Perlu Reformulasi Kurikulum PLS

43
Dibaca 17.506

Postingan ini berkaitan dengan postingan sebelumnya yang berjudul Mahasiswa Unnes Temui Dirjen PNFI (mencapai 70 koentar saat ini ) meski agak telat gak lama amatkok telatnya tapi paling tidak kita semua bisa tambah sedikit informasi

UNGARAN – Dirjen Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) pada Kemendiknas  
meminta perguruan tinggi (PT) yang memiliki jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) untuk tidak mengganti nama jurusan tersebut.

™™Nama jurusan PLS tidak usah diubah, namun harus jelas kompetensinya, sehingga lulusannya jelas mau jadi apa. PT tinggal menyinkronkan antara terori dan program-program pemerintah di bidang PNFI,™™ tegas Hamid di sela-sela workshop PNFI dan Temu Kolegial Jurusan PLS se-Indonesia, di Kompleks P2PNFI Reg II Semarang Jl Diponegoro 25 Ungaran, pekan lalu.

Pernyataan itu sekaligus menjawab keresahan mahasiswa jurusan PLS yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa PLS se-Indonesia (Imadiklus). Sebagaimana diketahui, Imadiklus menyampaikan ™™gugatan™™ dalam bentuk rekomendasi kepada para dosen dan kepala jurusan PLS pada PT se-Indonesia. Isinya antara lain memohon kejelasan kompetensi dan profesi lulusan jurusan PLS.

Pengurus Imadiklus, kata Hamid, telah menemui dirinya beberapa waktu lalu. Dalam pertemuan itu Imadiklus menggugat jurusannya. ™™Hampir semuanya memprotes. Kata mereka, kami mau di bawa ke mana? Apa kompetensi kami? Pemerintah mau memfasilitasi apa?™™
Tidak Kenal Para mahasiswa itu, menurut dia, mengaku tidak pernah kenal dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan program-program PNFI lainnya. Bahkan, mereka ingin dilatih bersama pamong belajar dan tutor-tutor PNF.

Tujuannya agar lulusan PLS jelas mau jadi apa. Misalnya, wirausahawan, PNS, atau pamong belajar. Jadi, perlu direformulasi kurikulum PLS agar sesuai dengan yang berkembang di masyarakat,™™ tandasnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal (P2PNFI) Reg 2 Semarang Dr Ade Kusmiadi MPd menyatakan, workshop merumuskan hal-hal strategis untuk memperjelas arah pendidikan profesi di bidang PNF. Di samping itu, juga memperjelas mitra kerja dengan pemerintah pusat, pemprov, pemkab, dan dunia usaha.

™™Sudah dibentuk forum yang merumuskan PNF di PT. Forum itu membahas pengembangan kurikulum berbasis dan berorientasi pemecahan masalah dan kebutuhan masyarakat. Mengembangkan lab site PLS/PNF yang berstandar sebagai rujukan,™™ ungkapnnya

Sumber http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/07/12/116420/Perlu-Reformulasi-Kurikulum-PLS-

43 KOMENTAR

  1. Betul mas..Sekadar informasi juga..Insya alloh untuk pertemuan kolega selanjutnya di malang (isu yang di dapat) sepertinya kita harus membuat petisi untuk mempercepat perumusan tersebut..Petisi ini nanti semoga bisa di tanda tangani seluruh mahasiswa pls se nasional..

  2. Betul mas..Sekadar informasi juga..Insya alloh untuk pertemuan kolega selanjutnya di malang (isu yang di dapat) sepertinya kita harus membuat petisi untuk mempercepat perumusan tersebut..Petisi ini nanti semoga bisa di tanda tangani seluruh mahasiswa pls se nasional..

  3. mase kalo acara dimalang kira2 setelah lebaran ya ?, nanti saya tak nyoba 'ngerayu' bbrp dosen PLS utk beri masukan petisi, sekalian tahu petisnya utk ganjel cangkem…xi xi xi…

  4. mase kalo acara dimalang kira2 setelah lebaran ya ?, nanti saya tak nyoba 'ngerayu' bbrp dosen PLS utk beri masukan petisi, sekalian tahu petisnya utk ganjel cangkem…xi xi xi…

  5. ganti pejabat2 PLS yg bukan dari lulusanPLS. Itu hak kita , mereka yg membuat ketidak jelasan program2 PLS, Karena mereka belum tentu memahami prinsip2 PLS

  6. hebatnya mahasiswa PLS adalah mereka merasa tidak mampu padahal mereka mampu, buktinya sampai saat ini masih saja banyak tuntutan perubahan kurikulum yang sebenarnya jika dipelajari dengan sungguh2, kemamuan mereka sudah di atas rata2. kita orang pendidikan non formal tapi seperti tidak pernah paham apa esensi dari pendidikan non formal itu sendiri, mengatas namakan bagian dari pendidikan non formal tapi masih terbelenggu oleh otoritas pendidikan formal. banyak orang2 diluar sana yang berhasil bukan karena kurikulum prodinya yang baik, tapi kemauan mahasiswanya untuk menggali ilmu di wilayah non formal. seandainyapun teman2 disini membayangkan seberapa banyak kuantitas perkuliahan persemester untuk mata kuliah tertentu, tentulah tidak akan cukup, meskipun tuntutan teman2 sudah dipenuhi oleh prodi PLS dimanapun, dan sampai kapanpun harapan akan kualitas kompetensi dengan segala kejelasannya tidak akan pernah tercapai.saya pribadi lebih menghargai jika ada mahasiswa yang mau terjun langsung ke masyarakat, berproses dari awal, menunjukkan eksistensi dirinya sebagai pejuang PNF sejati yang tidak terbelenggu oleh otoritas formal… sebagai orang yang katanya komunitas PNF harusnya tahu apa sih tujuan pendidikan??? tujuannya adalah ibadah, jika kemudian Allah memberikan bonus karena ibadah kita, itu adalah otoritas-Nya… maka berusahalah beribadah dengan ikhlas.

  7. Aamiin pak..Tapi dalam wilayah praksis pada akhirnya kami terbentur oleh banyaknya beban untuk menjadi yang "banyak"..Seandainya kami boleh mempraktekkan mata kuliah monitoring dan evaluasi program di prodi pls..Maka kami harus mengevaluasi dari raw input, input, proses, output, atau impact??

  8. Apabila dievaluasi dari input, maka banyak sekali kasus tentang input yang "kecebur"..Alasannya:1.yang penting kuliah (terutama univ negeri)2.apapun gelar sarjananya kalau kerja itu bisa apa saja..3.penasaranKalau misalnya sudah jelas apa kompetensinya, maka permasalahan itu kemungkinan besar tidak ada.Alasannya:orang yg memilih pls akan "siap" dengan profesi yang akan dia geluti..karena dia sudah dapat mempertimbangkan baik dan buruknya..

  9. jika mau di evaluasi ya di evaluasi semuanya, jangan hanya salah satu dari "instrumental inputnya" saja seperti yang dilakukan saat ini (kurikulum). evaluasi akan menjadi pincang ketika kita hanya mengevaluasi salah satu bagiannya saja, karena komponen pendidikan ya seperti yang anda sebutkan di atas (environmental input, instrumental input, raw input, proses, output, outcome). belum tentu juga akar masalahnya adalah instrumental input, bisa jadi komponen yang lain. sebagai contoh masalah yg terjadi dalam proses pembelajaran tentu akan berpengaruh pada output dan outcomenya, kemudian apakah ini menjadi masalah intrumental yang lain (kurikulum, biaya, sarana prasarana, dll) kan belum tentu juga.saya tidak paham dengan istilah menjadi yang "banyak" di sini maksudnya apa?

  10. Bila di evaluasi dari proses..Maka banyak keluhan tentang beban teori yang begitu banyak..Dapat dimaklumi, karena kita bisa menjadi "banyak" profesi..Kemungkinan untuk terjun langsung ke masyarakat pun menjadi bingung karena beban teori tersebut yang menghasilkan tugas2 serta pendalaman yang lama..

  11. ketika kita berbicara tentang kompetensi, maka kita juga terjebak dengan apa yang selama ini sering kita "protes" mati2an, pendidikan yang selalu mengadopsi dari pemikiran barat…. apa menurut kamu Ji?

  12. Banyak itu profesi lulusannya pak..Sebenarnya hanya butuh satu kata kunci..Apa profesi dari lulusan prodi pendidikan luar sekolah??Satu kata itu sudah terjawab maka output tidak akan dipertanyakan..Karena, kalau mengevaluasi output..Ingin sekali rasanya melihat data lulusan prodi pls dengan profesi'y..

  13. saya kembalikan lagi dengan kompetensi… sebuah kompetensi itu adalah kumpulan dari berbagai macam keahlian yang pada muaranya menjadi satu kompetensi? mau kompetensi yang mana? untuk menjadi pamong belajar saja kompetensinya tidak sesederhana melihat profesi pamong belajar, banyak kompetensi dasar yang harus dikuasai, dimana dipelajarinya??? ya dari mata kuliah itu? kenapa harus banyak? karena syarat akademik lulusan sarjana adalah 144 sks.. dan penentuan mata kuliah juga tidak asal jadi sesuai dengan keahlian dosen yang mengajar, tapi disusun beradasarkan rumpun kompetensi untuk menunjang muara kompetensi yang dimaksud..

  14. Wuih pak..buka dari hape..jadi rada g nyambung nih..heSkarang sy coba jawab yang protes dulu yah pak..Kalau memang soal pendidikan yang tidak harus melulu berorientasi kepada dunia kerja layaknya pemikiran kapitalis saya sepakat pak..Tapi harus dipikirkan juga..bahwa piramida kan belum terbalik..pada akhirnya orang yang menjadi pekerja sangatlah banyak..Namun sedikit saya bedakan..Sy menginginkan bahwa orang-orang yang memilih menjadi pekerja itu dgn sadar memilihnya..bukan karena tidak tahu..

  15. Untuk yang kompetensi saya coba berdasarkan pengalaman yah pak..Kami diajarkan mata2 kuliah yang cenderung ke arah pemberdayaan masyarakat, namun satu titik kami diharuskan menjadi disainer program..tapi kami ppl mengajar..Maksud dr beban it bknlah dr sks pak..tp yang sperti di atas, ketika kami sudah asyik dengan patologi sosial dan pemberdayaan sosial,, tiba2 harus berhadapn dengan disain program dan sap..dan dlanjutkan dengan mengajar(apa saja)..bagaimana kami mau konsen ke satu profesi?

  16. saya jawab: jika sampai lulus tetap tidak tahu itu keterlaluan namanya Ji, kurang gaul ma komunitasnya… dan dipertanyakan juga pas kuliah ngapain?? pusing mode:on…dalam bidang pendidikan terutama, kesadaran dan dorongan hati itu yang paling utama, karena mendidik tidak sekedar mengajar.tidak tahu atau tidak mau tahu itu juga masalah berbeda, dan itu banyak ditemui dalam praktik perkuliahan. menurut Panji nih, pamong belajar sebagai sebuah profesi kira2 kompetensi apa saja?

  17. Iya juga c pak..Tapi saya kembalikan ke yang permasalahan input, karena belum "ikhlas" orang yang masuk ke prodi pls (dikarenakan tidak tahu menjadi apa) maka selama proses pun kecenderungan untuk mencari tahu menjadi lemah..Sebenarnya pak untuk pamong sendiri saya masih bingung (jujur ni mah) pamong=guru.. Kalau guru ada guru bidang studi.. Pamong bagaimana??Sy belum membaca revisi peran dan fungsi pamong pak..

  18. untuk peran dan fungsi pamong nanti nanya pak Fauzi ya, dia ahlinya, hahahahahahaha…..pamong belajar itu tidak hanya sekedar guru Ji, tapi lebih dari itu, makanya tidak sederhana.. pamong itu kan perencana, pelaksana, pengevaluasi (pengelola program PLS) dan tidak menutup kemungkinan juga bisa mengajar jika dia memiliki keahlian dalam bidang tertentu sehingga keterampilan mengajar juga menjadi wajib.nah untuk menjadi pengelola program kan tidak hanya punya kemampuan perencanaan pembelajaran saja, cara berfikirnya harus lebih komprehensif. dalam proses perencanaan saja, seorang pamong itu dituntut menjadi agent of change, melaksanakan perannya untuk memberdayakan masyarakat. untuk jadi agent of change tentunya harus tahu donk tentang teori2 sosial, teori perubahan sosial, juga harus tahu kajian sosiologi, kajian antropologi dsb, tidak ketinggal teori tentang pemberdayaan masyarakat, pembangunan masyarakat, dsb. itu baru menjalankan fungsinya sebagai perencana lho ya, belum yang lain.. lihat berapa banyak kemampuan yang harus dia kuasai sebagai pamong yang menjalankan perannya sebagai perencana program? banyak kan? ini yang disebut mind mapping Ji… bagaimana kita memetakan kompetensi berdasarkan keahlian yang kemudian di terjemahkan menjadi mata kuliah… mengerti kan? Dengan kesadaran yang tinggi mengenai kebutuhan apa saja yang harus dia miliki untuk menjadi pamong belajar, maka mata kuliah PLS yang katanya ruwet itu masih kurang banyak lho, dan saya rasakan semakin tinggi sekolah malah semakin bodoh, karena banyak sekali hal yang belum saya ketahui… sudah nyambung kan Ji kenapa kita di ajari ini dan itu? kalau sekedar menulis profesi kita untuk menjadi pamong sih mudah Ji, tapi untuk menjadi profesi itu perguruan tinggi juga punya beban moral untuk membekali mahasiswa sekomprehensif mungkin.

  19. saya sepakat dengan perkataan rektor univ islam jember yang memberi masukan agar kami hanya mempertanyakan satu saja..Profesi kami apa?Dan profesi itu hanya dimiliki oleh lulusan pls..Beliau juga memberi masukan untuk yang petisi itu pak..Pada intinya, ketika ditentukan kami harus menjadi pamong dan merubah semua kurikulum, yah kami akan ikut..Karena dengan keterbatasan ilmu kami yang sekarang..utk menentukan satu saja profesi pls yang tidak dapat diambil oleh jurusan atau orang lain.

  20. dipahami saja dulu komen saya yang diatas, masalah sepakat atau tidak sepakat dengan satu profesi itu tergantung pemahaman masing2 mengenai profesi tersebut… satu profesi tidak berarti miskin ilmu…

  21. Alhamdulillah..Makasih pak..Tapi mau pelajari lagi ah..soalnya kok sepertinya tidak sesimpel itu..heheMudah2n pada baca ni komen..jadi bisa ada masukan lagi..Nah kalau sudah begitu..yah kami ngikut lah dengan pak fauzi..pan ud dijelaskan tadi..Mungkin dengan menentukan profesi malah akan mengurangi beban moral..karena sudah tidak ada satu pertanyaan yang berulang-ulang diucapkan..Piss lah pak..^^vJadi serem saya..hehe..

  22. silahkan di pelajari lagi ya… bulan puasa kalau mau ngabuburit di rumah saya sambil diskusi juga boleh, kita bahas masalah ini selengkap mungkin, biar kalau mau ngasih petisi tuntutannya lebih berbobot, dengan pemikiran akademik yang baik tentunya… pokoknya saya tunggu di rumah… Ok…..

Tinggalkan Balasan