PENINGKATAN MUTU LAYANAN PKBM MELALUI PROGRAM KEWIRAUSAHAAN BERBASIS KEMITRAAN

PENINGKATAN MUTU LAYANAN PKBM  MELALUI PROGRAM KEWIRAUSAHAAN BERBASIS KEMITRAAN

Oleh : Fithrotul Laily Farida Mahfudhoh

Dasar Pemikiran

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) adalah sebuah lembaga/wadah tempat menampung kegiatan belajar masyarakat, sehingga keberadaannya merupakan salah satu alternatif yang dapat dipilih dan dijadikan ajang pemberdayaan masyarakat. Sejalan dengan pemikiran melembagakan pusat kegiatan belajar masyarakat, maka potensi yang selama ini tidak tergali akan dapat digali, ditumbuhkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat.

Gagasan menggulirkan pusat kegiatan belajar masyarakat ini timbul karena luasnya sasaran layanan, kompleksitas dan kendala yang dihadapi masyarakat. Hal ini menyadarkan dan menyemangati pelaku pembangunan untuk melakukan berbagai upaya pembelajaran masyarakat yang berpangkal pada masyarakat, dilaksanakan oleh masyarakat, berada di dalam lingkungan masyarakat dan bermakna untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Strategi ini digunakan agar dalam penyelenggaraan program pembelajaran masyarakat senantiasa berada dalam koridor pemberdayaan masyarakat. Dalam perspektif inilah pelaksanaan strategi mendinamisasikan peran serta masyarakat untuk merencanakan, melaksanakan, mengembangkan dan melembagakan kegiatan belajarnya yang diaktualisasikan dengan pembentukan PKBM.

Prinsip utama pembentukan PKBM adalah bertolak dari kebermaknaan, kebermanfaatan dan keterlibatan warga belajar dalam perencanaan dan pelaksanaan program belajar. PKBM tumbuh dan berkembang dari, oleh dan untuk masyarakat dan pemerintah hanya berperan fasilitator. PKBM bukan milik pemerintah tetapi milik masyarakat yang dikelola oleh masyarakat setempat dimana PKBM berada. Bagaimanapun, keberhasilan pendidikan merupakan tanggungjawab bersama antara keluarga, pemerintah dan masyarakat.

Keterlibatan masyarakat dalam proses pendidikan secara tidak langsung akan memberikan ruang gerak yang lebih luas, sehingga masyarakat akan semakin dewasa dan semakin mandiri dalam menentukan masa depannya. Dengan demikian pengembangan program-program yang ada di PKBM diarahkan pada pengembangan potensi masyarakat. Anggota masyarakat yang memiliki kelebihan, baik dalam bidang pengetahuan maupun keterampilan membantu mereka yang masih ketinggalan pendidikannya, sehingga masyarakat mampu untuk mandiri, menopang kehidupan keluarga dan mendukung pembangunan masyarakatnya. Dengan kata lain, apabila potensi yang ada di masyarakat dapat berkembang secara optimal, maka keberadaan PKBM akan selalu mendapat tempat dan dukungan dari masyarakat yang mengarah pada suatu tujuan, yaitu terciptanya masyarakat yang gemar belajar, kreatif, dinamis, mandiri, memiliki daya saing serta sanggup menghadapi segala tantangan ke depan.

Di propinsi Jawa Timur saat ini tercatat ± 1.216 PKBM yang tersebar di 38 Kabupaten/Kota dengan asumsi bahwa tiap Kabupaten/Kota terdapat  32 PKBM. Data di Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang tercatat 52 PKBM yang tersebar di 21 kecamatan.  Namun demikian, perjalanan PKBM sampai saat ini masih belum mampu menunjukkan hasil seperti apa yang diharapkan. Berbagai kendala dan permasalahan yang dihadapi dalam aspek pengelolaannya.  PKBM padahal sebagai suatu organisasi, efektifitas manajerial adalah merupakan faktor kunci yang menentukan keberhasilan PKBM dalam melayani kebutuhan belajar masyarakat. Dari penglihatan secara kasat mata selama ini, PKBM yang ada  sebagaian besar belum menunjukkan efektifitas program yang baik, baik dilihat dari aspek program kerja, proses pembelajaran, hasil yang dicapai maupun dari aspek prestasi.

Fenomena terkait dengan keberadaan PKBM, setidak-tidaknya kalau kita amati ada tiga;  1) terdapat PKBM yang demikian progresif dalam mengembangkan dan menjalankan program kerja, namun pada sisi lain lebih banyak PKBM yang daya hidupnya kembang kempis, 2)  terdapat PKBM “papan nama” di mana ada tercatat (terdaftar) nama sebuah PKBM  pada Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, namun PKBM tersebut tidak tampak adanya aktivitas pembelajaran., dan 3) terdapat PKBM yang daya hidupnya “hanya” bergantung pada ada atau tidaknya stimulan dana dari pemerintah. Apabila suatu waktu ada dana stimulan dari pemerintah, maka PKBM tersebut menjalankan aktivitas pembelajaran, namun bila dana dari pemerintah tidak ada, maka tidak mengadakan kegiatan sama sekali.

Terlepas dari hal diatas, maka dengan karakteristik sebagai wahana, wadah, pusat, sekaligus sebagai agen layanan pembelajaran dan pendidikan, semestinya PKBM dapat berkembang dan berakar kuat pada kebutuhan belajar masyarakat. Dengan berbagai problema sosial seperti kebuta-aksaraan, pengangguran, kemiskinan, ketidakterampilan (unskilled), kebodohan, dan sebagainya; semetinya kebutuhan belajar masyarakat muncul begitu banyak. Munculnya berbagai kebutuhan belajar masyarakat itu semestinya bisa menjadi salah satu sumber daya bagi keberlangsungan  hidup PKBM. Lebih-lebih jika PKBM mampu menjalin kerjasama dengan berbagai mitra terkait, baik sebagai penyandang dana, pemetik manfaat, maupun sebagai rekan dalam melayani pemenuhan kebutuhan-kebutuhan belajar tersebut.

Kehadiran PKBM “Pandu” di tengah-tengah masyarakat berawal dari ide gagasan/pemikiran dari warga masyarakat desa Menturus Kecamatan Kudu Kabupaten Jombang yang ingin mendirikan dan menghadirkan suatu wadah/organisasi pembelajaran yang dapat dijadikan sebagai sarana dan sekaligus sentral pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Tepatnya tanggal 19 Mei 2006 melalui rembug desa lahirlah PKBM dengan nama “PANDU”. Dipilihnya “Pandu” sebagai nama PKBM dengan harapan bahwa lembaga ini dapat memandu dan mengarahkan warga masyarakat menuju masyarakat yang berdaya, baik berdaya secara ekonomi maupun sosialnya.

Download selengkapnya disini

  PENINGKATAN MUTU LAYANAN PKBM MELALUI PROGRAM KEWIRAUSAHAAN BERBASIS KEMITRAAN (68.0 KiB, 99 hits)

Oleh :

UntitledFithrotul Laily Farida Mahfudhoh, lahir di Jombang pada tanggal 7 Maret 1972. Anak pertama dari tujuh bersaudara dari suami-istri Nahrul Fauzie dan Masruroh. Menempuh dan menyelesaikan sekolah dasar di SDN Megaluh (1985), sekolah menengah tingkat pertama di MTsN Mambaul Ma’arif Denanyar (1988), dan  sekolah menengah tingkat atas di MAN Mambaul Ma’arif Denanyar (1991). Karena kesibuk gelar pendidikan tingginya baru bisa diraih pada tahun 2010 di Undar Jombang.
Merintis usaha pemberdayaan masyarakat melalui bendera PKBM “Pandu” Menturus Kudu Jombang dimulai pada tahun 2006. Dalam menjalani hidup, terutama dalam belajar dan bekerja senantiasa berusaha mengutamakan sinergi dan bekerjasama secara tepat waktu dan tepat sasaran. Baginya prestasi hanya bisa diraih melalui kerjasama tim yang kompak dan bantuan orang/pihak lain.
Menikah pada 19 Maret 2000 dengan alumnus program sarjana FKIP Undar Jombang, Moh. Sholihan. Semenjak menikah hingga sekarang, ia tetap setia mendampingi suami tercinta hidup dengan pengabdiannya di desa Menturus Kecamatan Kudu Kabupaten Jombang dan telah dikarunia dua orang anak, Idrokul Mukasyafah (usia11 tahun) dan Moh. Ahsanul Istimror (8 tahun).


Loading...

Leave a Comment