Sekolah Buat Apa? Pendidikan dan Uang (Life-long education)

Sekolah Buat Apa ???? (Life-long education) Sekolah Buat Apa? Pendidikan dan Uang (Life-long education) Belajar adalah sebuah aktivitas untuk mencari ...

Antropologi Pendidikan untuk Pendidikan Non Formal
De Biography “kenali betul significant others-mu, maka kau akan menjadi significant others”

Sekolah Buat Apa ???? (Life-long education)

Sekolah Buat Apa? Pendidikan dan Uang (Life-long education) Belajar adalah sebuah aktivitas untuk mencari informasi hingga pada akhirnya akan membentuk pengetahuan dan karakter. Menurut Imam Syafi’I, ada 6 syarat dalam hal belajar atau mencari ilmu, yaitu:

  1. cerdas
  2. semangat
  3. sabar
  4. .biaya
  5. guru
  6. waktu

cover buku Buat Apa Sekolah - bag. depan

Dari keenam hal tersebut, kita bisa kaitkan dalam proses pengalaman belajar. Ketika kita berbicara mengenai pengalaman belajar (baik dalam ranah formal, informal, maupun nonformal), hal ini langsung berkaitan dengan bagaimana seseorang akan melakukan suatu hal hingga dapat menciptakan sebuah inovasi baru dalam aktivitasnya. Bisa kita ambil contoh adalah pedagang keliling. Pedagang keliling setiap hari selalu belajar bagaimana ia menjual dagangannya, berangkat dari pagi hingga sore sehingga ia akan menemukan banyak pengalaman dari aktivitasnya tersebut. Satu pertanyaan yang sering kita dengar adalah “Kita sekolah, kita belajar ini itu untuk apa?”

Pendidikan dan Uang

Inilah yang menjadi fenomena “negatif” yang menjadi topik tren di masyarakat tentang banyaknya pengangguran yang terdidik.

Banyak sekali ungkapan-ungkapan “negatif” tentang belajar, misalnya “Ah, ngapain sekolah nanti juga jadi pengangguran”.

“Sekolah tinggi-tinggi kok cuman jadi pedagang kaos”. “sekolah tinggi-tinggi nanti juga akhirnya ke dapur juga”.

Pendidikan bukanlah sarana untuk menjadi orang kaya dengan harta. Pendidikan adalah sebuah proses yang mengajak manusia agar ia dapat berfikir, dan dapat menemukan kebenaran yang seungguhnya. Pendidikan adalah proses mencari kebenaran. Pendidikan bukanlah sarana mencari kesalahan. Pendidikan memiliki manfaat tentang terbentuknya manusia yang mau berfikir. Sayangnya, anak-anak zaman sekarang yang hidup di era serba instan ini ketika menilai bahwa pendidikan (dalam konteks persekolahan) adalah sarana untuk mencari uang sebanyak-banyaknya. Banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya ke sekolah-sekolah yang mahal hanya karena agar anak mereka memiliki jabatan yang tinggi. Banyak remaja-remaja yang memiliki kriteria ideal yaitu kalau mereka hidup dengan uang banyak, mobil mewah, dan atau rumah mewah.

Mungkin kita sudah lupa dengan hadist tentang manfaat ilmu:

”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”. (HR. Turmudzi)

Memang sekolah tidak akan membuat kita kaya raya. Akan tetapi, dengan kita sekolah kita akan menjadi pribadi yang berpendidikan. Dengan belajar di sekolah (baik formal maupun non formal) kita akan banyak menemukan pengalaman serta inovasi-inovasi baru untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia khususnya diri sendiri. Setelah menemukan solusi, kita bisa berbagi solusi tersebut kepada banyak orang khususnya masyarakat atau lingkungan sekitar. Kemudian secara tidak langsung kita akan membantu masyarakat, apakah melalui ide kita, karya kita, atau keterampilan yang telah kita kuasai.

Belajar dan mengajar

Kita tahu bahwa belajar tidak hanya pada bangku sekolah formal. Dalam pendidikan non formal (seperti keagamaan, keterampilan, dll) kita juga bisa belajar. Belajar dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Kemudian, setelah kita belajar, kita juga punya hal lain yang tidak kalah dengan belajar, yaitu “mengajar”.

 Semua manusia terlahir dengan dua kecenderungan. Kecenderungan untuk belajar (mencari kebenaran/ rasa ingin tahu) dan kecenderungan untuk memberikan pengetahuan yang ia dapat. Misalnya, pada saat sekolah ada seorang anak bernama Cindy. Cindy gadis kecil yang selalu ingin tahu. Ketika di sekolah, guru menjelaskan tentang gerhana matahari, Cindy tak puas dengan penjelasan guru. Kemudian Cindy mencari dan memperdalam materi itu dari internet ataupun yang lainnya. Pada suatu hari ketika teman-temannya ingin tahu tentang materi gerhana matahari, Cindy menjadi sumber bagi teman-temannya. Dalam hal ini, Cindy sudah melakukan dua aktivitas sekaligus yaitu belajar dan mengajar. Belajar ketika Cindy bersusah payah memperdalam materi danteach ketika Cindy menjelaskan materi kepada teman-temannya yang belum paham. Kita semua memiliki dua kemampuan tersebut, tapi kadang kita sering tidak percaya pada diri sendiri bahwa kita tidak bisa melakukan aktivitas yang dinamakan mengajar.

Seperti yang kita tahu tentang belajar dan mengajar, kita tahu tentang sebuah aktivitas-aktivitas antarindividu satu lain dan individu lain dalam sebuah kegiatan yang saling mengisi satu sama lain. Mengapa ?

Kita bisa lihat hadits berikut ini:

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Selain dengan hadits, kita juga bisa menggunakan dengan analogi sederhana tentang hal ini. Proses belajar dan mengajar ini ibarat lilin yang saling menyulutkan api dari lilin satu ke lilin yang lainnya. Misalnya, dalam sebuah ruangan gelap ada 5 lilin. Lilin pertama kita namakan A, lilin kedua kita namakan B, lilin ketiga kita namakan C, keempat D, kelima E. Pada suatu waktu, lilin A telah dinyalakan. Setelah lilin A dinyalakan, lilin tersebut menerangi kegelapan, tetapi keadaan masih gelap. Kemudian lilin A menyulutkan api kelilin B, lilin B menyulutkan api ke C, C menyulutkan api ke D, dan hingga ke lilin E. Setelah semua lilin menyala, ruangan menjadi sangat terang. Cerita tentang lilin tersebut ibarat keadaan kita yang saling belajar dan mengajar satu sama lain. Jika kita hanya menjadi pembelajar saja, kita tak bisa menjadi agen perubahan dalam lingkungan.

Maka dari itu, dibutuhkannya aktivitas learn & teach agar dapat saling mengingatkan satu sama lain untuk kemajuan.

Belajar saja tidak cukup, tapi juga perlu mengajarkan karena dengan mengajarkan itu kita mendapat 2 ilmu. Mengapa? Jika kita belajar kita hanya mendapat satu ilmu, dan jika kita mengajarkan kita mendapat dua bahkan lebih ilmu yang tidak terduga. Misalnya, pada suatu waktu kita belajar bahasa Inggris, kita datang ke tempat kursus, kita belajar. Sudah cukup sampai disitu saja jika kita hanya belajar. Akan tetapi, jika selain belajar kita melakukan aktivitas mengajar/teach kita mendapat banyak ilmu seperti : cara berkomunikasi, gaya mengajar, dapat kenalan banyak, atau malah siapa tahu nanti jadi trainer (kan kita tak tahu apa yang di depan).

Belajar dan mengajar adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. belajar dan mengajar

bisa dilakukan oleh siapapun, dimanapun, dan dengan siapa pun. Tidak ada yang namanya BISA dan TIDAK BISA, yang ada hanyalah MAU dan TIDAK MAU.

By : Ari Tri Winarno Great Teacher Ary Senpai Freelance 3D animation tutor Aktivis Pengembang Media PNF
aryistimewa@gmail.com
https://www.facebook.com/pages/Great-Teacher-Ary-Senpai/1560478880831988?ref=bookmarks

COMMENTS

WORDPRESS: 0