PLS, Mau Dibawa Kemana?. Sebuah Refleksi Bersama.

Sejatinya saya begitu optimis dengan pilihan yang saya ambil. Pendidikan Luar Sekolah (PLS) bagi saya adalah ruh perjuangan untuk membantu dan membang...

3rdDVOLUTION – Education for Evolution
Keinginan untuk Masuk Jurusan PLS

Sejatinya saya begitu optimis dengan pilihan yang saya ambil. Pendidikan Luar Sekolah (PLS) bagi saya adalah ruh perjuangan untuk membantu dan membangun masyarakat mencapai “life long education . Melalui PLS, saya berharap dapat berkontribusi lebih menciptakan SDM yang berkualitas. Menjadikan Pendidikan di Indonesia kembali bangkit. Khususnya, bagi mereka yang tidak tertampung di Pendidikan Formal.

Tetapi, membaca status tadi sore dari seorang yang terbilang cukup ternama (Bpk Fauzi Eko Pranyono) menyampaikan dari Dirjen PNFI yang isinya: setiap tahun jurusan PLS meluluskan mahasiswa tapi tidak jelas kemana mereka dapat diserap, sebenarnya ini adalah kampanye geratis bagi kematian jurusan PLS. Upayakan jurusan pendekatan dengan pemkab/pemkot se-Indonesia untuk mengalokasikan 1-2 saja sarjana PLS, ini sudah luar biasa! . Saya tidak dapat membayangkan, bagaimana nasib sarjana PLS kedepan nanti. Jika Dirjen PNFI nya saja bisa menyampaikan demikian. Apakah memang sudah tidak dapat diperjuangkan lagi?. Hal ini membuat hati saya risau dan panik. Mau dibawa kemana lulusan PLS nanti?, jika formasi lulusan PLS untuk menjadi PNS tidak terbuka lebar. Bagaimana nasib teman-teman dan adek-adek saya di PLS, yang kini sedang semangat-semangatnya untuk belajar.

Mungkin plesetan PLS “pendidikan luas sekali, pendidikan luwes sekali memberikan alasan logis. Karena nyatanya lulusan PLS dapat diterima dimana saja (tidak sesuai bidang keilmuan), atau karena terlalu luas ilmu yang dipelajari menjadi susah mencari kerja. Siapa yang mampu menjawab kegelisahan ini?.

Jika seperti itu, lantas siapa yang bertanggung jawab pula atas hal ini?.

Apakah sudah tidak ada harapan lagi bagi lulusan PLS untuk menjadi PNS?. Padahal setahu saya, sekarang ini semakin banyak saja mahasiswa yang masuk ke jurusan PLS. Itu membuktikan bahwa PLS sudah tersosialisasi dengan baik. Orang semakin banyak yang sadar, bahwa pendidikan sepanjang hayat itu adalah penting. Bayangkan saja, bagaimana kalau pendidikan sepanjang hayat tidak digarap dengan baik. Bagaimana nasib mereka para buta aksara, lansia, kejar Paket A, B, atau C, dsb?. Tentu mereka hanya akan menjadi orang yang tidak lagi memiliki masa depan yang pasti. Namun berkat tangan-tangan PLS atau PNFI, mereka kembali mampu berdaya dan mandiri.

Kembali kepada topik awal. Jika memang menurut Dirjen PNFI lulusan PLS sudah tidak memiliki harapan, mengapa masih dipertahankan?. Atau mungkin karena lulusan PLS sendiri yang dianggap kurang kompeten?. Atau kurikulum perkuliahan PLS yang kurang sesuai dengan kebutuhan di lapangan?. Atau ada permasalahan yang lebih besar dari itu?. Saya kurang menahu soal itu. Namun jika menurut Dirjen PNFI ada sesuatu yang kurang tepat, harapannya dapat dirembug secara bersama-sama. Agar ada sinergisitas antara lulusan PLS dengan lembaga PNFI. Mengenai kualifikasi seperti apa yang diharapkan dari lulusan PLS, dsb.

Mungkin benar, jika ada sebagian orang yang berpendapat “lulusan PLS di doktrin saja untuk menjadi PENGUSAHA . Artinya, bahwa mereka dibelajarkan bukan untuk menjadi tenaga kerja/PNS. Tapi sebagai pencipta lapangan kerja. Contohnya, mendirikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), LSM, Kelompok Bermain (KB), PAUD, atau Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP). Mungkin itu yang perlu dipahamkan kepada mahasiswa PLS. Agar mereka nantinya tidak kecewa dan berharap banyak pada formasi PNS yang belum jelas.

Yah, itupun kalau semua mahasiswa PLS memiliki semangat yang sama. Kalau tidak?. Mereka hanya akan seperti air yang mengalir dan mengikuti arus saja. Sehingga bagi saya, life skill bagi mahasiswa PLS adalah penting. Karena, siapa tidak mandiri maka akan tertinggal.

Jika demikian, benar apa yang disampaikan Dirjen PNFI. “Jurusan PLS perlu melakukan pendekatan dengan   pemkab/pemkot se-Indonesia untuk mengalokasikan 1-2 saja sarjana PLS, ini sudah luar biasa! . Setidaknya ada formasi yang dikhususkan untuk jurusan PLS. Agar nasib lulusan PLS ke depan nanti mampu berdaya guna. Namun, menurut saya ini bukan sepenuhnya tanggungjawab dari jurusan PLS semata. Akan tetapi, peran semua elemen yang terlibat didalamnya.

——————-*****——————

Untuk teman-teman, adek-adekku di PLS tetaplah berjuang. Tulisan ini bukan bermaksud untuk mengendorkan semangat kalian di PLS. Tapi ini adalah sebuah refleksi bersama. Bahwa masih ada PR besar bagi kita. Bagi Dirjen PNFI, Jurusan PLS, Lembaga PNFI, juga mahasiswa PLS. Tantangan ke depan akan semakin sulit. Kita harus menjadi manusia yang super kreatif. Agar kita tidak tersingkirkan oleh jaman. Pasti akan ada jalan untuk kita berkontribusi. Tidak menjadi PNS pun tidak masalah. Marilah kita bekerja dengan hati untuk membangun masyarakat pembelajar.

Saya hanya bisa berpesan kepada para petinggi-petinggi PNFI dan Jurusan PLS yang memiliki kekuasaan di atas, agar senantiasa memperjuangkan kami dan mensosialisasikan jurusan PLS dengan baik. Karena, bagaimanapun juga PLS adalah ruh untuk mencapai pendidikan sepanjang hayat. Percayalah pada kami, kami pun mampu. Salam optimiz ¦J

Mohon maaf jika melalui tulisan ini ada pihak-pihak yang kurang berkenan. Tulisan ini saya tulis semata-mata karena kegelisahan saya akan nasib lulusan PLS. Saya mengajak semua pihak untuk membuka hati dan pikirannya. Mari kita berjuang bersama. Cayo PLS…!!!

By: Fitta Ummaya Santi, S. Pd

Pemerhati Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI). Alumnus S1 PLS UNY. Dan sekarang sedang menempuh Pascasarjana PLS di UNY.

Yogyakarta, 22 September 2010

COMMENTS

WORDPRESS: 7
  • comment-avatar

    Saran saya Bubarkan atau lebih baik

  • comment-avatar
    SAKBAN ROSIDI SAMINOE 6 tahun

    Saya hanya merasa aneh saja. Hampir di semua program studi PLS ada matakuliah educational needs assessment atau identifikasi kebutuhan dan sumber belajar masyarakat. Kemudian juga diajarkan bagaimana dari kebutuhan dikembangkan menjadi kurikulum pembelajaran, untuk kemudian diciptakan wahana belajar yang mempertemukan kelompok sasaran berkebutuhan belajar dan nara sumber belajar. Menurut para dosennya, mahasiswa dipersiapkan menjadi program developer. Nah ini… program di jurusan sendiri malah menghadapi
    Kok ternyata justru di jurusan ini selalu ada masalah relevansi kurikulum, masalah kompetensi lulusan, dan masalah efisiensi eksternal?
    Ayolah — terutama teman-teman seangkatan saya yang sekarang sudah guru besar, doktor, magister, bersertifikat dlsb — dipikirkan bersama. Kalau keterusan ini akan menjadi pemborosan dalam pendidikan (wastage in education).
    Bacaannya Marx, Illich, Freire, Reimer, Knowles, Carnoy, Craig, Kaufman, Nadler, Harbison, kok ternyata takut mengubah nama, takut mengubah kurikulum, takut jujur kalau ada masalah.
    Open mind.
    Open mind.
    Open mind.

    • comment-avatar

      Saya juga aneh pak Dosen saya yang mengajarkan asesmen kebutuhan masyarakat, Paud DLL kok mereka tidak punya buktinyata praktiknya hanya sekedar hitam diatas putih ( teori)

      • comment-avatar

        Jur PLS diciptakan karena masih banyaknya SDM yang belum di tangani oleh Pend Formal….Kalau untuk mengarah ke PNS itu kembali ke Pemerintah. kita Doakan saja semoga pejabat kita dapat memperhatikan Nasib Lulusan PLS ….Kasihan Pak !!!!

  • comment-avatar

    Dalam kaitan dengan upaya peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan, maka program PLS lebih berorientasi pada kebutuhan pasar, tanpa mengesampingkan aspek akademis. Oleh sebab itu Program PLS mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, profesionalitas, produktivitas, dan daya saing dalam merebut peluang pasar dan peluang usaha, alhamdulillah…..salam PLS

  • comment-avatar

    Mungkn kglsahan yg sma untk smua mhasiswa PLS untk prospek kdpan bg lu2san2 PLS,tp smpai saat ini q pun jg bngung mau brkiprah dlembaga mana stlh lu2s nanti,tp sya jg ptut brtrma ksh kpd ktua jrusan PLS UIKA,ataupun dekan UIKA stdkny dg adany knsntrasi PAUD dan Bk djurusan Pls uika membntu para mhasiswa untk mengurangi rasa kbmbangan untk mencri krj stlh lu2s nanti,mungkn ini adlah suatu trbosan agar lu2san PLS nantiny tdk bngung untk brkprah dlembga mana.

  • comment-avatar
    Mirsandika pratama 6 tahun

    itu merupakan cara berpikir yang sangat sempit kalau boleh saya bilang krn jurusan pls merupakan jurusan yg sangat produktif utk ke dpanx itu terbukti dari perkembangan pls di indonesia ini sekarang…
    saya mahasiswa ikip mataram yg selalu bangga menjadi anak pls