Persamaan dan perbedaan pendidikan luar sekolah (PLS)

0
Dibaca 8.821

Persamaan dan perbedaan pendidikan luar sekolah (PLS)

  1. Persamaan

Persamaan antara PLS dengan pendidikan persekolahan dapat diperhatikan dari dua sudut pandang yaitu sudut pandangan masyarakat dan sudut pandangan individu. Dari segi pandangan masyarakat, pendidikan berarti pewaris atau pemindahan nilai-nilai intelek, seni, politik, ekonomi, agama dan lain sebagainya; Sedangkan dari segi pandangan individual, pendidikan berarti pengembangan potensi-potensi manusia (Hasan Langglung, 1980). Persamaan lainnya yaitu fungsi pendidikan adalah untuk pengembangan ilmu pengetahuan, Teknologi dan keterampilan bahwa menyiapkan suatu generasi agar memiliki dan memainkan peranan tertentu dalam masyarakat.

Proses pendidikan selalu melibatkan masyarakat dan semua perangkat kebudayaan sesuai dengan nilai dan falsafah yang dianutnya.

    1. Perbedaan Antara Pendidikan Sekolah Dan Luar Sekolah

Secara prinsip, satu-satunya perbedaan antara pendidikan luar sekolah dengan pendidikan sekolah adalah legitimasi atau formalisasi penyelenggaraan pendidikan. Tentang perbedaan penyelenggaraan ini, secara institusional, tercantum pada Undang-Undang RI nomor 2 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 10:2-3. selanjutnya, perbedaan secara operasional, Umberto Sihombing melalui bukunya Pendidikan Luar Sekolah: Manajemen Strategi (2000:40-46) menuliskan secara khusuS dan sistematis tentang perbedaan antara Pendidikan Luar Sekolah dengan Pendidikan Sekolah.

Pendidikan luar sekolah (PLS) sangat berbeda dengan pendidikan sekolah, khususnya jika dilihat dari sepuluh unsur di bawah (lihat tabel).

[wp-like-locker]

NO

INDIKATOR

PERBEDAAN

PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

PENDIDIKAN SEKOLAH

1.

Warga belajar

      • Rentang usia warga belajar heterogen (10-44 tahun)

      • Latar Belakang pendidikan warga belajar heterogen

      • Motivasi belajar karena kebutuhan mendesak

      • Warga belajar dapat berfungsi sebagai sumber belajar

      • Warga belajar lebih Mandiri dalam memilih program yang dibutuhkan

      • Penerapan warga belajar berdasarkan sasaran

      • Ada yang sudah bekerja baru ikut belajar

      • Rentang usia setiap jenjang lebih homogen

      • Latar Belakang pendidikan lebih homogen

      • Motivasi belajar untuk prestasi jangka panjang

      • Siswa bertindak sebagai anak didik

      • Siswa tidak dapat memilih program sesuai kebutuhannya

      • Penerapan siswa berdasarkan nilai yang diperoleh

      • Selesai sampai jenjang tertentu baru mencari pekerjaan

2.

Tutor / sumber belajar
      • Biasanya disebut tutor

      • Pemilihan tutor lebih ditekankan pada segi keterampilan yang dimilikinya

      • Bersifat terbuka (siapapun dapat menjadi tutor)

      • Bertindak sebagai fasilitator

      • Tidak ada perjenjangan karir

      • Tidak digaji pemerintah

      • Disebut guru

      • Ditekankan pada kemampuan akademis

      • Bersifat tertutup (latar Belakang akademik)

      • Bersifat sebagai nara sumber utama

      • Ada jenjang karir

      • Digaji pemerintah / swasta

3.

Pamong belajar / penyelenggara

      • Lebih bersifat sukarela / nobenefit (kecuali untuk program khusus)

      • Perseorangan, LSM atau instansi

      • Bertindak sebagai fasilitator

      • Mendapat gaji

      • Diselenggarkan oleh pemerintah atau lembaga / yayasan berbadan hukum

      • Bertindak sebagai pengelola

4.

Sarana belajar

      • Sarana belajar berbentuk variatif (modul, leaflet, booklet, poster, dsb) sesuai dengan kebutuhan belajar

      • Materi bahan belajar dikembangkan sesuai program yang dikembangkan

      • Sarana belajar/learning kit sangat variatif

      • Bahan belajar dapat disusun oleh siapa saja (termasuk warga belajar itu sendiri)

      • Memanfaatkan sarana belajar yang ada

      • Pengalaman warga belajar dimanfaatkan untuk bahan belajar

      • Sarana / learning kit yang dibutuhkan sudah baku

      • Materi bahan belajar homogen (berdasarkan kurikulum nasional)

      • Jenis bahan belajar kurang variatif (bentuk buku atau modul)

      • Bahan belajar disusun oleh para ahli

      • Sering berubah-ubah

      • Kurang mengakomodasi pengalaman siswa / peserta didik

5.

Tempat Belajar

      • Memanfaatkan bangunan prasarana yang ada

      • Mengoptimalkan sarana yang tersedia

      • Dilakukan di gedung sekolah sendiri

      • Mengadakan sarana yang dibutuhkan (Sengaja diadakan untuk mendukung proses belajar)

6.

Dana

      • Swadaya masyarakat/ warga belajar

      • Bantuan pemerintah, LSM, badan swasta lainnya

      • Pengelolaan dana bersifat terbuka

      • Swadaya

      • Bantuan pemerintah

      • Dibebankan pada negara

      • Pengelolaan dana tertutup

7.

Ragi belajar

      • Pemberian ragi belajar disesuaikan dengan kebutuhan warga belajar

      • Pemberian ragi belajar dalam bentuk Ijazah

8.

Kelompok belajar

      • Jumlah kelompok 10-20 orang

      • Pembentukan kelompok berdasarkan minat yang sama (melibatkan warga belajar)

      • Ikatan kelompok bersifat informal

      • Jumlah kelompok bisanya 30 lebih

      • Pembentukan kelas ditentukan oleh penyelenggara

      • Ikatan kelompok bersifat formal

9.

Program belajar

      • Kurikulum disusun berdasarkan kebutuhan pasar

      • Kurikulum lebih menekankan kemampuan praktis

      • Memungkinkan perubahan kurikulum lebih fleksibel sesuai dengan perubahan keadaan tempat.

      • Program belajar boleh tidak berjenjang

      • Persyaratan keikutsertaan program belajar relatif terbuka (usia latar Belakang pendidikan, sosial, ekonomi, dsb)

      • Program dikembangkan untuk mengatasi masalah riil yang dirasakan mendesak/ jangka pendek

      • Penyusunan program melibatkan masyarakat secara partisipatif

      • Proses pembelajaran secara kelompok dan mandiri

      • Pelaksanaan / waktu belajar fleksibel sesuai kesepakatan

      • Penyelesaian program relative singkat

      • Memberdayakan potensi sumber setempat

      • Sistem evaluasi tidak baku (kecuali program pake A pake B and Kursus)

      • Kurikulum disusun di pusat (sentralisasi)

      • Lebih menekankan kemampuan teoretis akademis

      • Kurikulum lebih bersifat baku (sulit berubah) kurang dinamis tidak adaftif dengan perkembangan

      • Perjenjangan bersifat baku

      • Persyaratan keikutsertaan program bersifat baku dan berlaku menyeluruh (secara nasional)

      • Program dikembangkan untuk menyiapkan peserta untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi

      • Program disusun sepenuhnya oleh pemerintah, masyarakat bersifat pasif / pengguna

      • Pembelajaran dilakukan secara klasikal

      • Waktu belajar sudah pasti

      • Penyelesaian program lama

      • Penekanan pada penguasaan pengetahuan akademis

      • Mengabaikan nara sumber / potensi sekitar

      • Sistem evaluasi baku

10.

Hasil belajar

      • Hasil belajar dapat dijadikan bekal untuk bermatapencaharian

      • Hasil belajar berdampak terhadap peningkatan pendapatan masyarakat

      • Dapat diterapkan sehari-hari

      • Tak mengutamakan ijazah

      • Berpotensi untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi

      • Hasil belajar untuk jenjang karir di masa datang

      • Hasil belajar tidak dapat langsung diterapkan dalam dunia nyata

      • Ijazah merupakan hasil akhir

[/wp-like-locker]

Tinggalkan Balasan