Peran Pendidikan Luar Sekolah dalam Memberdayaan Masyarakat Miskin dan Tertinggal

Peran Pendidikan Luar Sekolah

dalam Memberdayaan Masyarakat Miskin dan Tertinggal  

Dwiputri Nirmala

Jurusan Pendidikan Luar Sekolah

Universitas Negeri Malang

 

Abstrak

Pembungunan yang top down mempunyai impliksi terjadinya kesenjangan sosial dimasyarakat yaitu terciptanya komunitas miskin dan tertinggal. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan program pemberdayaan.Pemberdayakan masyarakat miskin dan tertinggal adalah upaya untuk melepaskan masyarakat dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Esensi dari pemberdayaan ini diharapkan membawa masyarakat miskin semakin mampu memenuhi kebutuhan dasar hidupnya, lebih berdaya menolong dirinya sendiri, semakin berperan dalam memperkuat kohesi sosial dalam tatanan masyarakat yang lebih baik, dan semakin berdaya saing dalam tatanan masyarakat ekonomi yang lebih maju.Pendidikan luar sekolah mempunyai peranan atau andil dalam memberdayakan masyarakat miskin dan tertinggal dalam program-progmnya yaitu pendampingan sosial dalam kegiatan pemberdayaan.Adalimastrategi yang dilkukan oleh tenaga pendidikan luar sekolah dalam kegiatan pendampingan masyarakat miskin dan tertinggal yaitu pemungkinan, penguatan, perlindungan, penyokongan dan pemeliharaan. Strategi tersebut dinilai telah memberikan kontribusi yang cukup berarti bagi kaum miskin dan tertinggal untuk mandiri dan meningkatkan kulitas hidupnya.

                              Kata Kunci : Memberdayakan Masyarakat Miskin dan Tertinggal

Pengembangan masyarakat secara substansi berarti proses memajukan, mengembangkan, dan memperbesar kemampuan masyarakat. Dalam kaitan ini, masyarakat yang ada bukan saja diarahkan pada kemajuan fisik (materi) namun juga pada kemajuan nilai non materi. BangsaIndonesiamenyadari bahwa kualitas sumber daya manusianya masih rendah, dan tentunya bangsa ini masih  punya satu sikap yakni optimisme untuk dapat mengangkat sumber daya manusia tersebut melalui suatu program pemberdayaan masyarakat.

Mengembangkan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat yang dalam kondisi sekarang tidak mampu untuk melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Dengan kata lain memberdayakan adalah memampukan dan memandirikan masyarakat. Meskipun pemberdayaan masyarakat bukan semata-mata sebuah konsep ekonomi, tapi dari sudut pandang pemberdayaan masyarakat secara implisit mengandung arti mengembangkan masyarakat dari berbagai lini kehidupan. Namun agaknya lebih populer bahwa mengembangkan masyarakat identik dengan mengembangkan dari sudut pandang ekonomi, dalam kaitannya dengan pembangunan bahwa ekonomi merupakan penunjang dari berbagai keberhasilan pembangunan. Indikator suatu masyarakat maju juga dilihat dari tingkat kesejahteraan hidup dalam hal ini ekonomi.

Melihat pembangunan yang terjadi bahwa proses pengembangan masyarakat kerapkali dilakukan dari atas ke bawah (top-down). Masyarakat sering kali diikutkan tanpa diberikan pilihan dan kesempatan untuk memberi masukan. Hal ini biasanya disebabkan adanya anggapan bahwa untuk mencapai efisiensi dalam pengembangan, masyarakat tidak mempunyai kemampuan untuk menganalisis kondisi dan merumuskan persoalan serta kebutuhannya. Dalam visi ini masyarakat ditempatkan pada posisi yang membutuhkan bantuan dari luar. Program yang dilakukan dengan pendekatan dari atas ke bawah sering tidak berhasil dan kurang memberi manfaat kepada masyarakat.

Bantuan yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat justru menciptakan ketergantungan yang pada gilirannya akan lebih menyusahkan masyarakat dari pada menolongnya. Bantuan tersebut kadang-kadang tidak sesuai kebutuhan dan prioritas masyarakat. Implikasi dari pembangunan yang top down ini, masyarakat mengalami kesenjangan sosial, bahkan ketidak mandirian masyarakat dalam meningkatkan kualitas hidupnya, hingga terjadi kemiskinan.

Menurut Friedman dalam Suharto, dkk.,(2004:6), kemiskinan adalah ketidaksamaan kesempatan untuk mengakumulasikan basis kekuasaan sosial. Basis kekuasaan sosial meliputi: (a) modal produktif atau aset (tanah, perumahan, alat produksi, kesehatan), (b) sumber keuangan (pekerjaan, kredit), (c) organisasi sosial dan politik yang dapat digunakan untuk mencapai kepentingan bersama (koperasi, partai politik, organisasi sosial), (d) jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan, barang, dan jasa, (e) pengetahuan dan keterampilan, dan (f) informasi yang berguna untuk kemajuan hidup.

Kemiskinan yang terjadi di tengah masyarakat disebabkan oleh berbagai faktor yang rumit dan saling terkait erat satu dengan yang lainnya. Kondisi tersebut sering dikatakan sebagai suatu pola lingkaran setan yang sangat sulit untuk dipecahkan. Pola tersebut berlangsung secara terus menerus dan bahkan cenderung menimbulkan dampak yang semakin buruk.

Rendahnya tingkat kualitas hidup akibat minimnya fasilitas dasar, buruknya mutu sumber daya manusia, etos kerja yang lemah dan sulit berkembang, terbatasnya kemampuan mencari pekerjaan yang layak, rendahnya kemampuan menabung, sulitnya mengakses sumber-sumber permodalan, adalah beberapa permasalahan yang dihadapi oleh kelompok masyarakat miskin dan tertinggal. Oleh karena itu masyarakat miskin perlu diberdayakan untuk lepas dan kondisi kemiskinan dan ketertinggalan, Hal ini bisa dilakukan melalui program pemberdayaan yang dilakukan oleh tenaga sosial atau fasilitator.

Pendidikan Luar Sekolah memiliki peranan yang sangat penting dalam mempengaruhi perubahan suatu masyarakat. Peran dan fungsi Pendidikan Luar Sekolah dapat diwujudkan dalam bentuk membangun gerakan pembelajaran atau pemberdayaan masyarakat untuk mendorong segera terciptanya transformasi sosial agar terciptanya keseimbangan pembangunan, sehingga masalah yang dihadapi oleh masyrakat miskin dan tertinggal bisa teratasi. Pemberdayaan masyarakat ini merupakan salah satu program Pendidikan Luar Sekolah dalam rangka menolong dan memberdayakan masyarakat miskin dan tertinggal untuk lepas dari permasalahan yang dihadapi. Dalam tulisan ini akan memaparkan peran Pendidikan Luar Sekolah dalam memberdayakan masyarakat miskin dan tertinggal.

Konsep Pemberdayaan Masyarakat

                      Menurut Moedzakir (2008:33), pemberdayaan masyarakat adalah sebuah konsep yang dulu dikenal dengan istilah pengembangan masyarakat (community development) atau pembangunan masyarakat (rural development). Secara konseptual, program ini sejalan dengan tipe program developmental   yang sasarannya adalah komunitas. Inti kegiatannya adalah pemberian bantuan pemecahan masalah. Target keluarannya adalah meningkatnya kemampuan masyarakat dalam mengatasi permasalahan kehidupannya.

Memberdayakan masyarakat merupakan upaya untuk melepaskan masyarakat dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan.. Menurut Taufik (2008:21), pembangunan esensinya adalah pemberdayaan (enabling, strengthening, protecting) yang diharapkan membawa manusia atau masyarakat miskin semakin mampu memenuhi kebutuhan dasar hidupnya, lebih berdaya menolong dirinya sendiri, semakin berperan dalam memperkuat kohesi sosial dalam tatanan masyarakat yang lebih baik, dan semakin berdaya saing dalam tatanan masyarakat ekonomi yang lebih maju.

Beragam konsep pemberdayaan menjelaskan bahwa inti dari pemberdayaan adalah sebuah proses dan tujuan. Sebagai proses, pemberdayaan adalah serangkaian kegiatan untuk memperkuat kekuasaan atau keberdayaan kelompok lemah dalam masyarakat, termasuk individu-individu yang mengalami masalah kemiskinan. Sebagai tujuan, maka pemberdayaan menunjuk pada keadaan atau hasil yang ingin dicapai oleh sebuah perubahan sosial yaitu masyarakat miskin yang berdaya, memiliki kekuasaan atau mempunyai pengetahuan dan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik yang bersifat fisik, ekonomi, maupun sosial seperti memiliki kepercayaan diri, mampu menyampaikan aspirasi, mempunyai mata pencaharian, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, dan mandiri dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya.

Untuk mengatasi kemiskinan dan ketertinggalan salah satu pendekatan yang kini sering digunkan dalam meningkatkan kualitas kehidupan dan mengangkat harkat martabat keluarga miskin adalah pemberdayaan masyarakat. Konsep ini menjadi sangat penting terutama karena memberikan perspektif positif terhadap orang miskin. Orang miskin tidak dipandang sebagai orang yang serba kekurangan (misalnya, kurang makan, kurang pendapatan, kurang sehat, kurang dinamis) dan objek pasif penerima pelayanan belaka, melainkan sebagai orang yang memiliki beragam kemampuan yang dapat dimobilisasi untuk perbaikan hidupnya. Konsep pemberdayaan memberi kerangka acuan mengenai mantra kekuasaan (power) dan kemampuan (kapabilitas) yang melingkup arus sosial, ekonomi, budaya, politik dan kelembagaan.

Peran Pendidikan Luar Sekolah dalam Memberdayakan Masyarakat Miskin dan Tertinggal

                      Pendidikan luar sekolah pada dasarnya adalah segala kegiatan pendidikan yang berlangsung diluar sistem persekolahan. Pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam sistem persekolahan atau jalur sekolah, melainkan juga di jalur luar sekolah seperti keluarga, ditengah pergaulan dan di tempat kerja. Pendidikan selain terjadi atas bantuan orang lain bisa juga terjadi sepanjang hayatnya. Pendidikan luar sekolah adalah pendidikan yang mempunyai program-program dalam rangka mengembangkan potensi yang ada pada masyarakat. Sasaran dari program pendidikan luar sekolah salah satunya adalah kaum miskin dan tertinggal.

                      Menurut Sanapiah (2007:8), program pendidikan luar sekolah bila disimak aneka ragam programnya, akan tampak tertuju kearah dua muara, yaitu untuk pembelajaran kaum tertinggal sehingga terbebas dari ketidaktahuan dan untuk pembelajaran kaum tersingkir (kaum miskin) sehingga terbebas dari kemiskinan (ketertinggalan). Dalam realitas sosial, terdapat sejumlah orang atau komunitas yang secara relatif tergolong miskin dan tertinggal. Komunitas tersebut secara absolut atau relatif adalah kelompok sasaran dari program PLS. Ketertinggalan komunitas ini bisa jadi karena tingkat pengetahuan yang rendah, keterampilan yang tidak ada, atau sistem nilai dan sikap serta perilakunya.

                      Adanya komunitas atau masyarakat yang masih tergolong miskin dan tertinggal merupakan tugas seluruh jajaran pendidikan luar sekolah yang mana perannya adalah membebaskan komunitas miskin dan tertinggal. Untuk membebaskan masyarakat miskin dan tertinggal ini dapat dilakukan pendampingan pada kegiatan program pemberdayaan masyarakat. Peran pendidikan luar sekolah sebagai pendamping sosial dalam kegiatan pemberdayaan ini dapat dilakukan melalui kegiatan penting sebagai berikut.

  1. Motivasi, mendorong pelaku rumah tangga miskin untuk membentuk kelompok yang merupakan mekanisme kelembagaan penting untuk mengorganisir dan melaksanakan kegiatan pengembangan masyarakat di desa atau kelurahannya. Kelompok ini kemudian dimotivasi untuk terlibat dalam kegiatan peningkatan pendapatan dengan menggunakan sumber dan kemampuan mereka sendiri.
  2. Peningkatan kesadaran dan pelatihan kemampuan. Peningkatan kesadaran masyarakat dapat dicapai melalui pendidikan dasar dan keterampilan vokasional. Pelatihan kemampuan keterampilan vokasional dapat membantu masyarakat miskin untuk menciptakan matapencaharian sendiri atau membantu meningkatkan keahlian mereka untuk mencari pekerjaan di luar wilayahnya.
  3. Manajemen diri yaitu mengarahkan kelompok untuk memilih pemimpin mereka sendiri dan mengatur kegiatan yang dilaksanakan. Pada tahap awal, pendamping dapat membantu masyarakat dalam mengembangkan sebuah sistem. Kelompok kemudian dapat diberi wewenang penuh untuk melaksanakan dan mengatur sistem tersebut.
  4. Pembangunan dan pengembangan jaringan. Mengorganisasi kelompok swadaya masyarakat yang disertai dengan peningkatan kemampuan para anggotanya, membangun dan mempertahankan jaringan dengan berbagai sistem sosial di sekitarnya. Jaringan ini sangat penting dalam menyediakan dan mengembangkan berbagai akses terhadap sumber dan kesempatan bagi peningkatan keberdayaan masyarakat miskin.

Untuk mencapai aspek kegiatan pemberdayaan tersebut tenaga pendidikan luar sekolah dapat melalakukan beberapa starategi agar program tersebut benar-benar tercapai. Menurut Suharto (1997:218-219) dalam kaitannya dengan masyarakat miskin, aspek kegiatan pemberdayaan tersebut dapat dilakukan melalui limastrategi pemberdayaan sebagai berikut. Pertama, Pemungkinan yaitu menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat miskin berkembang secara optimal. Pemberdayaan harus mampu membebaskan masyarakat miskin dari sekat-sekat kultural dan struktural yang menghambat. Kedua, Penguatan yaitu memperkuat pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki masyarakat miskin dalam memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Pemberdayaan harus mampu menumbuhkembangkan segenap kemampuan dan kepercayaan diri masyarakat miskin yang menunjang kemandirian mereka. Ketiga, Perlindungan yaitu melindungi masyarakat terutama kelompok-kelompok lemah agar tidak tertindas oleh kelompok kuat, menghindari terjadinya persaingan yang tidak seimbang (apalagi tidak sehat) antara yang kuat dan lemah, dan mencegah terjadinya eksploitasi kelompok kuat terhadap kelompok lemah. Pemberdayaan harus diarahkan pada penghapusan segala jenis diskriminasi dan dominasi yang tidak menguntungkan rakyat kecil. Keempat, Penyokongan yaitu memberikan bimbingan dan dukungan agar masyarakat miskin mampu menjalankan peranan dan tugas-tugas kehidupannya. Pemberdayaan harus mampu menyokong masyarakat miskin agar tidak terjatuh ke dalam keadaan dan posisi yang semakin lemah dan terpinggirkan. Kelima, Pemeliharaan yaitu memelihara kondisi yang kondusif agar tetap terjadi keseimbangan distribusi kekuasaan antara berbagai kelompok dalam masyarakat. Pemberdayaan harus mampu menjamin keselarasan dan keseimbangan yang memungkinkan setiap orang memperoleh kesempatan berusaha.

Inisiatif dan keterlibatan serta peran pendidikan luar sekolah adalah merupakan upaya untuk memecah lingkaran setan kemiskinan dan ketertinggalan serta sekaligus mendorong kemampuan agar secara mandiri masyarakat mampu meningkatkan taraf ekonomi dan kualitas hidupnya. Komitmen dan semangat tenaga pendidikan luar sekolah tersebut diimplementasikan melalui berbagai program pengembangan masyarakat (community development) yang bertujuan untuk mendorong masyarakat agar lebih mandiri dalam meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidupnya. Indikator dari keberhasilan pemberdayaan yang dilakukan oleh tenaga pendidikan luar sekolah adalah terbebaskannya kaum miskin dan tertinggal dari kemiskinan dan ketertinggalan.

Simpulan

Pembangunann yang tidak berpihak kepada masyarakat meyebabkan terjadinya kesenjangan sosial yang pada gilirannya menciptakan suatu komunitas miskin dan tertinggal. Untuk membebaskan masyarakat miskin dan tertinggal ini diperlukan pendampingan sosial dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Oleh sebab itu diperlukan tenaga sosial (social worker) untuk membebaskan komunitas miskin dan tertinggal tersebut

Pendidikan luar sekolah mempunyai peranan dalam membebaskan kaum miskin dan tertinggal melalui program-programnya. Salah satu programnya adalah pemberdayaan masyarakat. Program pemberdayaan ini mengisyaratkan kepada masyarakat  untuk meningkatkan kesejahtreannya dan meningkatkan kualitas hidupnya,

Saran

Menyadari perannya sebagai social worker, diharapkan tenaga pendidikan luar sekolah mempunyai inisiatif untuk terlibat dalam program pemberdayaan masyarakat. Program pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan oleh tenaga pendidikan luar sekolah merupakan program yang diharapkan mampu mebidik sasaran dengan tepat, agar komunitas miskin dan tertinggal bisa mandiri dan mempunyai kualitas hidup yang lebih baik.

 

Daftar Rujukan

 

Moedzakir, Dzauji. 2008. Metode Pembelajaran Untuk Pendidikan Luar Sekolah.Malang : UM Press

Sanapiah, Faisal. 2007. Pendidikan Luar Sekolah Menjawab Tugas Mulia Mengisi Pembangunan.Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal.

Suharto, Edi. 1997. Pembangunan, Kebijakan Sosial dan Pekerjaan Sosial: Spektrum Pemikiran.Bandung : Lembaga Studi Pembangunan-STKS

Suharto, Edi. 2004. Kemiskinan dan Keberfungsian Sosial: Studi Kasus Rumah Tangga Miskin di Indonesia.Bandung : STKSPpress.

Taufik, Tatang A. 2008. 102 Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta : Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)


Loading...

Leave a Comment