PKM GT– Book Corner at Hospital sebagai Inovasi Model Perpustakaan Ruang Publik Menuju Masyarakat Cinta Baca

Disusun Oleh : Panduwati, Yudan Hermawan, PLS UNY   PENDAHULUAN Latar Belakang “Buku adalah pengusung peradaban. Tanpa buku sejarah diam. Sastra bungk...

SEMNAS DAN RAKERNAS 2016 PART 1 : Hadapi Realita Bersama Peran Pemuda
PROSES BARBAR (Aku Menolak Kalah Di Dalamnya)

Disusun Oleh :
Panduwati,
Yudan Hermawan,
PLS UNY
 

PENDAHULUAN

Latar Belakang

“Buku adalah pengusung peradaban. Tanpa buku sejarah diam. Sastra bungkam, sains lumpuh. Pemikiran macet. Buku adalah mesin perubahan, jendela dunia, mercusuar yang dipancangkan di samudera waktu.” (Barbara Tuchman)

Dari dulu sampai sekarang, buku memegang peranan sangat vital bagi manusia. Tanpa buku, mungkin manusia akan tetap hidup seperti manusia pra sejarah yang banyak mengandalkan hidupnya dari alam. Tanpa buku, tidak mungkin manusia mencapai kehidupan modern seperti sekarang ini. Di bukulah orang-orang pintar dunia menuliskan pengalaman, pemikiran, dan teori-teori mereka. Itulah yang dimanfaatkan oleh orang-orang sesudahnya. Makin lama makin dikembangkan, dan jadilah pengetahuan dan teknologi seperti sekarang yang manfaatnya telah dirasakan oleh hampir seluruh umat manusia (www.kabarindonesia.com, Buku sebagai Gudang Ilmu oleh Amrizal Muchtar)

Membaca buku sebagai kegiatan penting dalam pemanfaatan buku mampu mengembangkan nalar dan kemampuan manusia.. Ini diperkuat dengan pernyatan Dr. Aidh bin Abdullah al-Qarni, dalam bukunya. “La Tahzan”, salah satu manfaat membaca yakni seseorang akan mampu mengembangkan kemampuannya, baik untuk mendapat dan memproses ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu dan aplikasinya dalam hidup. Namun, kegiatan membaca belum menjadi budaya bagi masyarakat Indonesia. Minat baca masyarakat Indonesia masih sangatlah rendah, orang lebih memilih menonton televisi daripada membaca. Menurut Badan Pusat Stastistik (BPS) pada tahun 2006, masyarakat Indonesia lebih memilih menonton televisi (89,5 %) dan atau mendengarkan radio (40,3 %) ketimbang membaca Koran (23,5%). .Berbeda dengan masyarakat negara Jepang, membaca merupakan suatu kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang membaca sangat mudah ditemui di bis-bis kota, kereta-kereta listrik dan di tempat-tempat umum lainnya. Dan mereka tidak enggan untuk membawa buku disetiap aktivitas mereka.

Menurut Susan Burns dalam bukunya “Starting Out Right” (1998) minat baca merupakan sesuatu yang kompleks yang melibatkan ketrampilan membaca sekaligus lingkungan yang melingkupinya. Fasilitas merupakan salah satu faktor untuk membentuk masyarakat gemar membaca. Menilik hal tersebut, maka fasilitas yang diharapkan meningkatkan minat baca perlu dibangun atau dipersiapkan. Fasilitas ini merupakan fasilitas yang mampu merengkuh kepentingan umum. Ini dikarenakan ruang kerja masyarakat yang berada dalam jangkauan wilayah umum yang berimbas pada minat membaca pada kalangan masyarakat umum. Disampaikan oleh Primanto dalam penelitian kuantitatifnya menyatakan bahwa masyarakat memiliki Common Sense yakni perspektif membaca adalah kegiatan orang yang punya waktu dan karena sebagian pekerjaan masyarakat menghabiskan sebagian besar waktu, mereka tidak punya lagi waktu untuk membaca. Namun, realita berbeda dialami oleh rumah sakit yang merupakan wilayah ruang publik. Rumah sakit biasanya terdiri dari tenaga medis, pasien dan keluarga pasien serta orang-orang yang menjenguk. Kebanyakan dari mereka melakukan hal yang tidak produktif seperti menunggu atau menonton televisi di ruang tunggu.

Sebagai Negara yang berkembang, Indonesia masih dalam proses menuju masyarakat gemar membaca. Kegiatan membaca harus menjadi suatu kebiasaan sehingga terbentuk suatu kesadaran atau cinta membaca yang pada akhirnya mewujudkan masyarakat dengan budaya baca. Book Corner at hospital merupakan solusi yang ditawarkan guna pemanfaatan ruang publik menuju masyarakat cinta baca. Saat ini perpustakaan ataupun taman bacaan bukanlah didefinisikan sebagai suatu tempat yang berada pada suatu wilayah dan didatangi oleh pengunjungnya. Book Corner at hospital merupakan model perpustakaan masa kini yang mendatangi pengunjungnya yang berada pada lingkungannya khususnya di rumah sakit.

Kehadiran Book Corner at hospital ini bertujuan membudayakan gemar dan cinta baca pada kalangan masyarakat umum yang berada di rumah sakit, menyediakan dan memberikan layanan di bidang bahan bacaan yang dapat membantu pengunjung ruang publik untuk dapat melakukan kegiatan membaca dalam rangka belajar, mencari informasi, mencari hiburan edukatif, atau hanya sekedar mengisi waktu luang. Tujuan ini karena menilik pada kebanyakan dari kunjungan orang ke rumah sakit umumnya tidak melakukan hal yang produktif. Dan diharapkan mampu menjadi model inovasi perpustakaan masa kini sehingga terwujudlah budaya dan rasa cinta membaca di kalangan masyarakat.

Tujuan dan Manfaat

Kepenulisan ini bertujuan mendeskripsikan model inovasi perputakaan masa kini yang mendatangi pengunjung di rumah sakit.

Manfaat disampaikan gagasan ini adalah :

Memudahkan pengguna jasa layanan di Rumah Sakit  mengakses pengetahuan.

Meningkatkan minat baca bagi masyarakat di Rumah Sakit.

Menciptakan pembelajaran dimana saja dan kapan saja.

Membantu menciptakan Indonesia menuju masyarakat cinta baca.

Membantu akses pengetahuan bagi masyarakat di Rumah Sakit.

 

GAGASAN

Minat Membaca Masyarakat Indonesia

Bila dibandingkan dengan masyarakat Jepang, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang lebih cenderung membudayakan tradisi lisan yang kental. Budaya mengobrol masih menjamur dimana-mana. Banyak diantara masyarakat Indonesia yang lebih memilih bercengkrama dan berbicara tidak karuan dengan masyarakat lainnya. Ini tentu saja sangat berbeda dengan prinsip masyarakat modern yang sangat menghargai waktu. Waktu adalah uang, begitulah prinsip masyarakat modern. Sebegitu pentingnya sehingga sedapat mungkin waktu kosong harus dimanfaatkan. Salah satunya dengan membaca. Namun, realita yang berkembang adalah buku bukanlah teman setia di kala waktu luang atau senggang. Membaca bukanlah kegiatan yang wajib untuk dilakukan dan menjadi budaya di kalangan masyarakat. Selain itu, fasilitas sebagai sarana pun tidak bisa diakses secara mudah.

Minat membaca pada umumnya berkaitan langsung dengan fasilitas. Fasilitas sebagai pendukung yang memudahkan masyarakat dalam mengakses bahan bacaan itu sendiri dimana pun. Sedangkan realita fenomone minimnya minat membaca  bahwa masyarakat memiliki Common Sense yakni membaca merupakan kegiatan orang yang punya waktu dan karena sebagian pekerjaan masyarakat menghabiskan sebagian besar waktu, mereka tidak punya lagi waktu untuk membaca. Keterbatasan sarana dan prasarana berupa fasilitas yang memudahkan mengakses bahan bacaan inilah yang menjadi masalah. Sehingga minat membaca masyarakat Indonesia pun masih  rendah dibanding masyarakat di kawasan Asia.

Solusi yang Pernah Ditawarkan dalam Meningkatkan Minat Baca

            Dewasa ini, konsep perpustakaan modern bukanlah perpustakaan yang berada pada suatu wilayah yang akan didatangi oleh pengunjungnya. Dengan tingginya kesadaran pentingnya membaca, pemerintah telah memberikan inovasi-inovasi model perpustakaan yang mampu menjangkau masyarakat. Taman Bacaan at Mall yang baru-baru ini menjadi trend model perpustakaan ruang publik merupakan salah satu solusinya. Namun, efektifitas pemanfaatan dari taman bacaan yang berada di mall ini masih dipertanyakan melihat jangkauan dari TBM itu sendiri yang ramai.

Konsep TBM sendiri adalah tempat atau wadah yang didirikan dan dikelola baik oleh masyarakat maupun pemerintah untuk memberikan akses layanan bahan bacaan bagi masyarakat sekitar sebagai sarana pembelajaran seumur hidup dalam rangka peningkatan kualitas hidup masyarakat disekitar TBM (Panduan Penyelenggaraan TBM 2006: 10)

Selain itu, pemerintah pun telah menggagas TBM Keliling sebagai solusi dalam meningkatkan minat membaca masyarakat. Dengan tujuan merangkul tiap daerah dan masyarakatnya yang mungkin tidak bisa mengakses perpustakaan. Namun, pada akhirnya TBM Keliling hanya merengkuh masyarakat di suatu daerah dan bukan suatu tempat khusus yang masyarakatnya banyak membuang waktu untuk sekedar menunggu dan menonton televisi di ruang tunggu. Rumah sakit saat ini hanya membiarkan pengunjung baik keluarga pasien ataupun semua orang yang berada di rumah sakit melakukan hal yang sia-sia. Rumah sakit merupakan tempat dimana suasananya sepi tau tidak ramai dan ini merupakan peluang terbaik untuk membangun minat baca masyarakat melalui sudut yang mampu membuka wawasan masyarakat.

 

Book Corner at Hospital Sebagai Inovasi Model Perpustakaan Ruang Publik Menuju Masyarakat Cinta Baca

Rumah Sakit sebagai ruang public yang banyak dikunjungi masyarakat. Menurut BPS Jogja, kunjungan  rawat  jalan  di  RS    Jogja  dari  80.559 kunjungan  pada tahun 2009 menjadi 89.097 pada tahun  2010  atau  mengalami  kenaikan  sebesar 10,60 %, rawat darurat menurun dari 26.669 pada tahun  2009  menjadi    28.421    kunjungan  pada tahun  2010  atau mengalami  peningkatan  6,57%. Peningkatan kinerja juga dapat dilihat dari peningkatan  jumlah  pasien  dari  8.178  pada  tahun  2009 menjadi  9.186  pada  tahun  2010  atau meningkat 12,36%. Melihat kenyataan tersebut, presentase yang dipaparkan adalah presentase kunjungan pasien belum termasuk keluarga dan yang menjenguk.  Dan realita yang berkembang adalah kebanyakan dari mereka hanya membuang-buang waktu. Kegiatan yang biasa dilakukan adalah menunggu dan menonton televisi di ruang tunggu. Sedangkan pada dasarnya dalam rentang waktu tersebut,masyarakat dapat mengakses pengetahuan melalui bahan bacaan yang tentunya lebih bermanfaat dibanding melakukan hal yang sia-sia. Sehingga menjadi luar biasa ketika waktu yang tersedia tersebut masyarakat dimudahkan fasilitas dalam menjangkau bahan bacaan.

Book Corner at Hospital diistilahkan bagi model perpustakaan yang bertempat di Rumah Sakit dengan pelayanan yang berbasis pada kebutuhan pengguna jasa layanan. Kebutuhan saat ini adalah kebutuhan akan akses yang mudah dalam menjangkau pengetahuan. Dan dimensi saat ini, segala sesuatu tidak lagi dipersepsikan sebagai sesuatu yang konvensional. Masyarakat disuguhi oleh kemajuan perkembangan teknologi yang jauh lebih mudah untuk diakses. Istilah buku electronic book pun menjadi mumpuni di kalangan masyarakat sebagai istilah bacaan dari internet. Ini pun menjadi hal yang penting guna sarana pendukung dalam mengakses pengetahuan di Book Corner at Hospital. Sehingga masyarakat akan lebih nyaman berada di perpustakaan ini dengan konsep digital library dan ini menjadi strategi meningkatkan minat baca sehingga rasa kecintaan membaca akan tumbuh pada masyarakat.

 

Pihak-pihak yang Dipertimbangkan Dapat Membantu Program

            Beberapa pihak dalam gagasan ini yang diperkirakan dapat membantu implementasi gagasan ini diantaranya :

  1. Kepala Rumah Sakit. Berperan sebagai elemen dasar yang memiliki hak atas bangunan Rumah Sakit sehingga pendirian Book Corner at Hospital bisa terealisasi. Kepala Rumah Sakit memiliki pengaruh yang besar dalam perizinan adanya perpustakaan di sudut rumah sakit yang bisa digunakan pengunjung rumah sakit.
  2. Kantor Perpustakaan Daerah. Berperan sebagai penyedia bahan bacaan di book corner at hospital ini. kantor Perpustakaan Daerah diharapkan mampu menjalin kerjasama untuk menyediakan bahan bacaan serta melakukan pembaharuan bahan bacaan untuk pengunjung rumah sakit secara berkala.
  3. Tenaga Jaringan Internet. Berperan sebagai fasilitator dalam menyediakan jaringan internet di dalam book corner at hospital. Kontribusi yang diharapkan adalah sebagai penyedia layanan akan kebutuhan internet dan sebagai tenaga teknis dalam memasang jaringan internet.
  4. Masyarakat sebagai Pengunjung Rumah Sakit. Berperan sebagai partisipan pada book corner at hospital. Pengunjung rumah sakit yang ada bisa menjadi anggota perpustakaan ruang public sehingga bisa menikmati layanan di perpustakaan ini.

Implementasi “Book Corner at Hospital”

Secara Prosedural, inovasi model perpustakaan ruang public “Book Corner  at Hospital” ini adalah sebagai berikut :

Perpustakaan di Rumah Sakit

Book Corner @Hospital

Minat Baca

Cinta Baca

Membaca sebagai budaya

  1. A.    Tahap Perencanaan
    1. Pemilihan sudut rumah sakit yang strategis.
    2. Identifikasi kebutuhan baca
    3. Pemasangan internet/WiFi
    4. Pengadaan bahan bacaan
    5. Sosialisasi melalui berbagai media
    6. B.     Tahap Pelaksanaan
      1. Pengorganisasian
      2. Penggerakan
      3. Pembinaan
    7. C.    Tahap Evaluasi

Untuk mencapai pengorganisasian Book Corner at Hospital ada beberapa tahap yang meliputi:

  1. Tahap Perencanaan
    1. Pemilihan Sudut Ruangan rumah Sakit yang Strategis

Pemilihan tempat strategis sebagai perpustakaan merupakan tahap awal yang harus dilakukan guna menarik pengunjung. Dalam inovasi model perpustakaan ruang public “Book Corner at Hospital” ini maka dipilih sudut ruangan yang dekat dengan pengguna jasa layanan dan sering dikunjungi oleh semua masyarakat di Rumah Sakit.

  1. Identifikasi kebutuhan baca

Identifikasi kebutuhan baca dilakukan agar dapat memperoleh gambaran tentang kondisi dan kebutuhan masyarakat. Data tentang tingkat kebutuhan bisa diperoleh dari hasil pengamatan/observasi, wawancara langsung dengan pengelola atau masyarakat sekitar serta dokumen-dokumen lain yang tersedia.

  1. Pengadaan bahan bacaan

Bahan bacaan yang digunakan oleh Book Corner at Hospital ini disesuaikan dengan tempat, kebutuhan serta minat kelompok-kelompok kegiatan masyarakat. Buku-buku bacaan akan berbeda di tiap tempat.

  1. Pemasangan internet atau Wifi

Internet sebagai sarana pendukung perpustakaan yang memudahkan mengakses bacaan pun harus dipasang dalam Rumah Sakit. Ini dilakukan guna memenuhi kebutuhan masyarakat yang tinggi akan adanya internet.

  1. Sosialisasi

Sosialisasi ditujukan kepada pihak-pihak yang akan terlibat dalam perpustakaan di rumah Sakit atau Book Corner at Hospital. Adapun kegiatan yang disosialisasikan meliputi pemasangan poster dan melalui web rumah sakit.

  1. Tahap Pelaksanaan
  2. Pengorganisasian

Penyusunan ketenagaan dalam ini Book Corner at Hospital tidak hanya membutuhkan ketua dan bidang-bidang lain seperti yang ada di perpustakaan ruang publik pada umumnya, melainkan juga membutuhkan pelayanan di Rumah sakit yang akan membantu masyarakat dalam melakukan kegiatan membaca di Book Corner at Hospital . pengelola Book Corner at Hospital dapat merupakan stakeholder di Rumah Sakit tersebut sebagai pengelola inti dan karyawan Rumah Sakit sebagai pemberi layanan perpustakaan.

Penggerakan

Terdiri atas upaya memotivasi yang dilakukan baik oleh pengelola pengelola kepada staffnya maupun pengelola Book Corner at Hospital. Tahap penggerakan ini dapat dilakukan secara informal maupun nonformal, misalnya seminggu sekali diadakan pertemuan untuk koordinasi, sharing serta pemberian motivasi.

Pembinaan

Pada tahap ini mencakup kegiatan pengawasan dan supervise. Pengawasan yang dilakukan oleh pengelola Book Corner at Hospital kepada staffnya mengenai bahan bacaan yang tersedia.

  1. Tahap Evaluasi

Evaluasi dilakukan dari tiap-tiap pengelolaan Book Corner at Hospital  (mulai dari tahap persiapan, serta pelaksanaan dan pengorganisasian). Hal-hal yang sekiranya menghambat, perlu diminimalisir atau dihilangkan begitu pula sebaliknya. Sedangkan evaluasi hasil lebih terkait dari tujuan yang telah tercapai yakni terciptanya budaya belajar dan budaya baca dalam masyarakat.

Tujuan akhir dari Book Corner at Hospital  adalah masyarakat mampu meningkatkan kecintaan terhadap buku serta meningkatkan budaya baca masyarakat. Beberapa indikator yang dapat dijadikan tolak ukur dalam menilai tingkat keberhasilan dari Book Corner at Hospital misalnya meningkatnya permintaan masyarakat terhadap variasi buku yang disediakan oleh perpustakaan, adanya perubahan tingkah laku masyarakat, dan meningkatnya daya beli buku masyarakat

 

Kesimpulan

Dewasa ini, kebutuhan akan pengetahuan meningkat. Pengetahuan akan selalu berkembang sejalan dengan perkembangan zaman. Buku adalah sumber infomasi bagi masyarakat untuk memperbaharui setiap pengetahuannya. Informasi akan selalu baru sedangkan informasi didapat melalui kegiatan membaca. Minat membaca tentu bukan barang yang mudah dibentuk hanya dengan suruhan atau perintah sekali saja. Minat baca berkaitan dengan kebiasaan. Untuk membudayakan minat baca menuju masyarakat cinta baca tentu harus dilakukan sedini mungkin dengan perbaikan dari segala aspek. Aspek yang tentu tidak boleh dilupakan adalah sarana dan prasana guna membangkitkan minat membaca masyarakat. Sarana dan prasarana ini berupa fasilitas yang seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan pengguna jasa layanan dimana masyarakat berada. Rumah sakit merupakan tempat yang kondusif dalam pengadaan perpustakaan melihat aktifitas rumah sakit yang dipenuhi pengunjung yang melakukan hal yang sia-sia. Banyak diantara pengunjung yang hanya menunggui keluarganya yang sedang sakit dan menonton televisi di ruang tunggu. Book Corner at Hospital merupakan gagasan guna menjembatani permasalahan tersebut.

Secara prosedural, inovasi model perpustakaan ruang publik Book Corner at Hospital meliputi tahap perencanaan (pemilihan sudut rumah sakit yang strategis, identifikasi kebutuhan baca, pemasangan internet/WiFi, pengadaan bahan bacaan, dan sosialisasi melalui berbagai media); tahap pelaksanaan (pengorganisasian, penggerakan, pembinaan) dan terakhir adalah tahap evaluasi. Book Corner at Hospital sendiri bertujuan memberikan dan menyediakan layanan mengakses bahan bacaan bagi masyarakat yang ada di rumah sakit dan sebagai solusi guna meningkatkan minat baca menuju masyarakat cinta baca.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Pengertian, Tujuan, dan Peran Perpustakaan. http://www.pemustaka.com/pengertian-tujuan-dan-peran-perpustaan diakses pada tanggal 15 Februari 2012

Anonin. Perpustakaan yang Cozy, Hospitality, High Tech dan Up To Date. http://www.pemustaka.com/kategori/artikel-perpustakaan diakses pada tanggal 15 Februari 2012

EP, Fauzi. 2012. Taman Bacaan Masyarakat @Mall?. http://fauziep.blogdetik.com/2012/01/30/taman-bacaan-masyarakat-mall/ diakses pada tanggal 15 Februari 2012

Masri Sareb Putra, R. 2008. Menumbuhkan Minat Baca Sejak Dini. Jakarta: PT. INDEK.

Moulin Wijayanti, Maya. 2008. Pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat “Satu Sembilan” Dalam Mengembangkan Budaya Baca Anak Di Patangpuluhan Wirobrajan Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Skripsi (tidak diterbitkan).

Muchtar, Amrizal. 2007. Buku sebagai Gudang Ilmu. www.kabarIndonesia.com diakses pada tanggal 15 Februari 2012

Biodata Peserta

  1. Nama Lengkap                                    : Panduwati

Tempat dan Tanggal Lahir                  : Palembang, 28 Oktober 1991

Karya Ilmiah yang pernah dibuat       :

–          Terapi Bermain Sebagai Metode dalam Mengatasi Psikis Anak-Anak Korban Bencana Erupsi Merapi

–          “Dragon Lagoon sebagai Upaya Pengembang Masyarakat Pantai Glagah Berbasis Diversifikasi Pengolahan Buah Naga (Hylocereus undotus).”

 2.      Nama Lengkap                                    : Yudan Hermawan

Tempat dan Tanggal Lahir                  : Gunungkidul, 23 Maret 1989

Karya Ilmiah yang pernah dibuat       :

–          Rumah Belajar “Omah Pasinaon” Sebagai Media Belajar Dan Bermain Berbasis Budaya Lokal di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, DIY

COMMENTS

WORDPRESS: 0