Terus, Kalo Gue Lulusan PLS Gue Harus Bilang Waow,Gitu!! (Part 2)

Terus, Kalo Gue Lulusan PLS Gue Harus Bilang Waow,Gitu!! (Part 2) Sebuah Coretan Kecil Mahasiswa PLS Tentang Jurusan PLS (Part 2). Berbicara mengenai ...

Membuat Gravatar Supaya Komentar Memiliki Foto Pribadi
The reasons why I choose PLS

Terus, Kalo Gue Lulusan PLS Gue Harus Bilang Waow,Gitu!! (Part 2)

Sebuah Coretan Kecil Mahasiswa PLS Tentang Jurusan PLS (Part 2). Berbicara mengenai lulusan PLS memang tidak habisnya, karena sampai saat ini tidak ada kejelasannya mau dibawa kemana lulusan PLS ini. Teringat perkataan dosen saya dalam suatu diskusi, “Kebanyakan orang-orang PLS mengecilkan diri sendiri, jika kita pahami PLS bisa masuk kemana saja kesemua aspek kehidupan, dimana saja, kapan saja, apa saja bisa menjadi garapan PLS tergantung bagaimana cara kita mengemasnya sehingga menjadi suatu bentuk kegiatan PLS yang mempunyai ciri khas ke-PLS-annya”,dan juga seorang pejabat direktorat yang berucap dalam sebuah forum audiensi,” Jangan hanya berpikir setelah lulus lantas menjadi pegawai negeri, banyak peluang kerja lain. Lapangan kerja bagi lulusan PLS terbuka luas, mulai dari tenaga pengajar, pengelola lembaga PAUD, lembaga kursus dan berbagai bidang lainnya.”

Sepenggal wejangan praktisi dan pejabat itu terkesan seperti pisau bermata dua yang tumpul. Satu sisi hal tersebut merupakan cambuk buat mahasiswa PLS untuk terus berpacu dalam realita lulusan PLS namun di sisi lain hal tersebut juga terkesan hanya untaian rektorika yang tidak ada hal yang bisa membuktikannya. Seolah-olah mahasiswa PLS dituntut untuk menjadi single fighter dalam menghadapi pertempuran ini. Bukan maksud hati untuk memerintah atau mengeluh, namun lebih ke arah penguatan gerakan agar menjadi gerakan yang massive dan bisa menghancurkan dinding keraguan dan kegalauan para mahasiswa PLS di Indonesia.

Untuk itu melalui tulisan ini,marilah kita coba refleksikan kembali sepak terjang jurusan ini. Kiranya perlu ada yang segera disempurnakan bahkan direformasi terkait apa yang belum menjadi jawaban dari kekhawatiran kita. Beberapa keluhan yang menjadi kekhawatiran mahasiswa dan lulusan mengenai lulusan PLS ini ada beberapa poin yang seperlunya dan kiranya perlu dijadikan bahan pertimbangan untuk membuat jurusan PLS ini bisa menjawab kekhawatiran dan menjawab tantangan pendidikan di masa depan.

 

Mahasiswa

Sejak memasuki dunia perkuliahan, hampir sebagian besar mahasiswa belum paham betul mengenai konsep dan filosofi pendidikan luar sekolah. Hal ini berdampak pada motivasi mahasiswa untuk memahami konsep dan filosofi PLS. Seiring dengan perkembangan zaman kebanggaan mahasiswa sebagai agent of change dan maha dari segala pelajar kian luntur dan keinginan untuk menggali pengetahuan kian terkikis dengan hedonitas di dunia kampus. Bahkan yang lebih parah lagi tidak adanya jiwa kemandirian dan inovasi yang merupakan icon mahasiswa pada umumnya. Dalam menempuh perkuliahan dan mengerjakan tugas dari bapak ibu dosen tidak jarak mereka kerap mengandalkan jurus copy paste dari mbah gugle yang merupakan guru terbaik dikala kesulitan yang mereka peroleh. Seharusnya untuk menjawab tantangan zaman dan memenuhi kebutuhan pendidikan dari tahun ke tahun yang mengalami dinamika hidup, mahasiswa dituntut untuk memiliki skill tertentu. Kadang, ilmu di bangku kuliah tidak akan cukup untuk meningkatkan dan menumbukan skill bagi seorang mahasiswa. Maka dengan itu perlunya ilmu-ilmu dari luar bangku perkuliahan semisal jurnalistik,computer, seni, kecakapan rektorika, manajemen dll. Dengan skill tersebut besar peluang bagi mahasiswa PLS untuk “menjual dirinya” dalam hagemoni relevansi jurusan PLS.

 

Dosen

Tidaklah munafik bahwasanya kehadiran dosen adalah faktor utama jurusan PLS dalam menjawab tantangan pendidikan. Betapa tidak, karakter dosen yang keras,lembut, displin, sering tidak hadir pada saat mengajar, easy going dll dapat mempengaruhi mutu lulusan PLS kedepan. Background dosen yang sebagian besar bukan berasal dari dunia kerja bahkan mungkin sama sekali tidak pernah mencicipi dunia kerja di luar bidang akademis. Kalau mereka mengatakan tahu tentang seluk-beluk dan permasalahan yang terdapat di dunia kerja, itu hanya merupakan cerminan dari ungkapan pengalaman orang lain atau hasil dari membaca buku. Sangat mungkin orang akan melebih-lebihkan atau meremehkan situasi dunia kerja, sehingga kurang proporsional dengan stigma dunia kampus. Dosen yang tidak pernah tahu secara persis dan proporsional tentang situasi dunia kerja ini lebih banyak dikondisikan oleh pola pikir yang ada di buku-buku, dan di-“nina-bobo”-kan oleh teori-teori yang diyakininya sebagai kebenaran.
Pihak jurusan juga harus proaktif untuk mengirim dosen-dosennya melakukan penelitian yang bermutu di lembaga yang terkait dengan lulusan PLS. Tidak hanya semata-mata melakukan penelitian dengan profit oriented tapi dilandasi dengan semangat dan tanggung jawab terhadap lulusan yang dihasilkannya. Sampai saat ini, seolah-olah seorang lulusan PLS dianggap sudah cukup kompeten untuk mangajar begitu ia memperoleh ijazah sarjana. Mau ngajar apa lulusan PLS? Padahal ia harus terus meningkatkan kemampuannya dengan belajar secara formal pada strata yang lebih tinggi, dan secara nonformal melalui keterlibatan langsung dalam mempelajari dan mengatasi permasalahan di dunia kerja.

 

Manajemen Pendidikan

Poin terakhir dan (mungkin) sangat penting dari beberapa poin sebelumnya adalah terkait manajemen pendidikan. Selain sebagai induk dari proses pembentukan ruh PLS ,keberadaan manajemen pendidikan merupakan barometer lulusan PLS dalam menghadapi realita pekerjaan. Di dalam sebuah manajemen pendidikan sudah termaktub adanya kurikulum dasar dan terapan yang diampu oleh mahasiswa tentunya. Keberadaan kurikulum ini nantinya sebagai tunggangan para pelaku pendidikan baik itu dosen maupun mahasiswa dalam mengarungi bahtera jurusan PLS.

Hal yang perlu digarisbawahi dalam kurikulum adalah relevansi muatannya.Dalam kurikulum tersebut haruslah menyajikan pendidikan yang berkualitas dan menyesuaikan kurikulum tersebut agar sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Selain itu relevansi mengacu pada peran jurusan PLS dalam menunjang pertumbuhan ekonomi melalui sumbangan-sumbangannya terhadap dunia kerja, dan dalam mendefinisikan perannya dalam keseluruhan sistem pendidikan yang ada. Beberapa jurusan PLS di perguruan tinggi tertentu sebagian besar telah menerapkan inovasi kurikulum dalam proses perkuliahan. Tengok saja, ketika pembentukan konsentrasi atau peminatan kemampuan mahasiswa dalam memilih fokus kajian PLS. Beberapa konsentrasi tersebut sangat sesuai dengan kebutuhan dunia kerja semisal manajemen pemberdayaan masyarakat,pelatihan dan kursus dan manajemen pendidikan anak usia dini dll. Ini membuktikan bahwa sudah sepatutnya PLS bisa menjawab semua kebutuhan yang ada di lingkungan masyarakat.

Salah satu kurikulum dalam manajemen pendidikan jurusan PLS yang diterapkan adalah program praktik pengalaman lapangan atau magang atau praktik kerja lapangan atau apalah itu namanya. Secara definitive program tersebut merupakan kegiatan pembinaan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi. Kegiatan ini secara langsung akan menambah pengetahuan dan menjadi bekal bagi mahasiswa dalam penerapan ilmu di bidang pelaksanaan pendidikan sehingga pengalaman di lapangan diharapkan mampu memperdalam pemahaman ilmu pendidikan luar sekolah di bangku perkuliahan. Umumnya sasaran program magang ini adalah lembaga-lembaga yang secara historic melaksanakan program PLS misalnya lembaga kursus dan pelatihan, PAUD, PKBM, SKB, BPPAUDNI, serta instansi di bawah naungan Kementrian Sosial dan Kementrian Dalam Negeri bahkan Dinas Kabupaten atau Kota setempat. Tidak salah beberapa tempat ini memang secara historik melaksanakan kajian ke-PLS-an. Namun hal yang perlu dikritisi adalah apakah sudah efektif pelaksanaan program ini di beberapa jurusan PLS??Efektif dalam hal ini adalah mengenai korelasi antara program mata kuliah dengan tempat praktikum yang dijadikan sasaran program magang. Ada sebagian berpendapat tempat yang paling cocok dalam melaksanakan program magang adalah di PKBM dan SKB. Hal ini memang benar namun masihkah perlu mahasiswa PLS terus menerus diperkenalkan dengan hal itu. Hal yang menjadi beban pikiran penulis adalah sudah selayaknya mahasiswa PLS ber-magang di istansi-instansi lain penyelenggara program PLS, bukannya ruang kajian PLS itu luas dan tidak semata-mata hanya instansi itu-itu saja. Salah satu contoh dari pelaksanaan program PLS adalah dalam bidang Industri, banyak dosen PLS yang bergembargembor bahwa lulusan PLS bisa mengelola CSR di suatu perusahaan. Padahal tugas pendidikan luar sekolah pada suatu industri pada umumnya untuk membelajarakan peserta didik dan masyarakat sehingga mereka dapat mempersiapkan dan meningkatkan kemampuan bekerja dan berusaha, menyesuaikan dan mengembangakan kemampuan diri di dalam kehidupan keluarga, lingkungan kerja, dan masyarakat serta melaksanakan tanggung jawabnya sebagai warga Negara. Hal ini searah dengan salah satu peran CSR sebagai program pengembangan masyarakat. Sudah selayaknyalah PLS mulai meliriknya sebelum penyesalan menghampiri.

Untuk itu, jurusan PLS sepatutnya menyediakan fasilitas cukup memadai dan kesempatan cukup luas agar mahasiswa berlatih mempersiapkan sikap profesional dan minat keahlian sewaktu mereka memasuki dunia kerja. Apabila lulusan yang berhasil (amin) ternyata lebih banyak didasarkan pada usaha sendiri, sedangkan pihak jurusan PLS kurang memberikan dukungan memadai, maka bisa dikatakan manajemen pendidikan masih belum dilakukan secara optimal. Akan sedikit lebih baik apabila pihak jurusan sanggup memberikan “jalan terang” bagi calon sarjana PLS untuk menjalin kerjasama dan hubungan mesra dengan lembaga penyelenggara program PLS.

Tulisan ini hanyalah sebuah coretan kecil dari beberapa coretan besar yang tumbuh dan berkembang di benak mahasiswa PLS. Harapan yang tinggi dan realita yang ada membuat proses dinamika menuntut ilmu sedikit mengalami gesekan. Kendati demikian, tidak menyurutkan semangat perjuangan dalam menjawab tantangan pendidikan di masa depan,  sebelum semuanya terlambat mantapkan diri dan kuatkan iman ketika “penjajahan” terus menggerogoti jurusan ini. 

 

Oleh
Wandeera
PLS UM 

 

Nb: Silahkan tinggalkan jejak komen (kritik, saran, pendapat dll)  untuk tulisan ini.
terimakasih 

COMMENTS

WORDPRESS: 1
  • comment-avatar

    […] CPNS Pendidikan Luar Sekolah 2012,  Mohon informasinya jika ada teman teman lain yang menamukan informasi serupa karena kami selaku admin erasa kusilitan mencari informasi tersebut entak tidak ada informasi online atau memang tidak ada untuk tahun ini Mengutip pada Terus, Kalo Gue Lulusan PLS Gue Harus Bilang Waow,Gitu!! (Part 2) […]