Winda: Satu Ikrar Satu Jiwa Bersama IMADIKLUS

0
Dibaca 779

Assalamualaikum semuanya…

Selamat siang dan selamat beristirahat, sholat atau beraktifitas yang lainnya, semoga semua teman-teman dalam keadaan yang berbahagia dan sehat walafiat, Amin.

Pertama, pada siang hari ini saya winda akan sedikit menceritakan tentang sebuah kegiatan yang membuat saya serta teman-teman termenung untuk sementara waktu. Langsung saja saya mulai ceritanya ya …

Waktu itu peristiwa dimulai pada pukul 10.30 wib, agak siang memang namun yang perlu kita pahami disini adalah kebersamaan dan kerekatan hubungan yang selama ini telah kita jalin selama 1 periode kepengurusan. Mungkin hal yang disebut kepengurusan ini kurang begitu tepat bila kita gunakan, namun kekeluargaan dan kebersamaan yang akan lebih dominan tercatat dalam pemikiran dan kenangan.

Saat itu, kita bersama membahas mengenai sesuatu yang seakan membuatku ingin mengucapkan sajak-sajak pemikiran dan penghayatan mengenai waktu yang berlalu begitu cepat dan singkat. Terkadang yang terlintas diingatan adalah saat-saat ketika derap langkah yang disertai dengan tawa canda membuat ku merenungkan tentang…

Apa yang telah ku berikan dan ku sematkan dalam diri untuk IMADIKLUS.

Sudahkah aku mengabdi dengan segenap jiwa dan ragaku untuk nya?

Tak cukup bilaku katakan dengan kata-kata… tak sanggup bila ku mengingat dan menyatakannya,…

Namun, selagi ku bisa tetap berpijak dengan kokoh dan tegap, maka aku akan dapat menyatukan diriku dengannya…

Kembali ku tersadar dari lamunan yang tak tahu kapan aku memulainya dan tiba-tiba sudah berada dalam awal pembukaan peristiwa, tentang menentukan dan menyatukan beberapa pemikiran dan pernyataan hingga membuatku terbujuk untuk terseret dalam arus yang sangat dalam dan stagnan. Namun yang ku ingat disini adalah, aku adalah bagian darinya, dan aku adalah salah satu bion yang membuat dia semakin nampak.

Kini semakin dalam ku berjalan menjauh, semakin dalam aku terjebak dalam kuatnya arus yang membuih. Sejak peristiwa yang bersejarah ini berjalan dan berlalu begitu cepat dan berporos, membuat aku merasakan kehilangan dan tertekan, kehilangan canda tawa yang menghanyutkan dan digantikan dengan rasa rapuh yang putus asa. Namun yang aku ingin lakukan kini adalah mengharapkan dan mengikrarkan diri dengan ketulusan yang kupunya untuk terus menjalin kerekatan dan keyakinan untuk terus bersatu dalam satu ikrar dan satu jiwa, bersama IMADIKLUS.

Penulis
PLS Universitas Negeri Malang
Angkatan 2015
email: igiarmasfufah@gmail.com

Dokumentasi BPH IMADIKLUS UM

Tinggalkan Balasan