

Sejarah menunjukkan bahwa pesantren mempunyai akar tradisi yang sangat kuat di lingkungan masyarakatIndonesiayang merupakan produk budaya orisinil masyarakatIndonesia. Sejak awal kehadirannya pesantren telah menunjukkan watak populisnya dengan memberikan sistem pendidikan yang dapat diakses oleh semua golongan masyarakat. Hal itu merupakan pengeja-wantahan dari konsep ummah dalam Islam yang menempatkan harkat dan martabat manusia secara egaliter di hadapan Tuhan. Karena itulah, dalam perjalanan sejarah keIndonesiaan, pesantren tidak pernah lekang oleh waktu, bahkan secara kuantitas terus mengalami kenaikan (Rahim : 146).

Pesantren mengemban beberapa peran, utamanya sebagai lembaga pendidikan. Jika ada lembaga pendidikan Islam yang sekaligus juga memainkan peran sebagai lembaga bimbingan keagamaan, keilmuan, kepelatihan, pengembangan masyarakat, dan sekaligus menjadi simpul budaya, maka itulah pondok pesantren.

Realitas menunjukkan bahwa pesantren sampai saat ini, memiliki pengaruh cukup kuat dalam setiap aspek kehidupan di kalangan masyarakat khususnya muslim pedesaan yang taat. Kuatnya pengaruh tersebut, membuat setiap pengembangan pemikiran dan interpretasi keagamaan yang berasal dari luar kaum elit pesantren tidak akan memiliki dampak signifikan terhadap way of life dan sikap masyarakat Islam di daerah pedesaan.

Dalam kehidupan pesantren itu sendiri dikenal 3 fungsi dengan istilah tri darma pesantren, yaitu : peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, pengembangan keilmuan yang bermanfaat, dan pengabdian terhadap agama, masyarakat dan Negara.

Realitas kongkrit yang dihadapi masyarakat itu, menjadi tugas utama bagi sebuah lembaga pesantren yang menjadi standarisasi masyarakat luas untuk lebih respek terhadap fenomena yang terjadi guna menata kehidupan dan moralitas bangsa dengan mengacu pada ajaran Nabi.

 

Problematika Pesantren Dan Solusinya

Pasang surut peran pesantren sempat terjadi baik karena faktor didalamnya maupun di luarnya. Pesantren dari   saat ke saat terus mengalami perubahn. Meskipun intensitas dan bentuknya tidak sama antara satu dengan yang lain, perubahan itu dalam realitasnya berdampak jauh bagi keberadaan, peran, dan pencapaian tujuan pesantren, serta pandangan masyarakat luas terhadap lembaga ini. Namun terkadang tidak semua orang dan tokoh pesantren menyadari sepenuhnya seluk beluk perubahan tersebut. Faktor internal, antara lain bersumber dari pola kehidupan masyarakat pesantren yang masih diangap tradisional sehingga perlu adanya relevansi dengan kehidupan dari luar pesantren tersebut yaitu perkembangan global yang terus terjadi saat ini. Perubahan lain disebabkan oleh kerasnya tekanan dari luar. Dalam kondisi semacam itu, biasnya adalah pesantren mengarah kepada formalisme sehingga keberartian para leuhur sering terabai dan mulai dipertanyakan.

Situasi tersebut menimbulkan sejumlah penyesuaian, antara lain dengan mengambil kembali model keperawatan tradisi dan ada pula yang memilih ke   pembaruan dengan tanpa meninggalkan tradisi lama.

Maka diantara dua permasalahan tersebut beberapa pesantren mengambil jalan tengah dengan cara menggabungkan kurikulum pesantren dan kurikulum pemerintah,   tujuannya adalah untuk tetap menjaga tradisi pesantren yang bersumber dari ajaran kitab-kitab kuning dan membuka diri terhadap kebutuhan pengetahuan umum meliputi sains dan teknologi. Supaya diharap pesantren pada nantinya mampu mempertahankan eksistensinya di dunia pendidikan dengan menghasilkan lulusan yang tidak hanya ahli khususnya dalam bidang keagamaan namun dengan bekal ilmu sains dan teknologi dapat diandalkan serta siap menghadapi tantangan perubahan zaman.

  1. B.         KERATON

Keraton atau kraton (bahasa Jawa) adalah daerah tempat seorang penguasa (raja atau ratu) memerintah atau tempat tinggalnya (istana). Yaitu tempat bersemayam ratu-ratu, berasal dari kata-kata : ka + ratu + an =keraton. Keraton juga disebut Kedaton, yaitu berasal dari kata-kata : ke + datu + an = Kedaton, yang artinya tempat datu-datu atau ratu-ratu. Bahasa Indonesianya ialah istana, jadi Keraton ialah istana. Yang mengandung arti diantaranya arti keagamaan, arti filsafat, dan arti kulturil (kebudayaan). Dalam pengertian sehari-hari, keraton sering merujuk pada istana penguasa di Jawa.

Sesuai dengan namanya, maka bisa dipastikan bahwa keraton selalu identik dengan pemimpin (penguasa). Namu jika dihubungkan dengan kehidupan diIndonesiapada saat ini sepertinya kerajaan(keraton) bukanlah sesuatu yang mendominasi kekuasaan. Akan tetapi, keraton merupakan sutau budaya bangsa yang dinamis, sehingga keberadaannya akan selalu ada meskipun tidak terdapat di semua daerah.

Mendengar kata keraton, mungkin yang seringkali kita pikirkan adalah langsung tertuju pada Yogyakarta, sebenarnya masih terdapat banyak keraton di Indonesia, akan tetapi keraton Yogyakarta merupakan salah satu keraton di Indonesia yang lebih dikenali oleh masyarakat. Hal tersebut dikarenakan keraton yogyakarta dikenal  lebih  taat dan konservatif  dalam  memegang  adat istiadat  dan  pepakem.

Keraton Yogyakarta adalah simbol budaya adiluhung Jawa, khususnya yang bernuansa Mataraman. Hingga kini, keraton yang berdiri dua setengah abad lalu itu masih menjadi patron kultural masyarakat di DIY dan sebagian Jawa Tengah.

Keraton Yogyakarta, yang telah berusia 200 tahun, adalah warisan budaya yang tak ternilai harganya, bangunan ini ditata berdasarkan wawasan integral makro dan miko-kosmologis, yang mencakup dimensi ruang: lahir dan batin: dan dimensi waktu: awal dan akhir. Kawasan keraton yang seluaslimakilometer persegi itu merupakan kesatuan kosmologis Agni (Gunung Merapi), Udaka (Laut Selatan), dan Maruta (udara bebas di atas Sitihinggil). Bangunan Sitihinggil, yang didirikan di atas tanah yang ditinggikan, adalah pengejawantahan akan harkat manusia, yang atas perkenan Tuhan Yang Maha Esa, diangkat ke jenjang yang lebih tinggi sebagai Khalifatullah. Inilah unsur Ibu Pertiwinya. Sedangkan unsur ke-Bapak-Angkasaan-nya mencakup surya (matahari), candra (bulan), dan kartika (bintang) Itulah cakupan kepada gelar Hamengku Buwono.

Sebagian besar penduduk asliYogyakartasampai saat ini masih mempercayai kharisma keraton sebagai pusat nilai kehidupan bermasyarakat terutama norma-norma perilaku manusianya. publikYogyakartamemandang Keraton Yogyakarta sebagai patron budaya, tempat nilai-nilai budaya Jawa dilestarikan.

Pengaruh Keraton Di Masyarakat

Hubungan erat antara masyarakat Jogja dan Kraton tampak nyata dalam kesenian, ritual, dan upacara adat mereka. Misalnya pada pernikahan tradisional, pengantin pria dan wanita boleh mengenakan pakaian keluarga kerajaan yang disebut ˜basahan ™. Dahulu hanya keluarga kerajaan yang boleh memakai pakaian tersebut.

Masyarakat percaya bahwa Kraton merupakan referensi budaya mereka. Beberapa studi yang dilakukan pada tahun 1990 menunjukkan bahwa kesetiaan masyarakat kepada Kraton sangat tinggi. Pengaruh tersebut makin meluas semenjak Raja   dianggap dapat menggabungkan kepemimpinan yang karismatik dengan kepemimpinan yang rasional dan modern.

Keberadaan keraton masih `dibutuhkan` masyarakat juga diyakini budayawan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Bakdi Sumanto. “Keberadaan Keraton Yogyakarta sampai sekarang masih dipercaya oleh sebagian besar masyarakat sebagai pelindung spiritual dan menjadi panutan dalam kehidupan bermasyarakat,” katanya.

Peranan Keraton Yogyakarta selain sebagai peninggalan bersejarah yang sangat penting, Keraton juga masih digunakan untuk kepentingan-kepentingan umum dan pemerintahan. Untuk kepentingan umum misalnya masyarakat ataupun pelajar diperbolehkan melakukan penelitian di Keraton Yogya untuk memperoleh pengetahuan tentang Keraton Yogya, isi dan sejarah Keraton.

Untuk pemerintahan saat ini Keraton Yogya masih digunakan untuk tempat tinggal Sri Sultan Hamengkubuwono X, seperti halnya dengan istana negara diJakarta, Keraton yogya juga masih berperan dalam pemerintahan saat ini. Maka dari itu Keraton Yogya masih dirawat dan dijaga oleh abdi-abdi Keraton dengan baik.

Kraton merupakan sebuah istana yang masih eksis. Hingga kini, pengaruhnya sangat terasa terhadap dinamika kebudayaan Yogyakarta. Seiring berjalannya waktu, fungsi kraton telah mengalami pergeseran. Pada masa kolonial, kraton berfungsi sebagai pusat pemerintahan kesultanan Mataram. Selain sebagai pusat kebudayaan Jawa, kini kraton juga berfungsi sebagai habitus pengembangan kebudayaan, tutur Margana.
Sejalan dengan pergeseran fungsi itu, kesenian sebagai produk kebudayaan diYogyakarta pun kian bersemi. Dalam perkembangannya kini, aktivitas kesenianYogyakarta terbagi dalam dua arus. Kesenian tradisional dan kontemporer telah berkembang di sini (Yogyakarta).

Adanya Keraton Yogyakarta dapat bermanfaat bagimasyarakat sekitar. Masyarakat sekitar Keraton memanfaatkan hal ini dengan berjualan di sekitar keraton. Biasanya barang dagangan yang diperdagangkan adalah barang-barang khasYogyakartayang tidak ditemukan di daerah lain. Tidak semua masyarakat sekitar Keraton berjualan, hanya sebagian kecil saja. Walaupun hanya sebagian kecil, tetapi hal ini dapat meningkatkan sistem perekonomian di daerah tersebut walaupun tidak seberapa.

Problematika Keraton dan Solusinya

Bagi masyarakatYogyakartasejumlah kasus pembangunan lain di Yogyakarta, telah ikut mereduksi legitimasi kultural keraton. Boleh jadi, “kemenangan” proyek pembangunan bangunan baru sebenarnya juga mereduksi legitimasi politik Pemprov DIY dan Keraton Yogyakarta.

Gamelan, keris, dan arsitektur barangkali masih dalam kendali keraton, tetapi peran yang diambil Keraton Yogyakarta, menurut kacamata Bayu Wahyono, sekadar “penjaga”, pelestari, dan belum sampai tahap memproduksi kebudayaan baru.

Tahta untuk Rakyat dan Tahta untuk Kesejahteraan Sosial Masyarakat, dua idiom kultural Sultan Hamengku Buwono (HB) IX dan HB X yang amat dipahami masyarakat Yogyakarta dan luarYogyakartaitu sesungguhnya kini kedodoran.

Dalam rumusan Bakdi Soemanto, budayawan dan dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM, keraton sebagai wujud wadhag (fisik) merupakan produk budaya masyarakat. Keraton tidak mungkin berdiri mengisolasi diri. Sejumlah peristiwa politik dan kultural diYogyakartatelah mendorong keraton pada posisi: “Keraton sebenarnya a susceptible phenomenon, sebuah fenomena budaya yang rentan,” kata Bakdi menggarisbawahi.

Keistimewaan Yogyakarta dan keberadaan keraton (Keraton Yogyakarta dan Pura Pakualaman) memang tak bisa dipisahkan karena saling melekat. Namun, keistimewaanYogyakartadan keraton dalam tata nilai juga sudah bukan sepenuhnya menjadi kendali otoritas keraton. Sebagian besar bergantung pada masyarakat yang menilainya.

Pengaruh modernisasi yang cukup kuat di tengah masyarakat mengakibatkan terjadinya pergeseran dalam memaknai nilai-nilai luhur yang ada dalam kehidupan di keraton ini

Institusi kekuasaan dan kebudayaan yang sarat dengan nilai-nilai luhur yang menjadi panutan masyarakat itu, kini semakin terkikis modernisasi. “Sebagian masyarakat sekarang lebih melihat kepada hal yang lebih praktis, sehingga mereka meninggalkan tata cara maupun tradisi yang selama ini diadopsi dari nilai nilai keraton,” kata Condroyono, salah seorang kerabat Keraton Yogyakarta.

Menurut keturunan langsung Sri Sultan Hamengku Buwono VII itu, lingkungan keraton selama ini menjadi pusat budaya dan nilai-nilai luhur yang secara turun-temurun menjadi panutan masyarakatYogyakarta.

                      Namun, kata dia, nilai-nilai luhur dan tradisi keraton semakin ditinggalkan masyarakat, karena terjadi akulturasi budaya, dan hanya beberapa yang masih digunakan oleh sebagian masyarakat di daerah ini.

Ia menyebut contoh upacara tradisi yang hidup di dalam keraton, seperti `brokohan`, `tedak siten` dan lainnya yang selama ini juga hidup di luar tembok kraton, sekarang semakin ditinggalkan masyarakat.

                      Selain itu masih banyak orang yang sebenarnya asli Jawa tidak merasa njawani, mulai dari bahasa, cara bertutur kata, hingga cara berpakaian. Padahal, orang Jawa zaman dulu sangat halus dalam bertutur kata, bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa krama, pun dengan cara berpakaian yang sangat menonjolkan nuansa Jawa.

Inilah yang menjadi kekhawatiran masyarakat mengenai eksistensi keraton di masa mendatang. Apalagi saat ini nuansa modernisme sudah menjalar di segala dimensi kehidupan. Oleh karena itu, perlu dipikirkan bagaimana cara agar Keraton Yogyakarta tetap eksis dan berpengaruh kuat terutama kepada masyarakat DIY sendiri di tengah gencarnya virus globalisasi dan modernisme belakangan ini.

Jika pergantian peran kebudayaan itu tidak dicermati, keinginan untuk memperkokoh nilai-nilai toleransi, kemanusiaan, kerja keras, dan asketisme, serta pembelaan pada masyarakat kecil tidak akan melahirkan usaha- usaha baru menghargai kemanusiaan dan keberagaman.

Inilah problem reproduksi kebudayaan diYogyakarta. Kesanggupan untuk saling terbuka dan mengorganisasi sejumlah gagasan dalam wujud agenda kegiatan sosial politik, dan kebijakan publik, akan ikut menentukan nilai- nilai tadi tetap kuat atau tidak.

Maka yang perlu dipahami oleh masyarakat khususnya masyarakat sekitar keraton adalah tetap ikut menjaga eksistensi keraton walaupun pada saat ini banyak pengaruh-pengaruh yang semakin melunturkan nilai-nilai yang ada.

Untuk mengatasi permasalahan lunturnya kebudayaan, perlulah kerjasama antara pihak kertaton dan masyarakat untuk selalu mempertahankan kebudayaan serta adat dan nilai yang menjadi kekuatan keraton. Dengan tetap melestarikan kegiatan-kegiatan keraton yang telah menjadi kebiasaan lama.

C. Peguron

Peguron berasal dari kata berguru, dahulu belum ada istilah sekolah seperti sekarang ini. Untuk mencari dan mendalami ilmu haruslah mendatangi orang yang dianggap mengerti tentang hal yang ingin dipelajari, peguron merupakan tempat belajar ilmu-ilmu yang dahulu di anggap ilmu yang penting misalnya ilmu tentang kebatinan, kekuatan fisik, mengaji, kesastraan dan lain sebagainya.

Pada awalnya peguron merupakan tempat berlatih ilmu- ilmu perlindungan diri dalam bertahan melawan penjajahan. Namun pada kelanjutannya peguron juga mengajarkan tentang arti kehidupan, kekeluargaan dan usaha menciptakan perdamaian.

Peguron merupakan tempat belajar yang dikelola oleh seorang guru yang dianggap sebagi panutan, guru dalam konteks peguron merupakan orang yang mengabdikan ilmu-ilmu yang dia miliki untuk diajarkan kepada murid-muridnya. Segala sesutau tentang peguron tersebut menjadi tanggung jawab guru. Jadi peran guru adalah sebagai panutan dan penanggung jawab dalam ilmu-ilmu yang di ajarkan. Akan tetapi bukan berarti murid tidak berperan dalam mengembangkan ajaran-ajaran yang diberikan sang guru.

Guru, dalam beberapa hal, jika memberikan perintah langsung, belum tentu sang murid dapat menerimanya langsung, sebab secara umum seorang siswa/murid yang belum maju, merasa kesulitan untuk meminggirkan egonya. Sang murid akan mengalami kesulitan menerima perintah langsung tersebut. Sering terjadi bahwa siswa diberikan pelajaran atau arahan oleh sang guru tetapi berbalik murid itu memberikan pelajaran kepada sang Guru.

Seorang guru akan memberikan pelajaran apa pun kepada muridnya dalam berbagai bentuk, kadang memberikan pelajaran lewat pemberian inspirasi, tanda “ tanda, isyarat “ isyarat, contoh “ contoh, dan terhadap murid tertentu kadang “kadang beliau memberikan pelajaran dengan cara disiplin yang keras, yang kadang “ kadang disiplin tampak seperti kemarahan besar, seperti kekejaman besar. Namun, dengan cara tersebut, sang Guru ingin membuat muridnya kaget dan sadar akan diri, menyadari bahwa dia berada di jalan yang tidak diinginkan oleh sang guru, demi membawa murid kepada jalan kebaikan.

Jarangnya terdengar kata peguron pada saat ini bukan berarti peguron tidak terdapat di masa sekarang, peguron masih tetap ada, namun kita jarang menyebutnya dengan istilah peguron karena banyak istilah-istilah baru yang telah menggeser makna peguron itu sendiri. Saat ini banyak terdapat kursus-kursus, hal tersebut juga merupakan peguron, namun sudah tidak lagi dinamai dengan istilah peguron.

Sebenarnya masih banyak terdapat peguron-peguron di sekitar kita. Perguruan pencak silat, debus, kursus kesenian tari, dan alat musik tradisional juga merupakan merupakan produk kebudayaan yang diajarkan dalam konteks peguron.

Pengaruh Peguron

MasyarakatIndonesiadi tengah budaya asing, tetap mempercayai adanya kebudayaan sendiri yaitu Ilmu-ilmu kebatinan baik ilmu hitam maupun putih. Hal tersebut merupakan produk budaya peguron pada masa lalu yang tetap menjadi kepercayaan pada masa sekarang.

Ilmu-ilmu beladiri yang memadukan unsur kekuatan fisik dan kebatinan yang banyak kita jumpai pada saat ini berkembang menjadi berbagai macam versi akibat pengaruh budaya-budaya asing, juga merupakan produk peguron di masa lalu.

Selain itu karya-karya satra yang saat ini menjadi ajaran-ajaran budaya jawa merupakan produk peguron yang manfaatnya masih bisa dirasakan, baik sebagai kesenian maupun pengaruh spiritual masyarakat.

Ilmu-ilmu yang dipelajari dalam peguron juga merupakan perpaduan ilmu keagamaan yang dipercaya sebagai sumber kekuatan dalam melakukan segala sesuatu.

Guru adalah orang yang lebih memiliki pengalaman hidup yang kemudian menularkan ilmu-ilmu yang dimiliki kepada orang lain/ muridnya agar ilmu- ilmu yang dimiliki tetap dapat lestari.  

 

Problematika Peguron dan solusinya

Seiring perkembangan zaman, pendidikan diIndonesiamenjadi prioritas dan telah memiliki tempat-tempat yang disebut dengan sekolah. Oleh sebab itu saat ini keberadaan peguron sudah sangat jarang terdengar, bahkan hampir tidak ada. Saat ini istilah-istilah lama sudah tidak lagi dipergunakan karena lebih populernya istilah-istilah baru.

Hal tersebut mestinya tidak kita inginkan agar kita tidak terlupa dengan budaya-budaya lama yang terdapat di sekitar kita.

                      Dimasa mendatang peguron diharapkan dapat dikelola oleh Guru dan pelatih sebagai penanggung jawab keilmuan didampingi oleh pengelola Organisasi secara baik, dengan tetap berpegang pada nilai “ nilai luhur. Memutar roda usaha Peguron secara efektif dan efisien, serta standar   tatakrama, tatacara dilandasi semangat kekeluargaan, terbuka, saling memajukan, dan saling melindungi. Saling didengar dan saling mendengar. Dengan cara inilah diharapkan bahwa Ilmu di peguron dapat diteruskembangkan oleh para gurunya, secara berkesinambungan dan berkelanjutan sepanjang zaman.

Untuk melestarikan budaya peguron, sebaiknya peguron dikelola dengan memadukan unsur-unsur lama dan unsur-unsur baru agar peguron tetap dapat memainkan peran sebagai salah satu tempat mendapat ilmu. Maksudnya yaitu meskipun sekarang sudah sering kita memakai istilah-istilah asing dalam membuka lembaga pendidikan, namun kita tetapharus mencantumkan keaslian kebudayaan kita sendiri yaitu dengan tetap menggunakan nama peguron tersebut sebagai bukti wujud kebanggan kita terhadap kekayan budaya kita.

PENGARUH PESANTREN, PEGURON, DAN KERATON PADA MASYARAKAT

  1. A.                   Pesantren

Pesantren adalah sebuah institusi pendidikan keagamaan tertua yang tumbuh dan berkembang secara swadaya dalam masyarakat muslimIndonesia. Lembaga pendidikan yang khasIndonesia(indigenous) ini bisa dilacak sejak awal kehadiran dan da ™wah Islam di Indonesia (Ambari, 2001 : 319).

Penyiaran Islam khususnya di Jawa relatif tidak menimbulkan problem konfliktual karena proses akulturasi, akomodasi, dan transformasi terhadap lembaga semisal yang telah eksis sebelumnya yang dimainkan oleh agama Hindu-Budha (Rahim, 2001 : 145).

Wujud simbolik khas pesantren adalah masjid/ musala, asrama, ruang-ruang kelas, kediaman pengurus, dan kediaman Kyai beserta keluarganya.

Ciri khas dari lembaga pesantren semenjak permulaan timbulnya, adalah bahwa pesantren itu merupakan milik perseorangan. la yang mendirikan, membina dan memajukannya atas usahanya sendiri. Tanah tempat pesantren itu berdiri pada umumnya milik kyai sendiri atau kepunyaan wakaf. Kyai bertempat tinggal bersama-sama keluarganya di kompleks pesantren, bersama-sama para santri yang tinggal di asrama yang disebut pondok dalam pesantren itu. Jadi pesantren merupakan masyarakat kecil yang berfungsi mendidik san-tri-santri secara kekeluargaan dan secara informal (Soebardi, 1978)

Kepemimpinan dalam pesantren umumnya adalah peran kyai sebagai pemilik dan sebagai pemegang kendali terhadap kelangsungan pesantren tersebut. Sistem pergantian kepemimpinan biasanya sama seperti kerajaan yaitu kepemimpinan yang digantikan oleh para keturunan dari Kyai itu sendiri.

Pada umumnya Metode pembelajaran di pesantren adalah dengan bendhongan dan sorogan.

?   Bendhongan dilakukan dengan cara kyai/ guru membacakan teks-teks kitab yang berbahasa arab, menerjemahkanyya ke dalam bahasa lokal, dan sekaligus menjelaskan maksud yang terkandung dalam kitab tersebut

?   Sorogan adalah semacam CBSA yaitu santri aktif memilih kitab, biasanya kitab kuning yang akan dibaca, kemudian membaca dan menerjemhnkanyya di hadapan kyai untuk dikoreksi bacaannya atau terjemahannya.

Lembaga pesantren tumbuh dan berkembang dari dan untuk masyarakat dengan memposisikan dirinya sebagai bagian dari masyarakat dalam pengertian yang transformatif. Pesantren terikhtiarkan meletakkan visi dan kiprahnya dalam kerangka pengabdian sosial yang pada mulanya ditekankan kepada pembentukan moral dan kemudian dikembangkan dengan rutinitas-rutinitas pengembangan yang lebih sistematis dan terpadu.

Pengabdian sosial masyarakat yang dilakukan pesantren itu merupakan manifestasi dan nilai-nilai yang dipegang pesantren. Nilai pokok yang selama ini berkembang dalam komunitas santri lebih tepatnya lagi dunia pesantren adalah seluruh kehidupan ini diyakini sebagai ibadah. Maksudnya, kehidupan dunia disubordinasikan dalam rangkuman nilai-nilai ilahi yang mereka peluk sebagai nilai yang tertinggi. Dari nilai pokok ini berkembang nilai-nilai luhur yang lainnya, seperti nilai keikhlasan, kesederhanaan dan kemandirian. Nilai-nilai ini merupakan dasar yang dijadikan landasan pesantren dalam pendidikan dan pengembangan masyarakat yang pada gilirannya dikembangkan sebagai nilai yang paling substansial.

Di samping ketiga nilai-nilai tersebut (keikhlasan, kesederhanaa, kemandirian) sebagai landasan dasar dan menjadi acuan masyarakat luas, dan secara fundamental juga sebagai senjata untuk membendung kungkungan kapitalisme, globalisasi yang saat ini hampir menjadi agama baru yang tidak lagi terlekat oleh dimensi ruang dan waktu.

Tujuan pesantren tidak lain adalah mencetak ulama, yaitu orang yang mendalam ilmu agamanya, hal tersebut berkaitan dengan proses perkembangna zaman yang semakin tercampur akibat adanya globalisasi, maka pada saat ini pesantren, disamping memerankan tujuan utama tersebut, juga membekali para santri dengan ilmu-ilmu modern agar para lulusannya tidak terlalu kaku dalam menjalani kehidupan ketika dia lulus dari pesantren. Oleh karena itu di zaman sekarang timbullah variasi antara pesantren yang masih memegang teguh ajaran agama, yaitu masih exis dengan sistem pembelajaran salafi, dan ada pula pesantren yang mengembangkan pendidikannya dengan menambah pelajaran-pelajaran yang bersifat umum.

Di tengah meningkatnya kesadaran keagamaan dewasa ini pesantren tetap menjadi tujuan orang tua untuk memenuhi tuntutan kependidikan bagi ank-anaknya.

Pengaruh Pesantren

Pesantren merupakan pioner dan corong sosialisasi Islam di Indonesia, bahkan pada era kolonialisme, pesantren tidak saja bermain dalam wilayah da ™wah dan pendidikan akan tetapi juga secara signifikan telah memberikan kontribusi bagi terwujudnya iklim kemerdekaan.

Sejarah menunjukkan bahwa pesantren mempunyai akar tradisi yang sangat kuat di lingkungan masyarakatIndonesiayang merupakan produk budaya orisinil masyarakatIndonesia. Sejak awal kehadirannya pesantren telah menunjukkan watak populisnya dengan memberikan sistem pendidikan yang dapat diakses oleh semua golongan masyarakat. Hal itu merupakan pengeja-wantahan dari konsep ummah dalam Islam yang menempatkan harkat dan martabat manusia secara egaliter di hadapan Tuhan. Karena itulah, dalam perjalanan sejarah keIndonesiaan, pesantren tidak pernah lekang oleh waktu, bahkan secara kuantitas terus mengalami kenaikan (Rahim : 146).

Pesantren mengemban beberapa peran, utamanya sebagai lembaga pendidikan. Jika ada lembaga pendidikan Islam yang sekaligus juga memainkan peran sebagai lembaga bimbingan keagamaan, keilmuan, kepelatihan, pengembangan masyarakat, dan sekaligus menjadi simpul budaya, maka itulah pondok pesantren.

Realitas menunjukkan bahwa pesantren sampai saat ini, memiliki pengaruh cukup kuat dalam setiap aspek kehidupan di kalangan masyarakat khususnya muslim pedesaan yang taat. Kuatnya pengaruh tersebut, membuat setiap pengembangan pemikiran dan interpretasi keagamaan yang berasal dari luar kaum elit pesantren tidak akan memiliki dampak signifikan terhadap way of life dan sikap masyarakat Islam di daerah pedesaan.

Dalam kehidupan pesantren itu sendiri dikenal 3 fungsi dengan istilah tri darma pesantren, yaitu : peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, pengembangan keilmuan yang bermanfaat, dan pengabdian terhadap agama, masyarakat dan Negara.

Realitas kongkrit yang dihadapi masyarakat itu, menjadi tugas utama bagi sebuah lembaga pesantren yang menjadi standarisasi masyarakat luas untuk lebih respek terhadap fenomena yang terjadi guna menata kehidupan dan moralitas bangsa dengan mengacu pada ajaran Nabi.

 

Problematika Pesantren Dan Solusinya

Pasang surut peran pesantren sempat terjadi baik karena faktor didalamnya maupun di luarnya. Pesantren dari   saat ke saat terus mengalami perubahn. Meskipun intensitas dan bentuknya tidak sama antara satu dengan yang lain, perubahan itu dalam realitasnya berdampak jauh bagi keberadaan, peran, dan pencapaian tujuan pesantren, serta pandangan masyarakat luas terhadap lembaga ini. Namun terkadang tidak semua orang dan tokoh pesantren menyadari sepenuhnya seluk beluk perubahan tersebut. Faktor internal, antara lain bersumber dari pola kehidupan masyarakat pesantren yang masih diangap tradisional sehingga perlu adanya relevansi dengan kehidupan dari luar pesantren tersebut yaitu perkembangan global yang terus terjadi saat ini. Perubahan lain disebabkan oleh kerasnya tekanan dari luar. Dalam kondisi semacam itu, biasnya adalah pesantren mengarah kepada formalisme sehingga keberartian para leuhur sering terabai dan mulai dipertanyakan.

Situasi tersebut menimbulkan sejumlah penyesuaian, antara lain dengan mengambil kembali model keperawatan tradisi dan ada pula yang memilih ke   pembaruan dengan tanpa meninggalkan tradisi lama.

Maka diantara dua permasalahan tersebut beberapa pesantren mengambil jalan tengah dengan cara menggabungkan kurikulum pesantren dan kurikulum pemerintah,   tujuannya adalah untuk tetap menjaga tradisi pesantren yang bersumber dari ajaran kitab-kitab kuning dan membuka diri terhadap kebutuhan pengetahuan umum meliputi sains dan teknologi. Supaya diharap pesantren pada nantinya mampu mempertahankan eksistensinya di dunia pendidikan dengan menghasilkan lulusan yang tidak hanya ahli khususnya dalam bidang keagamaan namun dengan bekal ilmu sains dan teknologi dapat diandalkan serta siap menghadapi tantangan perubahan zaman.

  1. B.         KERATON

Keraton atau kraton (bahasa Jawa) adalah daerah tempat seorang penguasa (raja atau ratu) memerintah atau tempat tinggalnya (istana). Yaitu tempat bersemayam ratu-ratu, berasal dari kata-kata : ka + ratu + an =keraton. Keraton juga disebut Kedaton, yaitu berasal dari kata-kata : ke + datu + an = Kedaton, yang artinya tempat datu-datu atau ratu-ratu. Bahasa Indonesianya ialah istana, jadi Keraton ialah istana. Yang mengandung arti diantaranya arti keagamaan, arti filsafat, dan arti kulturil (kebudayaan). Dalam pengertian sehari-hari, keraton sering merujuk pada istana penguasa di Jawa.

Sesuai dengan namanya, maka bisa dipastikan bahwa keraton selalu identik dengan pemimpin (penguasa). Namu jika dihubungkan dengan kehidupan diIndonesiapada saat ini sepertinya kerajaan(keraton) bukanlah sesuatu yang mendominasi kekuasaan. Akan tetapi, keraton merupakan sutau budaya bangsa yang dinamis, sehingga keberadaannya akan selalu ada meskipun tidak terdapat di semua daerah.

Mendengar kata keraton, mungkin yang seringkali kita pikirkan adalah langsung tertuju pada Yogyakarta, sebenarnya masih terdapat banyak keraton di Indonesia, akan tetapi keraton Yogyakarta merupakan salah satu keraton di Indonesia yang lebih dikenali oleh masyarakat. Hal tersebut dikarenakan keraton yogyakarta dikenal  lebih  taat dan konservatif  dalam  memegang  adat istiadat  dan  pepakem.

Keraton Yogyakarta adalah simbol budaya adiluhung Jawa, khususnya yang bernuansa Mataraman. Hingga kini, keraton yang berdiri dua setengah abad lalu itu masih menjadi patron kultural masyarakat di DIY dan sebagian Jawa Tengah.

Keraton Yogyakarta, yang telah berusia 200 tahun, adalah warisan budaya yang tak ternilai harganya, bangunan ini ditata berdasarkan wawasan integral makro dan miko-kosmologis, yang mencakup dimensi ruang: lahir dan batin: dan dimensi waktu: awal dan akhir. Kawasan keraton yang seluaslimakilometer persegi itu merupakan kesatuan kosmologis Agni (Gunung Merapi), Udaka (Laut Selatan), dan Maruta (udara bebas di atas Sitihinggil). Bangunan Sitihinggil, yang didirikan di atas tanah yang ditinggikan, adalah pengejawantahan akan harkat manusia, yang atas perkenan Tuhan Yang Maha Esa, diangkat ke jenjang yang lebih tinggi sebagai Khalifatullah. Inilah unsur Ibu Pertiwinya. Sedangkan unsur ke-Bapak-Angkasaan-nya mencakup surya (matahari), candra (bulan), dan kartika (bintang) Itulah cakupan kepada gelar Hamengku Buwono.

Sebagian besar penduduk asliYogyakartasampai saat ini masih mempercayai kharisma keraton sebagai pusat nilai kehidupan bermasyarakat terutama norma-norma perilaku manusianya. publikYogyakartamemandang Keraton Yogyakarta sebagai patron budaya, tempat nilai-nilai budaya Jawa dilestarikan.

Pengaruh Keraton Di Masyarakat

Hubungan erat antara masyarakat Jogja dan Kraton tampak nyata dalam kesenian, ritual, dan upacara adat mereka. Misalnya pada pernikahan tradisional, pengantin pria dan wanita boleh mengenakan pakaian keluarga kerajaan yang disebut ˜basahan ™. Dahulu hanya keluarga kerajaan yang boleh memakai pakaian tersebut.

Masyarakat percaya bahwa Kraton merupakan referensi budaya mereka. Beberapa studi yang dilakukan pada tahun 1990 menunjukkan bahwa kesetiaan masyarakat kepada Kraton sangat tinggi. Pengaruh tersebut makin meluas semenjak Raja   dianggap dapat menggabungkan kepemimpinan yang karismatik dengan kepemimpinan yang rasional dan modern.

Keberadaan keraton masih `dibutuhkan` masyarakat juga diyakini budayawan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Bakdi Sumanto. “Keberadaan Keraton Yogyakarta sampai sekarang masih dipercaya oleh sebagian besar masyarakat sebagai pelindung spiritual dan menjadi panutan dalam kehidupan bermasyarakat,” katanya.

Peranan Keraton Yogyakarta selain sebagai peninggalan bersejarah yang sangat penting, Keraton juga masih digunakan untuk kepentingan-kepentingan umum dan pemerintahan. Untuk kepentingan umum misalnya masyarakat ataupun pelajar diperbolehkan melakukan penelitian di Keraton Yogya untuk memperoleh pengetahuan tentang Keraton Yogya, isi dan sejarah Keraton.

Untuk pemerintahan saat ini Keraton Yogya masih digunakan untuk tempat tinggal Sri Sultan Hamengkubuwono X, seperti halnya dengan istana negara diJakarta, Keraton yogya juga masih berperan dalam pemerintahan saat ini. Maka dari itu Keraton Yogya masih dirawat dan dijaga oleh abdi-abdi Keraton dengan baik.

Kraton merupakan sebuah istana yang masih eksis. Hingga kini, pengaruhnya sangat terasa terhadap dinamika kebudayaan Yogyakarta. Seiring berjalannya waktu, fungsi kraton telah mengalami pergeseran. Pada masa kolonial, kraton berfungsi sebagai pusat pemerintahan kesultanan Mataram. Selain sebagai pusat kebudayaan Jawa, kini kraton juga berfungsi sebagai habitus pengembangan kebudayaan, tutur Margana.
Sejalan dengan pergeseran fungsi itu, kesenian sebagai produk kebudayaan diYogyakarta pun kian bersemi. Dalam perkembangannya kini, aktivitas kesenianYogyakarta terbagi dalam dua arus. Kesenian tradisional dan kontemporer telah berkembang di sini (Yogyakarta).

Adanya Keraton Yogyakarta dapat bermanfaat bagimasyarakat sekitar. Masyarakat sekitar Keraton memanfaatkan hal ini dengan berjualan di sekitar keraton. Biasanya barang dagangan yang diperdagangkan adalah barang-barang khasYogyakartayang tidak ditemukan di daerah lain. Tidak semua masyarakat sekitar Keraton berjualan, hanya sebagian kecil saja. Walaupun hanya sebagian kecil, tetapi hal ini dapat meningkatkan sistem perekonomian di daerah tersebut walaupun tidak seberapa.

Problematika Keraton dan Solusinya

Bagi masyarakatYogyakartasejumlah kasus pembangunan lain di Yogyakarta, telah ikut mereduksi legitimasi kultural keraton. Boleh jadi, “kemenangan” proyek pembangunan bangunan baru sebenarnya juga mereduksi legitimasi politik Pemprov DIY dan Keraton Yogyakarta.

Gamelan, keris, dan arsitektur barangkali masih dalam kendali keraton, tetapi peran yang diambil Keraton Yogyakarta, menurut kacamata Bayu Wahyono, sekadar “penjaga”, pelestari, dan belum sampai tahap memproduksi kebudayaan baru.

Tahta untuk Rakyat dan Tahta untuk Kesejahteraan Sosial Masyarakat, dua idiom kultural Sultan Hamengku Buwono (HB) IX dan HB X yang amat dipahami masyarakat Yogyakarta dan luarYogyakartaitu sesungguhnya kini kedodoran.

Dalam rumusan Bakdi Soemanto, budayawan dan dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM, keraton sebagai wujud wadhag (fisik) merupakan produk budaya masyarakat. Keraton tidak mungkin berdiri mengisolasi diri. Sejumlah peristiwa politik dan kultural diYogyakartatelah mendorong keraton pada posisi: “Keraton sebenarnya a susceptible phenomenon, sebuah fenomena budaya yang rentan,” kata Bakdi menggarisbawahi.

Keistimewaan Yogyakarta dan keberadaan keraton (Keraton Yogyakarta dan Pura Pakualaman) memang tak bisa dipisahkan karena saling melekat. Namun, keistimewaanYogyakartadan keraton dalam tata nilai juga sudah bukan sepenuhnya menjadi kendali otoritas keraton. Sebagian besar bergantung pada masyarakat yang menilainya.

Pengaruh modernisasi yang cukup kuat di tengah masyarakat mengakibatkan terjadinya pergeseran dalam memaknai nilai-nilai luhur yang ada dalam kehidupan di keraton ini

Institusi kekuasaan dan kebudayaan yang sarat dengan nilai-nilai luhur yang menjadi panutan masyarakat itu, kini semakin terkikis modernisasi. “Sebagian masyarakat sekarang lebih melihat kepada hal yang lebih praktis, sehingga mereka meninggalkan tata cara maupun tradisi yang selama ini diadopsi dari nilai nilai keraton,” kata Condroyono, salah seorang kerabat Keraton Yogyakarta.

Menurut keturunan langsung Sri Sultan Hamengku Buwono VII itu, lingkungan keraton selama ini menjadi pusat budaya dan nilai-nilai luhur yang secara turun-temurun menjadi panutan masyarakatYogyakarta.

                      Namun, kata dia, nilai-nilai luhur dan tradisi keraton semakin ditinggalkan masyarakat, karena terjadi akulturasi budaya, dan hanya beberapa yang masih digunakan oleh sebagian masyarakat di daerah ini.

Ia menyebut contoh upacara tradisi yang hidup di dalam keraton, seperti `brokohan`, `tedak siten` dan lainnya yang selama ini juga hidup di luar tembok kraton, sekarang semakin ditinggalkan masyarakat.

                      Selain itu masih banyak orang yang sebenarnya asli Jawa tidak merasa njawani, mulai dari bahasa, cara bertutur kata, hingga cara berpakaian. Padahal, orang Jawa zaman dulu sangat halus dalam bertutur kata, bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa krama, pun dengan cara berpakaian yang sangat menonjolkan nuansa Jawa.

Inilah yang menjadi kekhawatiran masyarakat mengenai eksistensi keraton di masa mendatang. Apalagi saat ini nuansa modernisme sudah menjalar di segala dimensi kehidupan. Oleh karena itu, perlu dipikirkan bagaimana cara agar Keraton Yogyakarta tetap eksis dan berpengaruh kuat terutama kepada masyarakat DIY sendiri di tengah gencarnya virus globalisasi dan modernisme belakangan ini.

Jika pergantian peran kebudayaan itu tidak dicermati, keinginan untuk memperkokoh nilai-nilai toleransi, kemanusiaan, kerja keras, dan asketisme, serta pembelaan pada masyarakat kecil tidak akan melahirkan usaha- usaha baru menghargai kemanusiaan dan keberagaman.

Inilah problem reproduksi kebudayaan diYogyakarta. Kesanggupan untuk saling terbuka dan mengorganisasi sejumlah gagasan dalam wujud agenda kegiatan sosial politik, dan kebijakan publik, akan ikut menentukan nilai- nilai tadi tetap kuat atau tidak.

Maka yang perlu dipahami oleh masyarakat khususnya masyarakat sekitar keraton adalah tetap ikut menjaga eksistensi keraton walaupun pada saat ini banyak pengaruh-pengaruh yang semakin melunturkan nilai-nilai yang ada.

Untuk mengatasi permasalahan lunturnya kebudayaan, perlulah kerjasama antara pihak kertaton dan masyarakat untuk selalu mempertahankan kebudayaan serta adat dan nilai yang menjadi kekuatan keraton. Dengan tetap melestarikan kegiatan-kegiatan keraton yang telah menjadi kebiasaan lama.

C. Peguron

Peguron berasal dari kata berguru, dahulu belum ada istilah sekolah seperti sekarang ini. Untuk mencari dan mendalami ilmu haruslah mendatangi orang yang dianggap mengerti tentang hal yang ingin dipelajari, peguron merupakan tempat belajar ilmu-ilmu yang dahulu di anggap ilmu yang penting misalnya ilmu tentang kebatinan, kekuatan fisik, mengaji, kesastraan dan lain sebagainya.

Pada awalnya peguron merupakan tempat berlatih ilmu- ilmu perlindungan diri dalam bertahan melawan penjajahan. Namun pada kelanjutannya peguron juga mengajarkan tentang arti kehidupan, kekeluargaan dan usaha menciptakan perdamaian.

Peguron merupakan tempat belajar yang dikelola oleh seorang guru yang dianggap sebagi panutan, guru dalam konteks peguron merupakan orang yang mengabdikan ilmu-ilmu yang dia miliki untuk diajarkan kepada murid-muridnya. Segala sesutau tentang peguron tersebut menjadi tanggung jawab guru. Jadi peran guru adalah sebagai panutan dan penanggung jawab dalam ilmu-ilmu yang di ajarkan. Akan tetapi bukan berarti murid tidak berperan dalam mengembangkan ajaran-ajaran yang diberikan sang guru.

Guru, dalam beberapa hal, jika memberikan perintah langsung, belum tentu sang murid dapat menerimanya langsung, sebab secara umum seorang siswa/murid yang belum maju, merasa kesulitan untuk meminggirkan egonya. Sang murid akan mengalami kesulitan menerima perintah langsung tersebut. Sering terjadi bahwa siswa diberikan pelajaran atau arahan oleh sang guru tetapi berbalik murid itu memberikan pelajaran kepada sang Guru.

Seorang guru akan memberikan pelajaran apa pun kepada muridnya dalam berbagai bentuk, kadang memberikan pelajaran lewat pemberian inspirasi, tanda “ tanda, isyarat “ isyarat, contoh “ contoh, dan terhadap murid tertentu kadang “kadang beliau memberikan pelajaran dengan cara disiplin yang keras, yang kadang “ kadang disiplin tampak seperti kemarahan besar, seperti kekejaman besar. Namun, dengan cara tersebut, sang Guru ingin membuat muridnya kaget dan sadar akan diri, menyadari bahwa dia berada di jalan yang tidak diinginkan oleh sang guru, demi membawa murid kepada jalan kebaikan.

Jarangnya terdengar kata peguron pada saat ini bukan berarti peguron tidak terdapat di masa sekarang, peguron masih tetap ada, namun kita jarang menyebutnya dengan istilah peguron karena banyak istilah-istilah baru yang telah menggeser makna peguron itu sendiri. Saat ini banyak terdapat kursus-kursus, hal tersebut juga merupakan peguron, namun sudah tidak lagi dinamai dengan istilah peguron.

Sebenarnya masih banyak terdapat peguron-peguron di sekitar kita. Perguruan pencak silat, debus, kursus kesenian tari, dan alat musik tradisional juga merupakan merupakan produk kebudayaan yang diajarkan dalam konteks peguron.

Pengaruh Peguron

MasyarakatIndonesiadi tengah budaya asing, tetap mempercayai adanya kebudayaan sendiri yaitu Ilmu-ilmu kebatinan baik ilmu hitam maupun putih. Hal tersebut merupakan produk budaya peguron pada masa lalu yang tetap menjadi kepercayaan pada masa sekarang.

Ilmu-ilmu beladiri yang memadukan unsur kekuatan fisik dan kebatinan yang banyak kita jumpai pada saat ini berkembang menjadi berbagai macam versi akibat pengaruh budaya-budaya asing, juga merupakan produk peguron di masa lalu.

Selain itu karya-karya satra yang saat ini menjadi ajaran-ajaran budaya jawa merupakan produk peguron yang manfaatnya masih bisa dirasakan, baik sebagai kesenian maupun pengaruh spiritual masyarakat.

Ilmu-ilmu yang dipelajari dalam peguron juga merupakan perpaduan ilmu keagamaan yang dipercaya sebagai sumber kekuatan dalam melakukan segala sesuatu.

Guru adalah orang yang lebih memiliki pengalaman hidup yang kemudian menularkan ilmu-ilmu yang dimiliki kepada orang lain/ muridnya agar ilmu- ilmu yang dimiliki tetap dapat lestari.

   

Problematika Peguron dan solusinya

Seiring perkembangan zaman, pendidikan diIndonesiamenjadi prioritas dan telah memiliki tempat-tempat yang disebut dengan sekolah. Oleh sebab itu saat ini keberadaan peguron sudah sangat jarang terdengar, bahkan hampir tidak ada. Saat ini istilah-istilah lama sudah tidak lagi dipergunakan karena lebih populernya istilah-istilah baru.

Hal tersebut mestinya tidak kita inginkan agar kita tidak terlupa dengan budaya-budaya lama yang terdapat di sekitar kita.

                      Dimasa mendatang peguron diharapkan dapat dikelola oleh Guru dan pelatih sebagai penanggung jawab keilmuan didampingi oleh pengelola Organisasi secara baik, dengan tetap berpegang pada nilai “ nilai luhur. Memutar roda usaha Peguron secara efektif dan efisien, serta standar   tatakrama, tatacara dilandasi semangat kekeluargaan, terbuka, saling memajukan, dan saling melindungi. Saling didengar dan saling mendengar. Dengan cara inilah diharapkan bahwa Ilmu di peguron dapat diteruskembangkan oleh para gurunya, secara berkesinambungan dan berkelanjutan sepanjang zaman.

Untuk melestarikan budaya peguron, sebaiknya peguron dikelola dengan memadukan unsur-unsur lama dan unsur-unsur baru agar peguron tetap dapat memainkan peran sebagai salah satu tempat mendapat ilmu. Maksudnya yaitu meskipun sekarang sudah sering kita memakai istilah-istilah asing dalam membuka lembaga pendidikan, namun kita tetapharus mencantumkan keaslian kebudayaan kita sendiri yaitu dengan tetap menggunakan nama peguron tersebut sebagai bukti wujud kebanggan kita terhadap kekayan budaya kita.


COMMENTS

WORDPRESS: 0