Sebagian orang rimba menilai, pendidikan formal dapat merusak adat istiadat rimba

Sebagian orang rimba menilai, pendidikan formal dapat merusak adat istiadat rimba,  Sebanyak sembilan orang anak rimba yang bermukim di kawasan sebany...

Menarik itu Pendidikan Luar Sekolah
Lunturnya Budaya Jawa di Era Globalisasi

Sebagian orang rimba menilai, pendidikan formal dapat merusak adat istiadat rimba,  Sebanyak sembilan orang anak rimba yang bermukim di kawasan sebanyak sembilan orang anak rimba yang bermukim di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), Provinsi Jambi, dijadi kader pendidikan bagi kelompok orang rimba yang ada di daerah tersebut.

“Kami akui memang, proses pengenalan pendidikan bagi orang rimba di Jambi cukup berat dan sulit. Untuk itulah, kami dari Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi mencoba menggandeng anak rimba sebagai kader pendidikan,” kata Robert Aritonang, Koordinator Program KKI Warsi, kepada wartawan, Senin, 9 Juli 2012.

Menurut Robert, KKI Warsi sebagai salah satu lembaga pemerhati orang rimba di Jambi, telah memperkenalkan proses pendidikan bagi suku-suku terasing yang ada di daerah ini sejak 1990-an.

Dia mengakui, upaya proses pengenalan pendidikan bagi orang rimba atau biasa disebut Suku Anak Dalam (SAD) cukup sulit. Mengingat, ada beberapa kelompok orang rimba yang justru menolak, bahkan menentang pendidikan formal, seperti membaca maupun menulis.

“Sebagian orang rimba menilai, pendidikan formal dapat merusak adat istiadat rimba. Ditambah lagi kendala orang rimba yang selalu berpindah-pindah atau melangun,” ujarnya.

Sebagai upaya memperkenalkan dunia luar kepada anak rimba, KKI Warsi kemarin sengaja membawa tujuh orang kader pendidikan itu ke Kota Jambi untuk mengunjungi beberapa sekolah, perpustakaan, balai latihan kerja, museum, dan beberapa tempat lainnya.

“Program mengajak anak rimba ke tempat-tempat itu kami namakan pendidikan kecakapan hidup. Artinya, kami mencoba mengenalkan kepada anak rimba, bagaimana orang luar bekerja, sekolah atau menjalankan aktifitasnya. Anak rimba nantinya bisa memilih, apakah akan hidup sebagai orang rimba atau akan berbaur seperti layaknya manusia lain yang hidup diluar kawasan hutan,” kata Robert.

Tembeko, 15 tahun, salah seorang kader pendidikan mengaku sudah duduk di bangku kelas dua sekolah menengah pertama (SMP). Dirinya berharap bisa memperoleh pendidikan layaknya siswa formal lainnya, salah satunya bisa mendapatkan pendidikan gratis.

Menurut Tembeko, anak rimba tidak banyak mengenal pendidikan. Dirinya bersama delapan kader pendidikan lainnya tidak hanya sekolah, namun juga ikut mengajari anak anak rimba lainnya yang tinggal di dalam hutan.

“Biasanya kami pagi bekerja mencari getah jernang atau karet, baru siang sekolah dan waktu malam, kami ikut mengajari membaca atau menulis kawan-kawan lain di dalam hutan yang tidak ikut program kelas jauh,” ujarnya.

Betegu, 13 tahun, salah seorang anak rimba lainnya mengakui, ada beberapa kelompok orang rimba yang menentang pendidikan bagi anak rimba.

“Bahkan ada kelompok yang melarang anaknya menikah dengan anak rimba yang sudah mengenal pendidikan. Untuk mengajak belajar juga terlebih dahulu harus dirayu agar mau belajar,” kata siswa SMP yang mengaku bercita-cita menjadi seorang peneliti ini.

Berdasarkan data KKI Warsi, populasi orang rimba di Provinsi Jambi mencapai 3.500 orang, sebagian besar menyebar di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas di Kabupaten Batanghari, Tebo, Sarolangun, dan Kabupaten Bungo.

Hingga kini, orang rimba yang sudah tamat sekolah mulai SD, SMP, dan SMA baru sebanyak 47 orang.

Menurut Robert, fasilitas pendidikan bagi anak rimba masih kurang. Sekolah yang tercatat memberlakukan program sekolah satu atap bagi anak rimba, baru ada dua sekolah, terletak di Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten Tebo.

COMMENTS

WORDPRESS: 1
  • comment-avatar

    mungkin mereka belum mengetahui bagai mana kenerja pendidikan non formal kali, sabar lah maju terus dalam berinteraksi pd mereka, perlu sosialisasi yang apiksecara pisikologi ……