Reason Konsep Pendidikan Non Formal dan Pendidikan Luar Sekolah

sebelum ada konsep dan praktik-praktik PLS (Pendidikan Luar Sekolah), masyarakat atau unit sosial non formal telah memiliki sistem berbagi pengetahuan...

Pedoman Umum Program Keluarga Harapan 2016 – PKH
Mengenal Lebih Dekat Prof Muhadjir Effendy Menteri Pendidikan Reshuffle Jilid Ii

sebelum ada konsep dan praktik-praktik PLS (Pendidikan Luar Sekolah), masyarakat atau unit sosial non formal telah memiliki sistem berbagi pengetahuan, ilmu dan keterampilan diantara warganya, yang kemudian dinamakan dengan pranata (sistem) pendidikan nonformal. Dalam prosesnya dilandasi oleh suatu kesadaran bahwa masyarakat itu tiada lain adalah bentuk dari keluarga yang telah meluas extended family (gemeinscaft by blood/ gemainscaft by place) saja. Maka dahulu sebelum warga-warga masyarakat terkontaminasi oleh konsep PLS dan terpengaruh oleh praktik-praktik PLS , setiap warga masyarakat menganggap bahwa warga masyarakat lainnya itu adalah saudara. Apalagi bagi umat Islam. Bukankah kata Rassulullah setiap orang Islam itu bersaudara. Sehingga dalam pelaksanaan transfer /transformasi /internalisasi pengetahuan, ilmu dan keterampilan atau proses pendidikan nonformalnya pun tidak perlu transaksional (masak ke saudara sendiri segalanya harus perhitungan). Tidak perlu program, tidak perlu tempat yang khusus. Proses pendidikan non formal bisa berlangsung dimana saja, mengenai apa saja, dengan siapa saja serta kapan saja. Tidak dibatasi ruang waktu dan tempat. Sehingga ketidak adaan gedung, ketidak adaan uang , ketidak adaan undang-undang atau regulasi, ketidak adaan nara sumber, ketidak adaan legelisasi profesi tidak menjadi factor penghambat dalam upaya mendapatkan pengetahuan, ilmu dan keterampilan. Adapun praktek transaksional, program, tempat yang harus khusus untuk pendidikan dan keharusan formal lainnya adalah tiada lain merupakan konsep dari produk berpikir formal yang didapat dari pendidikan formal sebagai turunan (implementasi/manifestasi) dari madzhab ilmu positivistik yang sebenarnya hanya cocok untuk pranata (sistem) unit sosial formal saja, karena sesuai dengan hakekatnya sebagai kesatuan manusia yang sengaja di bentuk untuk mencari pamrih duniawi semata…Apa kaitannya PLS dengan positifistik…Bagaimana reasonnya positifistik bisa mewujudkan unit social formal include di dalamnya system pendidikan formal …Bagaimana akibatnya bila berfikir dan praktik-praktik formal (PLS) dipaksakan dalam praktik-praktik  pendidikan in formal dan nonformal…Apa kaitannya madzhab positivistic dgn konsep dan terwujudnya kondisi modern…Ada grand planning apa dibalik upaya getol mereka-mereka yang dari luar dalam mendifusikan, mensosialisasikan, mentranformasi, internalisasikan, mempranatakan (institution), melembagakan (institute), Positifistik …padahal dinegara mereka sendiri praktek-praktek nya tidak persis seperti di Negara kita….Adakah dictum-diktum ilmiah yang diselewengkan atau disembunyikan???…..

Bagi teman-teman yang bersedia diskusi, mari kita diskusi dgn ikhlas spt cara diskusinya para sahabat Rosul dan seperti diskusinya para pelopor filsafat yaitu Socrates dan Plato dan murid lainnya yaitu Aristoteles yang walaupun berbeda dalam beberapa hal…. Mudah-mudahan insight haq yg bisa kita dapat.
Di Tulis Oleh

COMMENTS

WORDPRESS: 0