SUDAHLAH SAYA BERHENTI MENULIS

SUDAHLAH ¦ ¦.SAYA BERHENTI MENULIS Lama sudah tulisan terbina, kata telah terbang. Menyatu terbingkai alam pikiran. Dibingkai sebuah kenyataan, harus ...

My Dreams Become True
Berilmu dalam PLS

SUDAHLAH ¦ ¦.SAYA BERHENTI MENULIS

Lama sudah tulisan terbina, kata telah terbang. Menyatu terbingkai alam pikiran. Dibingkai sebuah kenyataan, harus secepatnya dituliskan. Sebab tak terbiasa rasanya,jika  lama aku harus terdiam. Tanpa bisa melawan gairah menggoreskan catatan. Kata demi kata, bersambung bersama kalimat. Tak sadar, wahai pena engkau mengalirkan paragraf.

Setiap fajar menjelang, selalu ada keinginan dan harapan. Membuat sebuah inspirasi baru. Untuk semua manusia, khususnya sidang pembaca. Mencoba berhenti, tangan sulit melepaskan dan menghindar. Pena tak mau diam, terus menari mengalirkan semangat dan gelombang.

Wussssssss ¦ ¦

Sederetan kata, mulai dari A sampai Z. Kadang mencoba mengelak. Meski sadar tak pernah bisa dan mungkin tak pernah terbiasakan. Sempet berpikir, ini virus apa sehingga membuatku gila. Ada seorang penulis memberikan jawabannya.

“Ayo nak, sebarkan virus menulis “ ujar Teh Pipit, seorang penulis produktif.

Wah niat hati berhenti, apa daya motivasi terus menginspirasi. Bingung, kalut, sebel, kesel dan entah perasaan apalagi.

Berjumpa tiap hari, selalu pikiran terecokin virus menulis. Jalan pagi, ikut seminar atau kegiatan apa saja. Selalu berharap ada yang dituliskan. Buat apa yah? Mencoba dicari berbagai alasan. Mulai dari mengikat ilmu, mewariskan pemikiran, menuangkan kekesalan, membagi inspirasi dan kepedulian. Pokoknya apapun niat berhenti menulis, selalu ada berjuta alasan mengapa menulis.

Hmmmmm ¦ ¦

Kalau mau bercurhat ria, rasanya sejarah patut jadi ukuran. Masa lalu, masa sekarang dan masa datang, begitu sering aku mendengar pembicaraan sejarah. Mulai dari orang ngobrol di warung. Mungkin tersasar sampai anggota dewan, semua sepakat definitive sejarah.

Ada yang salah, aku pikir tidak. Setiap sejarah manusia pantas dikenang. Masalahnya mau dikenang saja besok menghilang atau mau dituliskan. Toh banyak penulis, sejarah menulisnya menjadi buku berawal dari diary. Kadang kumpulan esai, cerpen, puisi eh malah jadi sebuah buku. Dibaca banyak orang dan ada seni pewarisan hidup yang sulit terlukiskan.

Ada sebuah kisah mengapa aku berpikir berhenti menulis.

Suatu ketika, frustasi mendera. Berbagai tulisan selalu gagal menembus majalah, koran   dan entah media apalagi namanya. Semua menyisakan kekecewaan. Tapi juga meninggalkan sebuah rasa kepenasaran. Mengapa mereka bisa, sementara aku gagal. Dimana letak kesalahan aku menulis essai, puisi atau cerpen ini.

Seorang teman sempat diminta menjadi kritikus. Ada sebuah cerpen akhirnya berhasil diluncurkan. Satu, dua, tiga hari aku menunggu. Tak sabar rasanya mendengar “ocehan temenku itu.   Berkali kali bertanya. Tak ada jawaban memuaskan.

“Sebentar gar, belum selesai diberikan catatan kritis alasan itu meluncur dari mulutnya.

Selang beberapa hari, diriku mendapat kiriman itu. Sebuah catatan atas cerpenku. Rasa berdebar menyelimuti pikiran, hati dilanda kegersangan dan berma cam kekhawatiran.

Aku perlahan membuka cerpenku ¦.

Pedas, keras dan menghujam. Menusuk menembus hatiku. Komentarnya membuat mataku terbuka. Satu, dua, tiga kritikan melampirkan pujian. Sebagian lagi (sebagian besar kali yah) membuatku diam. Terpaku dan sejenak mengambil kesimpulan. Ada yang salah dalam tulisan cerpenku. Tak hanya satu dan dua, tapi banyak.

Sejak itu aku berhenti menulis ¦..

Semangat menulis kembali tumbuh. Bersemi dan bersinar penuh cahaya. Kalimat dalam buku Ibu Afifah Afra, menggugah semangat. Tulisan adalah sarana mengikat ilmu. Tidak hanya mengajr ketenaran, kebanggaan dan dimuat media. Selama niat baik berhembus, dunia akan mengikuti.

Belajar sejenak dari kisah berikut ¦.

Dalam sebuah training, diceritakan bagaimana acara berlangsung meriah. Ratusan peserta memadati ruangan. Ada seorang trainer muda dan terkenal. Dia akan memberikan materi training dashyat. Wajar rasanya jika peserta membludak.

Training berlangsung santai, tapi penuh semangat. Saking bersemangat., banyak peserta terkesima atas penampilan sang trainer dalam memaparka materi. Waktu berlangsung singkat dan cepat. Usai sudah agenda training tersebut.

Peserta pulang, membubarkan diri. Sibuk mengurus agenda masing masing. Panitia saking menikmati training, lupa menulis notulensi. Panitia mengumumkan di mic, “Siapa dari peserta yang menulis materi training tadi? Tanya panitia. Semua diam, tak ada jawaban dan sibuk urusan masing masing.

Sebelum training dimulai, ada seorang peserta berinisiatif bagus. Dia   kebetulan mengambil kertas tisu lusuh.  Sebuah pulpen dikeluarkan. Selama training berjalan, dia sempatkan menulis materi training. Ketika ada pertanyaan dari panitia melalui mic. Dia bingung, bagaimana mungkin tak satupun peserta menulis materi tadi. Akhirnya dia berinisiatif menyerahkan hasil tulisannnya kepada panitia.

Saya terinspirasi kisah itu. Semangat menulis kembali berhasil dihadirkan. Tak sabar terus diam. Menulis itu menuai banyak manfaat. Jadi, jika anda berpikir berhenti menulis. Tanyakan pada diri Anda, apa manfaat dan cari seribu alasan mengapa Anda menulis.

Matraman, Jakarta

Rabu, 21 Juli 2010

Dalam kebuntuan menulis esai

20.15 WIB

COMMENTS

WORDPRESS: 2
  • comment-avatar

    ketika nafsu ingin menulis, langsung aja ambil pena dan menulis, menulis apa saja, yg penting menuangkan ide ke dlm tulisan. Ya menulis sejatinya kan mengalihkan obrolan cangkem ke media tulisan, jadi kalo orang yg suka ngobrong gak bisa menulis ya ……….

  • comment-avatar

    ketika nafsu ingin menulis, langsung aja ambil pena dan menulis, menulis apa saja, yg penting menuangkan ide ke dlm tulisan. Ya menulis sejatinya kan mengalihkan obrolan cangkem ke media tulisan, jadi kalo orang yg suka ngobrong gak bisa menulis ya ……….