POLA PEMBERDAYAAN WARIA MELALUI KECAKAPAN HIDUP

POLA PEMBERDAYAAN WARIA MELALUI KECAKAPAN HIDUP (LIFE SKILL) SALON DI KOTA SEMARANG (Studi Kasus di Trajutrisno No.20 Semarang) Andriyana Dwi Astuti* ...

PLS dan Beberapa Cita-citaku
Ketulusan Hati (Aku dan PLS)

POLA PEMBERDAYAAN WARIA MELALUI KECAKAPAN HIDUP (LIFE SKILL) SALON DI KOTA SEMARANG

(Studi Kasus di Trajutrisno No.20 Semarang)

Andriyana Dwi Astuti*

Akhmad Aqil Azis*

Abstrak

Komunitas waria adalah minoritas dalam masyarakat, berasal dari kata wanita pria (shemale) karena pria tapi seperti wanita, merasa jiwa yang berada dalam tubuhnya adalah wanita, bahkan keseluruhan apa yang  ada ditempatkan selayaknya seorang wanita. Yoyox sebagai manager di GM mengungkapkan bahwa jumlah Waria di kota Semarang berjumlah 400-500 orang. Meskipun mereka berprofesi sebagai Pekerja Seks Komersial ketika malam hari akan tetapi mereka memiliki kenginan untuk kembali sebagai masyarakat biasa yang mempunyai pekerjaan tetap sebagaimana masyarakat yang lain. Bagaimana Pola Pemberdayaan Waria dan yang menjadi faktor pendukung dan penghambat dalam pembinaan kecakapan hidup (life skill) keterampilan salon di Trajutrisno. Pada penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, untuk mengetahui pola pemberdayaan waria dengan pembinaan kecakapan hidup (life skill) keterampilan salon di Graha Mitra Trajutrisno Semarang, penelitian ini maka digunakan beberapa metode pengumpulan data yang relavan yaitu: a) metode observasi (pengamatan); b) metode wawancara; c) metode dokumentasi. Pola pemberdayaan waria di Gramit sudah berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Tujuan dari pemberdayaan waria pada Gramit adalah untuk memberikan berbagai pembinaan kepada waria, sehingga dapat hidup mandiri serta dapat memulihkan harga diri dalam melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar di masyarakat dengan kecakapan vocational tertentu serta memberikan dampak positif bagi waria baik dari segi kognitif, afektif maupun psikomotorik. Faktor pendukung pemberdayaan dari segi perencanaan yaitu mendapat dukungan dari Dinas Sosial Propinsi Jawa Tengah, Faktor penghambat dari segi perencanaan yaitu pada saat awal memberikan motivasi pada waria diperlukan kerja keras dari pihak Gramit.

Kata kunci : Pemberdayaan, Waria, Kecakapan Hidup, Salon

Abstract

Transsexual community is minority group in society it comes from the word shemale became it is man but seems like woman he feels his soul is a woman event all of the part of his body are place like a woman. Yoyox as a manager GM said that the number are transsexual person in Semarang is 400-500 person. Event to thought they became commercial sex worker in the night but they want to becama a normall person which have a permanent job as the order person. How the system of   the transsexual person employment and constructin og life skill, drawing room skill in Graha Mitra trajutrisno Semarang so this research is use some methods, colleting the relevant data is are: a) observation method, b) interview method, c) domentation method. The system of transsexual person employment in Graha Mitra have passed according to the goal which want to active. Tha goal of this employment in Graha Mitra is to give the construction to the transsexual person, so they can live by their self, and can rebuild self-esteem in doing the social funtion reggulary in society with certain vocational cappable also give the positive efect to them, include cognitive, affective and pshycomotoric aspect. The support factor of this employment from the a building aspect it is gets support from social officiall central java province, the blocked factor from building aspect is from the firs time giving motivation to transsexual person is needed hard worker from the Graha Mitra itself.

Key words:   Employment, Transsexual, Life Skill, Drawing Room

PENDAHULUAN

Komunitas waria adalah minoritas dalam masyarakat, berasal dari kata wanita pria (shemale) karena pria tapi seperti wanita, merasa jiwa yang berada dalam tubuhnya adalah wanita, bahkan keseluruhan apa yang ada ditempatkan selayaknya seorang wanita. Berdandan, berpikir, perasaan, dan perilaku layaknya perempuan, yang membedakan adalah jenis alat kelamin yang dimiliki. Alat kelamin merupakan identitas ketika lahir, berbeda tapi fungsi tetap sama, untuk buang air kecil. Kehidupan dijalani seperti orang normal, kebutuhan biologis, aktifitas, dan bergaul dengan sesama atau orang bukan dari kelompoknya karena juga bagian masyarakat.
Waria di Indonesia lekat dengan citranya sebagai PSK (Penjaja Seks Komersial), tidak semua, namun label selalu menyertai. Bagi yang berpendidikan dan berketrampilan tentulah dapat bekerja layak, tapi bagi yang tidak tentulah sangat sulit, satu-satunya hal termudah menjadi waria, takkan diterima kerja di manapun.
Manusia sejak lahir berhubungan dengan manusia lainnya. Tidak mungkin manusia hidup sebagai manusia normal, apabila ia hidup diluar masyarakat. Seperti dikemukakan oleh Soedjono (1985: 39) bahwa manusia adalah makhluk yang hidup bersama sesamanya. Untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia menempuh berbagai cara sesuai keadaan dan taraf umur, pendidikan, umur, bakat dan sikap seseorang. Kesemuanya ini menimbulkan kelompok-kelompok sosial di dalam kehidupan manusia. Kelompok kecil yang sederhana biasanya terbentuk atas dasar kekerabatan, usia, seks dan juga perbedaan pekerjaan dan kedudukan.
Namun demikian kenyataannya dalam masyarakat ada sekelompok manusia yang berperilaku menyimpang, yang dering dicemooh olah warga yaitu kaum waria. Mereka juga dikenal dengan istilah banci, wadam, Atau waria yang dikenal sebagai kelompok sosial ini biasanya jelas karakteristiknya apakah sebagai perempuan apakah sebagai laki-laki. Perilaku mereka dapat diangagap menyimpang karena keluar dari norma, yaitu fisik laki-laki tetapi berdandan wanita secara berlebihan dan seringkali berhubungan seks dengan sesama jenis, berkeliaran ditempat-tempat tertentu yang dapat mengganggu ketertiban, keindahan serta keamanan lingkungan. Menurut moerthiko (1987:6) juga mengemukakan bahwa individu yang tidak jelas karakteristiknya sebagai laki-laki atau perempuan itu disebut oleh para ahli dibidang kelainan seks sebagai waria.
Waria merupakan potret buram suatu peradaban, yaitu suatu fenomena sosial yang menjadi bakat dari salah satu bentuk penyimpangan perilaku di masyarakat. Keberadaan Waria di masyarakat merupakan kenyataan yang sering kali eksistansi mereka tidak diakui masyarakat. Hal ini dikarenakan perilaku Waria dianggap tidak sesuai dengan norma-norma yang telah diterapakan oleh masyarakat. Akibatnya mereka terseret konflik besar yaitu konflik sosial. Konflik sosial banyak berkaitan dengan masyarakat, dimana masyarakat beranggapan bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang aneh dan sangat mengganggu. Pengertian mengganggu yang dimaksud adalah masyarakat merasa takut jika Waria mengadakan operasi di lingkungan mereka dan menyebarkan penyakit tertentu (penyakit kelamin).
Sebagai problem sosial pelacuran perlu penanganan yang serius agar tidak bertambah jumlahnya dari tahun ke tahun dan tidak berdampak negatif pada kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah dengan memberdayakan Waria melalui pembinaan-pembinaan yang berupa kecakapan hidup (life skill). Life Skill merupakan program Pendidikan Luar Sekolah berupa pemberian keterampilan-keterempilan yang nanti dibutuhkan oleh seseorang dalam menjalani kehidupan.
Pemberdayaan adalah sebuah proses yang menekankan bahwa orang memperoleh keterampilan, pengetahuan, dan kekuasaan yang cukup mempengarui kehidupannya dan kehidupan orang lain yang menjadi perhatiannya (Edi Suharto, 2005: 58). Pemberdayaan adalah suatu proses belajar dengan dengan melepas hal-hal yang terlah dimiliki, dengan tujuan membantu orang yang menjalaninya, untuk membetulkan dan mengembangkan pengetahuan dan kecakapan yang baru untuk mencapai tujuan hidup dan kerja, yang sedang dijalani, secara lebih efektif. Jadi para Waria perlu diberdayakan melalui pembinaan-pembinaan yang berupa pemberian keterampilan dan kecakapan hidup (life skill) yang nantinya life skill tersebut dapat digunakan untuk kembali pada kehidupan yang normal dan dapat diterima dalam masyarakat.
Dalam hal ini penulis mengambil pendidikan pemberdayaan waria melalui kursus salon yang merupakan salah satu pendidikan non formal yang diselenggarakan bagi masyarakat di Graha Mitra di jalan trajutrisno raya no. 20 Semarang yang memerlukan bekal pengertahuan kecakapan hidup (life skill) untuk mengembangkan profesi, bekerja dan usaha mandiri agar tidak kembali menjadi pekerja seks atau yang sering disebut nyebong.
Kursus salon merupakan salah satu program kecakapan hidup (life skill) yang dimaksud untuk memberikan bekal keterampilan praktis terkait dengan kebutuhan pasar kerja, peluang usaha, potensi ekonomi atau industri yang ada dalam masyarakat. Pendidikan keterampilan hidup (life skill) yang di berikan pendidikan luar sekolah adalah untuk meningkatkan pengetahuan keterampilan dan sikap warga belajar dibidang yang sesuai dengan kebutuhan, bakat dan minatnya sehingga mereka memiliki bekal untuk bekerja secara mandiri untuk dapat meningkatkan kualitas hidupnya.
Graha Mitra (GM) yang di Direkturkan oleh dr. Lies Agustin merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang menangani waria di jalan Trajutrisno No. 20 Semarang. Hal yang ditangani untuk mencegah penyebara HIV AIDS, dengan beberapa program. Yoyox sebagai manager di GM mengungkapkan bahwa jumlah Waria di kota Semarang berjumlah 400-500 orang. Meskipun mereka berprofesi sebagai Pekerja Seks Komersial ketika malam hari akan tetapi mereka memiliki kenginan untuk kembali sebagai masyarakat biasa yang mempunyai pekerjaan tetap sebagaimana masyarakat yang lain. Hal ini bisa mereka tempuh melalaiu program life skill. Namun life skill yang ditekuni dalam komunitas Waria ini adalah salon. Maka dengan ini peneliti tertarik meneliti dengan mengambil judul POLA PEMBERDAYAAN WARIA MELALUI KECAKAPAN HIDUP (LIFE SKILL) SALON DI KOTA SEMARANG (Studi Kasus di Trajutrisno No.20 Semarang).

Download dan baca selangkapnya

  POLA PEMBERDAYAAN WARIA MELALUI KECAKAPAN HIDUP (LIFE SKILL) SALON DI KOTA SEMARANG Di download (113,1 KiB, 627 hits)

PENDAHULUAN

COMMENTS

WORDPRESS: 2
  • comment-avatar

    Thankz to Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, kedua orang tua saya terutama bpk yg sdng sakit semoga lekas sembuh, bu emi selaku dosen pembimbing, dosen2 pls yg tlah mndukung kami, mz ronggo i loph u pull, salon rany, salon melly, salon tika, and temen2 pls yg sya banggakan, serta tmn2 yg lain yg tdk bisa saya sebutkan satu persatu,,

  • comment-avatar

    muup ada yg Lupa tox maz Yoyox selaku Manajer LSM Graha Mitra, maz Bambang selaku staf dari Gramit yg sangat membantu kami dlm mencari data penelitian ini, mba Veni yg memperkenalkan kami dgn Gramit,, makasih semua….