Satya Lencana Karya Satya Jadi kebanggaan

0
Dibaca 320

Satya Lencana Karya Satya Jadi kebanggaan. Sungguh, siapa pun orangnya, jika berkesempatan menerima tanda penghargaan satya lencana karya satya dari pemerintah, pastilah bangga dan senang. Apalagi untuk mengikuti upacara itu difasilitasi instansinya, mulai dari tiket pesawat pulang pergi, tidur di hotel berbintang dan uang saku yang diambilkan dari anggaran rutin. Opo ora penak bro? …

Wikipedia mengatakan bahwa satya lencana karya satya itu merupakan sebuah tanda penghargaan yang diberikan kepada pegawai negeri sipil yang telah berbakti selama 10 atau 20 atau 30 tahun lebih secara terus menerus dengan menunjukkan kecakapan, kedisiplinan, kesetian dan pengabdian sehingga dapat dijadikan teladan bagi setiap pegawai lainnya.

Sehingga wajar jika si penerima lencana itu merayakannya dengan berbagai cara dan gaya saat mengabadikan prosesi penyematannya dari berbagai sisi. Mulai dari selfi sendiri di kamar hotel, di halaman, saat makan gratis bersama di hotel, juga di tempat upacara bersama peserta dari daerah lain pun tidak luput dari jebretan ponsel canggihnya.

Ya, itulah sifat hakiki manusia, Suka pamer akan prestasinya. Padahal cara memperolehnya itu terkadang (bahkan sering kali) tidak sesuai aturan, seperti ngemis-ngemis lewat lobi pribadi. Padahal sesungguhnyalah lencana penghargaan yang diperoleh itu kurang membawa dampak positif terhadap peningkatan kinerja (seperti yang penulis alami … hehehehe). Sejujurnya lencana itu hanyalah simbul kebanggaan sesaat untuk kemudian dilupakan. Kembali sibuk rebutan rejeki kantor tanpa peduli halal haramnya.

Ya, memang setiap pegawai berkesempatan menerima lencana, hanya soal waktu. Namun, penentuan siapa yang diusulkan menerima lencana itu sering kali tidak adil. Penulis pernah mengalami. Dimana, seharusnya penulis lebih dulu menerima lencana sesuai masa kerja pengabdian, tetapi nyatanya diserobot karyawan lain yang lebih direstui pimpinan.

Dan seperti biasanya, mereka yang merasa terzolimi, tidak kebagian akan merasa diperlakukan tidak adil kemudian ngeroweng, semetara diam seribu bahasa ketika diajak bersama makan rejeki. Itulah sifat manusia, sifat kita semua yang sering kali berlindung dibalik penampilan bijak dan agamis hanya sekedar untuk mengkamlufasekan keculasan untuk mengamankan kepentingan pribadi, termasuk berusaha secepatnya mendapat satya lencana karya satya, padahal sesuai aturan,yang berlaku, belum waktunya menerima. Ya, almarhum Adam Malik memang pernah bilang, semua bisa diatur. [eBas]

Penulis:

EDI BASUKI

3 MEI 2017

Tinggalkan Balasan