Peran Polwiltabes Dalam Penanganan Kenakalan Remaja Yang Meresahkan Masyarakat Di Kota Besar

0
Dibaca 4.484

Peran Polwiltabes Dalam Penanganan Kenakalan Remaja Yang Meresahkan Masyarakat Di Kota-Kota Besar

Oleh

Ricca Rahmawati

PLS-UM

Remaja merupakan masa peralihan antara anak-anak dan dewasa, pada masa ini ada juga keraguan terhadap peran yang akan dilakukan. Remaja bukan lagi seorang anak dan juga bukan orang dewasa. Remaja mulai mencoba-coba bertindak dan berperilaku seperti orang dewasa, misalnya merokok, minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan, dan terlibat dalam perbuatan seks. Tindakan ini tidak sesuai dengan norma atau aturan yang berlaku di masyarakat. Apabila tidak dikendalikan dapat menjurus kepada tindak kejahatan. Sebagai contoh: remaja dari keluarga tidak mampu kecanduan obat-obatan terlarang, orang tuanya tidak bias memberikan uang sebagai alat untuk pemuas kebutuhan sehingga tidak ada jalan lain kecuali mencuri uang temannya. Pencurian ini tergolong kejahatan yang dilakukan oleh remaja atau yang lebih dikenal sebagai kenakalan remaja (juvenile delinquency).

Minddendorff mengemukakan pendapatnya pada salah satu karangan Kartini Kartono menyatakan,

”Ada kenaikan jumlah juvenile delinquency (kejahatan anak remaja) dalam kualitas, dan peningkatan dalam kegarangan serta kebengisannya yang lebih banyak dilakukan dalam aksi-aksi kelompok daripada tindak kejahatan individual. Fakta kemudian menunjukkan bahwa semua tipe kejahatan remaja itu semakin bertambah jumlahnya dengan semakin lajunya perkembangan industrialisasi dan urbanisasi. Di kota-kota industri dan kota besar yang cepat berkembang secara fisik, terjadi kasus kejahatan yang jauh lebih banyak daripada dalam masyarakat primitif atau di desa-desa. Di Indonesia masalah kenakalan remaja telah mencapai tingkat yang cukup meresahkan masyarakat.”

Pengaruh sosial dan kultural memainkan peranan yang besar dalam pembentukan atau pengkondisian tingkah laku kriminal anak-anak remaja. Perilaku anak-anak ini menunjukkan tanda-tanda kurang atau tidak adanya korfomitas terhadap norma-norma sosial, mayoritas juvenile delinquency berusia di bawah 21 tahun. Anak tertinggi tindak kejahatan ada pada usia 15-19 tahun dan sesudah umur 22 tahun, kasus kejahatan yang dilakukan oleh delinkuen menjadi menurun. Kejahatan seksual banyak dilakukan oleh anak-anak usia remaja sampai dengan umur menjelang dewasa, dan kemudian pada usia pertengahan. Tindak merampok, menyamun dan membegal, 70% dilakukan oleh orang-orang muda berusia 17-30 tahun. Selanjutnya, mayoritas anak-anak muda yang terpidana dan dihukum disebabkan oleh nafsu serakah untuk memiliki, sehingga mereka banyak melakukan perbuatan mencopet, menjambret, menipu, merampok, menggarong, dan lain-lain. Dalam catatan kepolisian pada umumnya jumlah anak laki-laki yang melakukan kejahatan dalam kelompok geng-geng diperkirakan 50 kali lipat daripada geng anak perempuan, sebab anak perempuan pada umumnya lebih banyak jatuh ke limbah pelacuran, promiskuitas (bergaul bebas dan seks bebas dengan banyak pria) dan menderita gangguan mental, serta perbuatan minggat dari rumah.

Kenakalan remaja dapat didefinisikan sebagai suatu perbuatan yang melanggar norma, aturan atau hukum dalam masyarakat yang dilakukan pada usia remaja atau masa transisi antara anak-anak dan dewasa. Dengan kata lain, kenakalan remaja merupakan tindakan oleh seseorang yang belum dewasa yang sengaja melanggar peraturan masyarakat maupun hukum yang ditetapkan pemerintah. Perbuatan remaja mencopet, menjambret, menipu, menggarong merupakan perbuatan yang tidak bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya, karena dapat dikategorikan sebagai perbuatan yang melanggar hukum. Kenakalan remaja perlu diatasi dengan segera, berbagai pihak ikut bertanggung jawab mengenai masalah ini, seperti kelompok edukatif di lingkungan sekolah, pemerintah, hakim dan jaksa di bidang penyuluhan dan penegakan hukum, kepolisian, masyarakat serta peranan keluarga. Kepolisian dengan tugas memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, dan memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat diharapkan andilnya dalam mengatasi kenakalan remaja. Polwiltabes sebagai lembaga institusi POLRI (Kepolisian Republik Indonesia) di kewilayahan Kota besar ikut bertanggung jawab dalam penanganan kenakalan remaja sebab kasus-kasus kenakalan remaja sudah semakin merebak, hal ini dapat dilihat dari keterlibatan remaja dalam masalah narkotik dan obat-obatan terlarang, tawuran antar pelajar, dan sebagainya.

Kasus kenakalan remaja di kota-kota besar semakin merebak. Hal ini ditandai dengan peningkatan jumlah kasus tawuran antar pelajar serta semakin maraknya penggunaan narkoba dari kalangan remaja. Hampir seluruh kota-kota besar di Indonesia yang dinilai mengalami perkembangan yang pesat dalam pembangunan menjadi kota yang dipadati oleh pennduduk. Dan tempat-tempat hiburan pun ikut dibangun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terutama para remaja yang haus akan hiburan. Diskotik, cafe menjadi ajang bagi para remaja untuk berkumpul bersama teman-temannya. Tempat-tempat seperti ini rawan terhadap peredaran narkoba sebab remaja yang ingin melepaskan pikiran yang frustasi bisa menggunakan narkoba supaya “fly” dan melupakan masalah yang dihadapi dalam waktu sejenak. Tawuran antar pelajar juga merupakan kasus yang mendapat perhatian khusus, khususnya tawuran antar siswa SMU yang sering terjadi di kota besar. Ironisnya para pelajar tersebut hanya ikut-ikutan teman tanpa tahu pasti penyebab mereka tawuran.
NB. Copas atau baca silahkan isi coments di bawah ini.

Tinggalkan Balasan